![]() |
| indonwahyudin.wordpress.com |
Beberapa koreksi ada pada kata berikut ini: "sholat", "berdo'a", "nasehat", "di antarkan", "Al-Qur'an", "dikeheningan", "sholehah", "kantong", "silahkan", "mesjid", "mengetok"—yang semestinya ditulis: "salat", "berdoa", "nasihat", "diantarkan", "alqur'an", "di keheningan", "salehah", "kantung", "silakan", "masjid", "mengetuk".
Untuk menyebut kata panggilan sebagai subyek semestinya diawali dengan huruf kapital, seperti "Papa", bukan "papa". Sebab, apabila diawali dengan huruf kecil maknanya akan berbeda, yaitu sebagai obyek (benda yang dimiliki).
Saran untuk penulis teruslah berlatih. Selingi aktivitas menulis Anda dengan membaca buku-buku berkualitas.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANDA EDITING]
INDAHNYA BERSEDEKAH
Karya: Rahmi Intan (IDFAM2255M)
Seperti biasa, pagi itu, Aisyah pergi ke sekolah bersama papanya. Aisyah bersekolah di MTsN Lubsik, dia duduk di bangku kelas 1. Meskipun masih kelasm1 MTsN, tapi hatinya sangat suci, dan jiwa sosialnya sangatlah tinggi.
“Selamat pagi, Papa!” seru Aisyah sambil berjalan menuju meja makan.
“Selamat pagi juga, Nak! Ayo.. Makan! Semua makanannya papa yang buat, khusus untuk kamu,” jawab papanya Aisyah.
“Terima kasih, Pa! Papa memang baik, meskipun mama sudah tidak ada, tapi aku bersyukur punya papa.”
“Sama-sama, Nak! Kamu jangan sedih. Mama pasti sudah tenang di alam sana, jadi yang harus kamu lakukan hanyalah shalat, berdo’a, dan selalu bersedekah kepada orang yang sedang kesusahan dan yang membutuhkan” ujar papanya memberi nasehat kepada Aisyah.
“Iya, Pa! Aisyah tidak pernah lupa bersedekah, Aisyah selalu menolong orang yang sedang membutuhkan. Aisyah selalu ingat nasehat-nasehat papa.”
“Ya, sudah! Sekarang kita pergi ke sekolah, papa antarkan kamu,” ucap papanya sambil mengajak Aisyah menuju mobil.
“Baik, Pa!”
Begitulah setiap pagi, Aisyah selalu di antarkan oleh papanya ke sekolah. Setelah itu, papanya pergi ke kantor untuk bekerja. Setiba di sekolah, Aisyah langsung duduk di kursi di dalam kelasnya, dan langsung Aisyah membuka kitab suci Al-Qur’an, dan membacanya.
Dikeheningan pagi di dalam kelas, hanya ada suara merdu Aisyah yang sedang membaca Al-Qur’an, Aisyah memang terkenal anak yang rajin, sholehah, dan siswi yang teladan. Ketika Aisyah membaca Al-Qur’an, tiba-tiba Dina dan Dini datang, mereka berdua adalah teman dekat Aisyah, langkah mereka terhambat, mereka berhenti di depan pintu, lalu mendengar suara merdu Aisyah membaca Al-Qur’an.
“Masuk saja, aku sudah siap membaca Al-Qur’an,” kata Aisyah menyuruh Dina dan Dini masuk ke dalam kelas.
“Iya, Syah!”
“Ayo.. duduk di sini! Kalian berdua lihat. Di dalam Al-Qur’an ini, ada ayat yang menyatakan tentang bersedekah, Surat Al-Baqarah ayat 215 yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui,” kata Aisyah menerangkan.
“Iya, Syah! Berarti berinfak dan bersedekah itu wajib bagi kita umat Islam,” jawab Dini.
“Benar sekali, Ni! Apalagi bulan Ramadhan sudah semakin dekat, jadi kita harus banyak bersedekah,” jawab Aisyah. Begitulah Aisyah menjelaskan kepada Dina dan Dini.
