Skip to main content

Mesin Cuci


Aliya Nurlela

                “Pah, udah musim hujan lagi nih,” ujar Rina pada suaminya yang baru saja pulang kerja. Anton menoleh sambil melepas sepatu, melihat wajah cemas istrinya.
            “Kenapa Ma? Musim hujan dan kemarau terjadi setiap tahun selama bertahun-tahun kita hidup. Bukankah itu biasa?”
            Rina cemberut.
            “Aduh Papa, enggak usah berpuisi deh. Ini serius.”
            “Hmmm...Papa juga serius, Ma. Musim hujan akan selalu ada setelah pergi musim kemarau. Atau Mama cemas Papa telat pulang kerja gara-gara hujan?” Anton belum paham benar kecemasan Rina.
            Rina cemberut lagi.
            “Bukan itu, Pa. Lihat tuh cucian baju di rumah ini segunung. Belum lagi yang dicuci kemarin enggak kering-kering. Mama pusing, Pa.” Rina menunjuk ke bak cucian yang berisi tumpukan baju-baju kotor. Spontan Anton pun menoleh ke bak cucian yang ditunjuk istrinya. Menghela napas sejenak.
            “Iya, Papa sudah lihat. Mama kalau nyuci jangan sekaligus, dicicil saja, biar tangan Mama tidak payah,” jawab Anton memberi solusi seraya menarik handuk di sampiran dan berlalu menuju kamar mandi. Bibir Rina melipat dengan pipi menggelembung, pertanda kecewa dengan jawaban suaminya. Sebenarnya bukan itu jawaban yang ia inginkan. Jawaban yang diharapkan meluncur dari mulut Anton, “jangan khawatir, besok Papa belikan mesin cuci ya, biar Mama tidak capek.”
            Keesokan harinya, sepulang Anton kerja. Rina sudah berdiri seperti kemarin di depan jendela kaca sambil menatap ke luar ruangan. Seperti biasa, Anton pun duduk di kursi sebelah jendela kaca itu, melepas sepatu, dasi dan meletakkan tas kerjanya.
            “Pa, Bu Gesti baru saja dibelikan mesin cuci oleh suaminya. Tadi Mama lihat mesin cucinya diantar,” ujar Rina membuka pembicaraan. Anton melirik sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan pada sepatu yang belum sepenuhnya terlepas.
            “Pasti sekarang cucian di rumah Bu Gesti tidak menumpuk lagi. Bu Gesti juga tidak capek-capek nyuci pakai tangan. Hujan enggak masalah bagi dia,” ujar Rina lagi. Anton menoleh ke luar jendela kaca, seolah memastikan benda apa yang dilihat istrinya. Tapi di luar ruangan itu tak ada sesuatu yang istimewa. Tak ada Bu Gesti dengan mesin cuci barunya.
            “Satu masalah di rumah Bu Gesti sudah tersolusi, Pa.” Rina terus bicara tanpa menghiraukan keheranan suaminya.
            “Syukurlah kalau Bu Gesti dan keluarganya bisa seperti itu,” timpal Anton sambil berjingkat hendak menyimpan sepatu di rak. Rina menghalangi langkah kaki Anton dan menatapnya dalam.
            “Papa pilih mana, beli mesin cuci atau tangan Mama kepayahan?!” tanya Rina seolah menodong. Anton mengerutkan kening. Ia sudah paham benar sifat istrinya, yang gampang mengeluhkan hal-hal kecil, mudah terpengaruh barang-barang yang dibeli tetangga dan mudah menodong jika keinginannya tak segera dipenuhi. Anton terdiam sejenak. Ia tidak ingin salah langkah dalam memberi jawaban. Pengalaman yang sudah-sudah menjadi catatan baginya, untuk hati-hati menjawab.
            “Apa selama ini Mama kepayahan? Mulai besok biar Papa yang cuci baju ya,” jawab Anton tanpa beban sambil meninggalkan istrinya yang cemberut. Rina menghentakkan kakinya di lantai. Bukan itu jawaban yang ia mau, tapi jawaban yang lebih jelas seperti yang diterima Bu Gesti. Akibatnya, Rina lebih banyak cemberut, tak mau menyapa Anton dan tidur pun membelakangi suaminya. Anton maklum itu, sudah sangat paham sifat istrinya.
            Keesokan hari, Anton mencuci semua pakaian kotor sebelum berangkat kerja. Cucian yang menggunung itu, selesai dicucinya dalam waktu satu jam. Itu pun tidak berulangkali diperas. Anton hanya mencuci sesuai caranya saja. Entah masih menyisakan busa sabun atau tidak, yang pasti Anton lega bisa menyolusi urusan pelik di rumah. Namun, Rina masih tetap cemberut, membuat Anton serba salah. Begini salah, begitu salah, lalu harus bagaimana?
