Skip to main content

Manusia dan Agama

Oleh Muhammad Subhan
Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

SUATU malam di tahun 1953, di penjara Pancurbatu, Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara), seorang pemuda tahanan bernama Bangun menangis sedu-sedan di bilik penjaranya. Bangun berasal dari Karo. Ia ditahan karena dituduh melakukan perampokan dan pembongkaran gudang seorang pedagang. Umurnya masih muda, kira-kira 25 tahun, dan dia tidak beragama (ateis).

Seorang tahanan politik bernama A. Hasjmy, kawan satu selnya, bertanya apa gerangan yang menyebabkan Bangun menangis. Dengan suara berat dan serak, Bangun menjawab: “Selama dua hari dalam tahanan, teristimewa di waktu malam, saya selalu dikejar oleh sesuatu yang saya tidak mengetahuinya, tetapi telah menguasai jiwa ragaku. Saya merasa ketakutan yang amat, tetapi kepada siapa, saya sendiri pun tidak tahu.”

“Apakah kepada kesadaran yang telah tumbuh dalam dada Saudara?” tanya A. Hasjmy.

“Memang saya telah banyak sekali berbuat kejahatan,” sambungnya lagi. “Tetapi selalu dapat saya tutupi di mata manusia, hatta di mata polisi sekalipun, berkat keahlian saya berbohong. Dalam dua hari ini, Tuan, saya merasa bahwa semua kesalahan saya itu telah diketahui oleh sesuatu yang gaib, sehingga saya dikejar-kejarnya sebagai hendak meminta pertanggungan jawab atas kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat itu. Inilah yang menyebabkan saya menangis, Tuan. Saya ingin lepas dari ketakutan yang hebat itu; dapatkah Tuan menunjuki saya jalan?”

“Saudara beragama?” tanya A. Hasjmy.

“Tidak,” jawab Bangun.

“Saudara bertuhan?” tanya A. Hasjmy lagi.

“Tidak,” jawabnya pasti.

“Nah,” ujar A. Hasjmy memberi penjelasan. “Adapun sesuatu yang Saudara rasa mengejar-mengejar Saudara dan menimbulkan ketakutan dalam hati Saudara, adalah kekuasaan dan kebesaran Tuhan, yang ilmunya meliputi semesta alam, dan kepercayaan adanya Tuhan dengan segala sifat-sifatnya, itulah sebenarnya agama.”

“Oho...!” Bangun mengeluh.

Dialog dua orang tahanan itu dicatat A. Hasjmy dalam bukunya “Surat-Surat dari Penjara” (1976). Buku itu merupakan kumpulan surat A. Hasjmy kepada putrinya bernama Dahlia yang waktu itu masih berusia 4 bulan. Dalam sejarah, A. Hasjmy dikenal sebagai seorang ulama, sastrawan dan mantan gubernur Aceh. Di masa mudanya ia ditahan dalam beberapa penjara di Sumatera Timur karena diduga ada sangkut-paut dengan DI/TII di Aceh yang dipimpin Teungku Daud Beureueh. Pemberontakan DI/TII pecah pada tanggal 20 September 1953 dan pada tanggal 23 September 1953 A. Hasjmy ditangkap, sementara di saat itu ia bertugas di Medan sebagai Wakil Kepala Jawatan Sosial. Setelah beberapa bulan di penjara dengan status tahanan politik, di saat itulah A. Hasjmy bertemu dengan pemuda Bangun, yang memiliki kasus berbeda.

Seorang ateis yang tidak mempercayai adanya Tuhan dan agama, di penjara itulah titik balik kehidupan Bangun ditemui. Atas bimbingan A. Hasjmy, Bangun insyaf bahwa dalam hidup ini dia membutuhkan agama dan Tuhan. “Sekarang, kembalilah Saudara mempelajari dan merenungkan suara hati kecil, yang menurut keterangan Saudara sangat mengganggu Saudara dalam kesunyian ini, niscaya Saudara akan mendapat jalan lepas dari ketakutan yang menyiksa jiwa Saudara.”

Sejak pertemuan dengan A. Hasjmy itu, Bangun mulai mengembara dalam dunia perenungannya. Mulailah ia menjalankan ibadah-ibadah, terutama salat dan benar-benar bertobat. Hingga suatu malam, pemuda itu datang kembali dan membangunkan A. Hasjmy dari tidurnya.

“Jalan lepas telah saya peroleh, Tuan,” ujar Bangun. Dia diam sebentar, sedangkan wajahnya menggambarkan cahaya kebenaran yang sedang mengambang dalam hatinya. Kemudian dengan suara yang pasti, ia melanjutkan: “Mulai senja tadi, Tuan, saya coba memperdalam studi tentang diri sendiri dan dunia raya ini yang penuh dengan kebaikan dan keburukan. Saya telah mendapat suatu kesimpulan, bahwa di luar dunia raya ini pasti ada sesuatu kekuatan gaib yang mengatur dan menguasai tata-hidup alam semesta ini. Mungkin kekuatan itu, ialah Tuhan yang Tuan terangkan malam kemarin, tetapi studi saya belum sampai ke situ lagi. Saya akan mengembara terus untuk mencari Tuhan, dan sekarang saya telah yakin benar-benar bahwa Tuhan pasti ada.”

Begitulah kisah tobatnya seorang pemuda bernama Bangun yang berlumuran dosa. Di penjara kesadarannya tumbuh. Mungkin itu pula perlunya penjara dibuat manusia, untuk memenjarakan segala kejahatan, kesombongan, kepongahan, hati yang keras, dilepaskan dari dunia luar yang bebas, sehingga menjadi dunia kecil yang sempit. Saat berada di penjara itu pula, terjadi perenungan-perenungan, yang merupakan bagian dari proses pencarian jati diri. Sejahat apa pun manusia, sekeras apa pun hati manusia, sesungguhnya mereka punya hati nurani yang lunak, yang jika hati itu tersentuh dan terketuk oleh pancaran cahaya Ilahi, keinsyafan akan datang menghampiri. Sebab begitulah sifat asli manusia yang pada hakikatnya mereka beragama dan bertuhan. Mereka membutuhkan bimbingan agama untuk mengenal Tuhan yang telah menciptakan segala makhluk. Lewat ajaran agama manusia dituntun untuk mengenal mana jalan yang lurus (benar) dan mana jalan yang bengkok (salah). Dalam menempuh jalan itu, yang kuat imannya tidak peduli dengan banyaknya onak dan duri, dalamnya jurang dan lembah, sebab tujuan yang mereka tempuh adalah kasih sayang Allah (keridhaan Allah). (*)

Diterbitkan di:
KORAN HARIAN METRO ANDALAS EDISI KAMIS, 16 OKTOBER 2014

Lihat Koleksi Buku-Buku Karya Anggota FAM Indonesia DI SINI.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...