Siang itu, pulang sekolah, Aisyah berdiri di depan gerbang sekolahnya menunggu papanya. Tiba-tiba, datang seorang perempuan setengah baya berpakaian lusuh, membawa sebuah kantong plastik kecil, dan menampung tangannya dengan kantong plastik meminta uang kepada Aisyah, seketika itu, Aisyah meneteskan air matanya. Di saat yang bersamaan, papanya Aisyah datang menghampiri Aisyah, dan mengajak perempuan setengah baya untuk ikut ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Aisyah mempersilahkan perempuan tersebut duduk, dan memberi makanan kepada perempuan tersebut.
“Ini, Bu, makanannya. Pasti ibu sangat lapar!”
“Terima kasih, Nak! Hatimu sangat baik sekali, semoga Allah membalas perbuatan baikmu!” jawab ibu tersebut.
“ Iya, Bu. Sama-sama! Sudah tugas aku untuk saling membantu, Bu.”
“Ibu pergi dulu, Nak!”
“Hati-hati di jalan ya, Bu!”
“Iya, Nak!”
Sore harinya, Aisyah pergi ke mesjid untuk bertemu santri-santri yang lainnya untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama, Dina dan Dini juga ikut bersama Aisyah ke mesjid. Mereka pergi bertiga ke mesjid, begitulah kegiatan mereka setiap sore harinya. Pintu rumah Aisyah terdengar ada yang mengetok, “Tok, tok, tok!”
“Silahkan, masuk!”
“Kita di sini saja, Syah. Apa kamu sudah siap untuk pergi ke mesjid? Kami sudah siap,” ujar Dina.
“Tunggu sebentar, ya. Aku ambil mukena dan Al-Qur’an dulu,” jawab Aisyah.
“Baik, Syah!”
Beberapa menit setelah itu, Aisyah muncul dan mengejutkan mereka berdua.
“Aku sudah siap. Ayo.. Kita pergi ke mesjid!”
“Kamu membuat aku kaget, Syah,” ucap Dina.
“Hehe.. Maaf, ya!”
“Tidak apa-apa, Syah. Kapan lagi kita tertawa-tawa,” ujar Dini.
“Ayo.. Cepat! Nanti kita terlambat,” jawab Aisyah.
Belum sampai di mesjid, Aisyah, Dina, dan Dini bertemu dengan seorang laki-laki tua yang berpakaian lusuh, laki-laki tua tersebut meminta sedekah kepada mereka. Lalu Aisyah, Dina, dan Dini memberi laki-laki tua tersebut uang yang ada di dalam kantong mereka semuanya. Bagi Aisyah dan teman-temannya, uang bukanlah segalanya, tapi berbagi dengan orang lain itulah segalanya.
Sepulang dari mesjid, di rumah, Aisyah menceritakan kejadian yang di alaminya selama dia di sekolah, pulang sekolah, dan terakhir pada waktu pergi ke mesjid.
“Pa! Tadi pada waktu Aisyah pergi ke mesjid, Aisyah bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sudah renta, dia meminta sedekah kepada Aisyah dan teman-teman, lalu Aisyah memberikan semua uang yang Aisyah miliki,” cerita Aisyah.
“Itu perbuatan yang sangat mulia, Nak. Kita harus memberikan hak kita kepada yang lebih membutuhkan,” jawab papanya Aisyah.
“Iya, Pa. Aisyah akan selalu bersedekah, dan membantu sesama. Apalagi sebentar lagi bulan Ramadhan, tentu lebih banyak pahala yang didapatkan. Bukan begitu, Pa?”
“”Betul sekali, Nak!”
Sejak itu, Aisyah tidak pernah lupa untuk bersedekah. Baginya sedekah itu sangat indah dan banyak manfaatnya, selain menambah pahala, juga bisa memperkaya diri dengan perbuatan baik, dan tidak merusak harta, justru akan menambah harta, karena Allah selalu memberikan rezeki yang berlimpah kepada umatnya yang mau bersedekah. (*)
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Comments
Post a Comment