***
            “Lihat, Pa. Ada orang ngantar mesin cuci baru!” Rina terpekik riang dengan wajah berbinar-binar.
            “Aduuh...Papa memang hebat, ngerti betul keinginan Mama. Papa sih kemarin-kemarin pakai bohongi Mama segala, jadinya Mama sewot. Kalau tahu Papa mau ngasih kejutan kayak gini, pasti Mama udah masak spesial untuk Papa.” Rina menyikut sayang perut suaminya. Anton hanya bengong, tak paham dengan apa yang terjadi.
            “Ih, Papa kelihatan ganteng deh kalau bengong begitu. Makasih ya Pa, sudah beliin Mama mesin cuci. Itu artinya, sejak hari ini cucian numpuk bukan masalah lagi. Mama beresin semuanya. Papa bisa ngantor dengan tenang. Iya kan, Pa?” Rina kembali menyenggol perut suaminya sambil mengedipkan satu mata. Anton gelagapan.
            “Iii...yaa, Ma,” jawabnya gugup.
            “Ah, Papa tingkahnya seperti menunggu istri melahirkan, pakai gugup segala. Biasa aja, Pa! Papa tuh hebat udah menjawab permintaan Mama. Lebih hebat dari suami Bu Gesti. Tuh lihat mesin cuci yang Papa beli, lebih bagus. Makasih Papa sayang. Mama coba dulu ya mesin cucinya.” Rina makin bertingkah riang dan senyumnya tak henti mengembang.
Sementara Anton garu-garuk kepala tak gatal, tapi tak bisa banyak komentar. Melihat istrinya senang dan suaranya keluar lagi, sudah lumayan memulihkan kondisi hubungan dalam rumah tangga mereka. Maklum berhari-hari Rina puasa bicara, kalaupun bicara pasti sewot. Hanya gara-gara soal mesin cuci. Tentu saja kedatangan mesin cuci mahal ke rumah ini, bisa meredakan ketegangan, sebab itu yang diinginkan Rina sesungguhnya.
Kalau ditaksir harga, mesin cuci itu kisaran  9 jutaan. Kapasitas cucian bisa menampung 7,5 kilogram pakaian, bukan hanya cocok untuk keluarga besar tapi bisa juga dipakai usaha laundry. Suaranya pelan dan tampilan elegan. Memakai tekhnologi front loading yang mampu menyesuaikan waktu mencuci, pemakaian air, putaran tabung dan penggunaan listrik dengan baik. Anton berdecak, geleng-geleng kepala, lalu menelan ludah. Pahit! Tapi demi melihat wajah cerah istrinya, ia menenangkan diri. Rina tak pernah seceria ini. Bukan hanya semangat nyuci tapi pekerjaan lain pun dikerjakan dengan riang dan maksimal. Beres semua! Ternyata, efek dari jawaban satu masalah, positifnya menjalar ke urusan lain. Satu sisi perasaan Anton tenang, tapi di sisi lain ia gelisah, bahkan setengah bingung.
***
“Pa, kenapa mesin cuci kita??!!” tanya Rina tercekat dengan suara pelan. Di depan matanya, dua orang lelaki yang seminggu lalu mengantar mesin cuci itu sedang berusaha menaikan mesin cucinya ke atas pick-up.  Rina yang baru pulang belanja dari pasar,  heran dan setengah shock. Sementara Anton yang berada di rumah dan melayani kedua orang itu, tak bisa berkata apa-apa. Anton berdiri mematung dengan mata berair.
“Kenapa, Pa? Apa Papa belinya nyicil dan belum lunas?!” ujar Rina sambil menjatuhkan keranjang belanja. Lidah Anton kelu, tapi ia berusaha menenangkan diri. Segenap perasaan dikerahkan untuk menjelaskan pada Rina. Ia mendekat pada istrinya, memegang bahunya dan menatap dua bola matanya yang diliputi sejuta tanya.
“Maafkan Papa, Ma. Papa tidak pernah beli mesin cuci itu, harganya mahal dan Papa belum sanggup membelinya. Itu mesin cuci milik pengusaha laundry kampung sebelah yang salah kirim.” Suara Anton begitu berat. Rina terperangah, kaget, setengah menggigil. Anton mengusap kedua bahu istrinya. Rina tertunduk dan air matanya jatuh.
Di sinilah ketulusan cinta keduanya akan diuji. Anton menghela napas, menatap langit dan berharap musim kemarau segera tiba. []
*)Aliya Nurlela, Novelis dan Pegiat FAM Indonesia. Beberapa cerpennya sudah terbit di berbagai media massa.

Keterangan: terbit di Majalah Mayara, edisi 169, September 2016. 

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...