Skip to main content

Satu Setengah Jam Bersama Katsujiro Ueno

Oleh Efri S. Bahri (IDFAM 1157U)

Pagi itu saya berangkat dari rumah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke kantor naik bus umum. Motor saya simpan di penitipan motor. Alhamdulillah pagi itu, bus langsung ada. Dan saya pun dapat tempat duduk di bagian paling belakang.

Selama perjalanan saya pun bisa istirahat. Lumayan juga dengan naik bus, saya bisa istirahat selama perjalanan menuju kantor. Sesaat mau turun dari bus saya terbangun. Saya pun mengapai handpone guna melihat mana tahu ada pesan-pesan yang penting. Benar rupanya, ada sebuah pesan yang masuk. “Asslm, pak Efri yang baik, jika ada waktu pg ini merapat ke Hotel Sahid, ada kawan sy org Jepang ingin bertemu, makasih /WL@PPWI”.

Sejenak saya berpikir. Ada sms masuk tapi orangnya seperti kenal dengan saya. Maklum memang hp saya beberapa kali trouble sehingga nomor-nomor rekanan hampir semuanya hilang. Saya balik bertanya, “Maaf dg siapa nih?”. “Saya Wilson Lalengke temannya Muhammad Subhan, makasih”, jawabnya.

Pikiran saya langsung tertuju jangan-jangan ini temannya Ketum FAM Indonesia, karena namanya sama. Dan memang benar. Saya coba yakinkan lagi dengan satu pertanyaan, “Muhammad Subhan dari FAM/PPWI?”. Memang benar, “Yup, benar”, jawab Wilson yang akrab dipanggil Soni sama temannya dari Jepang tadi.

Saya ingin sekali untuk berjumpa dengan Pak Wilson dan temannya tadi. Sebab saya begitu penasaran dan tertarik ketika Pak Wilson mengatakan temannya dari Jepang itu ingin sekali ketemu dengan Perkumpulan Penulis. Namun, pagi itu saya harus segera datang ke kantor karena ada hal yang mesti segera saya kerjakan.

Saat itu saya berpikir bagaimana caranya bisa ketemu dengan tamu dari Jepang ini. Akhirnya saya pun meluncur naik taxi ke Hotel Sahid agar bisa cepat sampai. Namun, hanya selang waktu sekitar setengah jam rupanya mereka sudah tidak di tempat lagi. Saya menelpon Pak Wilson. Lewat sms ia mengabarkan bahwa ia sudah balik ke kantor dan mungkin rekannya tadi masih di tempat. Saya pun diberi nomor kontaknya. Pesan beliau, “Coba saja telpon, beliau bisa Bahasa Indonesia”, jelas Wilson.

Saya pun langsung menelepon. “Saya lagi ke toko buku. Nanti kalau mau gabung sekitar jam tiga sore. Ada Soni juga”, ungkap tamu dari Jepang yang bernama Katsujiro Ueno. Akhirnya saya balik lagi ke kantor. Saya sudah pesimis untuk bisa berjumpa beliau. Hari-hari ini agenda kerja begitu padat.

Alhamdulillah sorenya saya kontak lagi. Menjelang jam tiga sore saya kirimkan pesan kepada Pak Wilson. Saya kirim sms: “Mas, sepertinya saya nggak bisa ijin jam 3 ini. Tadi belum jadi bikin janji dengan M. Ueno. Cuma pagi tadi kalau mau ikut bisa gabung jam 3. Baru agak longgar jam 5 sore”.

Akhirnya sebelum jam 5 sore saya langsung meluncur ke Sahid. Alhamdulillah akhirnya bisa berjumpa dengan Mas Wilson alias Soni dan Mr. Katsujiro Ueno.

Pertemuan itu adalah yang pertama kali. Namun rasanya saya sudah kenal lama dengan mereka. Masing-masing kami memperkenalkan diri dan langsung terlibat dalam diskusi ringan dan dinamis. Banyak hal yang kami bicarakan. Mr. Ueno berpesan agar ada gerakan membaca di negeri ini. “Tidak mungkin negara ini akan maju kalau generasinya tidak suka membaca”, ungkap Ueno. Ia memberikan apresiasi kepada FAM Indonesia yang telah berupaya membangun budaya membaca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda. Bayangkan di usianya yang sudah 74 tahun ia begitu bersemangat untuk memberikan motivasi kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih kepada Ketum FAM Indonesia Muhammad Subhan atas rekomendasinya untuk ketemu dengan Mr. Ueno dan Mas Soni.

Foto: Efri S. Bahri bersama Wilson Lalengke (Ketum PPWI Pusat) dan Mr. Katsujiro Ueno (Sekjen Perkumpulan Persahabatan Indonesia Tochigi [PPIT]).

Comments

  1. Nasib kita bisa dikirikanankan dengan bagaimana kebiasaan setiap harinya. Ada tuju sebagai prinsipnya, dan tiga hal berikutnya most important menurut saya, yaitu
    1. Membiasakan diri untuk membaca buku selama 30 menit sehari.
    2. Menulis buku harian 10 tahun.
    3. Menginvestasi pada diri sendiri.

    Saya sangat merasa senang dapat bertemu dengan Bapak Efri bersama sahabat lama saya, yaitu Shony san. Terima kasih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...