Skip to main content

Keteladanan Menulis dari Imam an-Nawawi Rodhiallahu ‘anhu


“Beliau tak berhenti menulis, kecuali tangan beliau sampai kaku dan tak bisa menulis."

Siapa yang tak kenal Imam an-Nawawi Rodhiallahu ‘anhu? Beliau adalah ulama dengan semangat menulis yang mengagumkan. Dengan karya yang dihasilkan sangat tebal dan banyak, nyaris tak sebanding lama usia dan masa hidup beliau. Kitab beliau yang paling masyhur yaitu hadits Arba’in an-Nawawiyah.

Imam Nawawi memiliki nama lengkap Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Damasyqi. Adapun nama Nawawi sendiri diambil dari tempat tinggal beliau, yaitu daerah Nawa, Khauran, Damaskus Selatan. Kota Damaskus ini sekarang menjadi ibukota Negara Suriah.

Imam an-Nawawi lahir di Damaskus tahun 1233 M dan meninggal tahun 1277 M. Beliau hanya dikaruniai umur 44 tahun dan mulai menulis pada umur 30 tahun. Jumlah lembar karya tulis beliau yang ditulis dalam rentang 14 tahun, menurut peneliti riwayat hidup beliau, dapat dinyatakan berbanding antara dua lembar perhari dari jumlah umur beliau. Di mana pada zamannya, belum ada mesin yang membantunya menulis seperti komputer saat ini. Maka tak mengherankan, betapa besar semangat belajar dan menulis beliau, hal ini bisa menjadi pelecut semangat bagi penulis lainnya.

Imam an-Nawawi Rodhiallahu ‘anhu adalah sosok intelektual yang memiliki pandangan hidup bahwa waktu harus dihabiskan untuk berbuat kebaikan. Dan kebaikan itu adalah memberikan manfaat pada orang-orang yang membaca karya-karya beliau. Beberapa karya literasi beliau di antaranya: hadits Arba’in an-Nawawiyah, Riyadhus Shalihin, al-Majmu’ al-Adzkar, Syarah Sahih Muslim dan lainnya.

“Beliau tak berhenti menulis, kecuali tangan beliau sampai kaku dan tak bisa menulis”.

Pesan ini begitu menggugah. Menggambarkan betapa totalitas beliau terhadap sebuah proses belajar dan proses pembelajaran yang berkesinamabungan. Sejak usia 30 tahun beliau menulis, di mana sebelumnya beliau menghabiskan waktu untuk belajar. Dan sampai akhir hayatnya beliau meninggalkan karya-karya yang masih bisa kita nikmati sampai hari ini.

Profesi menulis ini memang luar biasa. Tak terbatas usia dan tak lekang oleh waktu. Di mana semua profesi lainnya akan berusaha memaksimalkan usia mereka untuk mengumpulkan bekal akhirat sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan penulis, ketika sudah tutup usia, karyanya masih berkelana di muka bumi, dan tetap menjadi pundi-pundi amal bagi penulisnya.

Wah, hebat bukan? Semangat ya buat para penulis. Jangan penah merasa sudah maksimal dalam menulis, sebelum Anda mencoba teladan dari Imam an-Nawawi Rodhiallahu ‘anhu... 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...