Dalam waktu-waktu tertentu, adakalanya kita rindu dengan
‘masalalu’ hingga kita berusaha mengotak-atiknya, mencoba bersua kembali, tapi
adapula yang sedang menempa diri untuk melupanya. Tak ada salah tentang sikap
kita terhadap ‘masalalu’, karena setiap orang punya kisah yang berbeda mesti
intinya hanya dua, manis yang pantas untuk dikenang serta getir sehingga perlu
dilupa namun justru mendewasakan pikir dalam bersikap.
Lalu, bagaimana melalui pahitnya masa lalu yang kerap
menghalau diri untuk melaju?
Faktanya, banyak cara dipilih meski kadang cara itu
kurang baik. Namun, meski masa lalu kita tak manis, bukankah lebih baik kita
coba jadikannya legit?
Mungkin terdengar terlalu teoritis. Tapi hidupmu bukankah
lebih utama?
1. Berdamailah
dengan masa lalu.
“Aku pernah percaya padanya dan
ternyata dia tak pernah menghargainya”. “Aku tak mau bersua dengannya. Titik!”
dan berjuta kalimat pilu lainnya.
Pernah mendengar pepatah, kau harus jatuh
dulu sebelum mendaki lagi ke puncak? Mungkin itu yang Tuhan inginkan dari kita.
Sebelum mendapatkan yang superior, kita perlu latihan kesabaran, kesetiaan,
ikhlas, tulus, serta tangguh.
2. Tarik
napasmu dalam-dalam dan
katakan, “Tuhan, Aku ikhlas”.
Kalimat ini mungkin terdengar klise. Tapi
kau akan mendapat semangat berlipat seusai mengucapkannya. Yang perlu kau
tanamkan dalam hatimu adalah merelakan. Tak mudah, butuh waktu, pasti. Tapi
percayalah kau bisa.
3. Aktif
kembangkan passion-mu.
Karena pernah terfokus pada suatu hal
ataupun saat ingatan masa lalumu mencuat, mungkin akan timbul perasaan malas
atau jenuh. Ayo, hapus rasa itu. Kau pasti punya kegemaran tertentu, misal
berenang, membaca, belanja, menulis, atau sekadar
nongkrong di kafe. Selain akan mengalihkan pikiranmu
dari bayang-bayang masa lalu, bisa jadi kau akan mendapat kenalan baru,
inspirasi, atau hiburan yang menyenangkan.
Sekali lagi, seperti saat kau punya keinginan menuju
tingkat atas sebuah gedung.
Kau harus berjalan perlahan melewati anak-anak tangga ataupun menunggu sekian
waktu saat menggunakan lift. Tak ada proses yang instan. Namun, anggaplah ini
proses pendewasaanmu dan pasti merupakan skenario indah dari Tuhan untukmu.
Hadapi, lalui, dan perkuat jati diri! Have a happy times. */ern
*)Erina
Budi Purwantiningsih lahir di Kediri, 18 November 1997. Dan kini sedang
menempuh pendidikan di Kampus 3 Universitas Negeri Malang Prodi PGSD tahun
kedua. Beberapa karyanya penah dibukukan.
Sumber
foto: google

Comments
Post a Comment