Skip to main content

Ulasan Puisi "Ayam Jantan" Karya Eka Susanti (FAMili Tanah Datar, Sumatera Barat)

Sumber ilustrasi: penamotivasi.wordpress.com
Puisi mempunyai ruang yang begitu luas untuk dapat ditafsirkan oleh semua orang, bahkan yang paling awam sekalipun. Maka, bila suatu waktu kita menjumpai puisi semacam "Ayam Jantan" ini, mungkin akan timbul beragam penerjemahan yang menarik, sesuai dengan bagaimana kita menangkap inti dari puisi tersebut.

Nah, Tim FAM menilai puisi ini adalah puisi yang cerdas. Disusun berdasarkan pilihan diksi yang sederhana dan mudah dimengerti, akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya begitu kuat. Katakanlah kita bisa melihat ulah "ayam jantan" yang istimewa ini sebagai kondisi nyata dari tabiat para pemimpin di negeri ini. "Tengah hari yang panas" adalah masa-masa panceklik bagi mereka karena pada saat itu terjadi perebutan kursi kekuasaan. Maka, berkokoklah seperti yang dapat kita baca pada beberapa baris puisi ini.

Bait terakhir semakin menguatkan kesan bahwa tingkah berkokok ini hanyalah sekadar upaya untuk dapat meraih tujuan yang sebenarnya, yakni kursi kekuasaan. Betapa tidak? Sebab, sesudah apa yang ditujunya diraih--"sarang kebesaran"--ia akan lupa cara berkokok, atau dengan kata lain "lupa pada janjinya selama masa-masa kampanye". Ya, tengah hari yang panas itu adalah musim kanpanye.

Namun, bila kita memakai kacamata lain, bisa pula "ayam jantan" di sini adalah seorang yang mempermainkan hati perempuan, menebar janji cinta palsu, lantas dengan mudah mengkhianati. Atau jangan-jangan "ayam jantan" itu adalah kita sendiri, yang sering kali melupakan Tuhan di kala kesenangan duniawi melenakan hati kita? Mungkin tengah hari itu adalah saat Ramadhan tiba. Ibaratnya, "hanya dekat dengan Tuhan di waktu-waktu tertentu saja". Sementara, ketika kita merasa "aman", lupalah kita kepada sang pencipta.

Puisi yang menarik adalah puisi yang bisa diterjemahkan dari berbagai sudut pandang. Dan, lewat "Ayam Jantan"-nya, penulis berhasil menyajikan puisi semacam itu. Hanya saja, ada beberapa koreksi mengenai kesalahan penulisan seperti "dikala" dan "disekeliling", yang semestinya ditulis: "di kala" dan "di sekeliling". Pesan untuk penulis agar terus menulis. Tetap tebarkan nilai-nilai positif pada karya berikutnya.

Salam santun, salam karya!
Tim FAM Indonesia

[DI BAWAH INI NASKAH ASLI TANPA EDITING]

Ayam Jantan
Karya Eka Susanti IDFAM685U

Lain ceritanya dengan ayam biasa, ayam yang satu ini sungguh luar biasa
Biasanya ayam jantan berkokok di tengah kesejukan pagi hari tapi,
ayam yang satu ini berkokok dikala cuaca panas, memanggang
Ia berkokok
Membangunkan semua makhluk disekelilingnya, untuk mendapatkan pengaruh darinya.

Jika panas telah selesai, dan ia telah dapatkan sarang kebesaran diruangnya
Ia takkan berkokok lagi karena,
mungkin saja ia telah lupa dengan cara berkokok, dan akan mempelajarinya
Hingga musim panas berikutnya datang lagi.

Padang, 2011

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...