Skip to main content

Menyikapi Manis dan Getir Masalalu


Dalam waktu-waktu tertentu, adakalanya kita rindu dengan ‘masalalu’ hingga kita berusaha mengotak-atiknya, mencoba bersua kembali, tapi adapula yang sedang menempa diri untuk melupanya. Tak ada salah tentang sikap kita terhadap ‘masalalu’, karena setiap orang punya kisah yang berbeda mesti intinya hanya dua, manis yang pantas untuk dikenang serta getir sehingga perlu dilupa namun justru mendewasakan pikir dalam bersikap.

Lalu, bagaimana melalui pahitnya masa lalu yang kerap menghalau diri untuk melaju?
Faktanya, banyak cara dipilih meski kadang cara itu kurang baik. Namun, meski masa lalu kita tak manis, bukankah lebih baik kita coba jadikannya legit?

Mungkin terdengar terlalu teoritis. Tapi hidupmu bukankah lebih utama?

1.      Berdamailah dengan masa lalu.

 “Aku pernah percaya padanya dan ternyata dia tak pernah menghargainya”. “Aku tak mau bersua dengannya. Titik!” dan berjuta kalimat pilu lainnya.

Pernah mendengar pepatah, kau harus jatuh dulu sebelum mendaki lagi ke puncak? Mungkin itu yang Tuhan inginkan dari kita. Sebelum mendapatkan yang superior, kita perlu latihan kesabaran, kesetiaan, ikhlas, tulus, serta tangguh.

2.      Tarik napasmu dalam-dalam dan katakan, “Tuhan, Aku ikhlas”.

Kalimat ini mungkin terdengar klise. Tapi kau akan mendapat semangat berlipat seusai mengucapkannya. Yang perlu kau tanamkan dalam hatimu adalah merelakan. Tak mudah, butuh waktu, pasti. Tapi percayalah kau bisa.

3.      Aktif kembangkan passion-mu.

Karena pernah terfokus pada suatu hal ataupun saat ingatan masa lalumu mencuat, mungkin akan timbul perasaan malas atau jenuh. Ayo, hapus rasa itu. Kau pasti punya kegemaran tertentu, misal berenang, membaca, belanja, menulis, atau sekadar nongkrong di kafe. Selain akan mengalihkan pikiranmu dari bayang-bayang masa lalu, bisa jadi kau akan mendapat kenalan baru, inspirasi, atau hiburan yang menyenangkan.

Sekali lagi, seperti saat kau punya keinginan menuju tingkat atas sebuah gedung. Kau harus berjalan perlahan melewati anak-anak tangga ataupun menunggu sekian waktu saat menggunakan lift. Tak ada proses yang instan. Namun, anggaplah ini proses pendewasaanmu dan pasti merupakan skenario indah dari Tuhan untukmu. Hadapi, lalui, dan perkuat jati diri! Have a happy times. */ern

*)Erina Budi Purwantiningsih lahir di Kediri, 18 November 1997. Dan kini sedang menempuh pendidikan di Kampus 3 Universitas Negeri Malang Prodi PGSD tahun kedua. Beberapa karyanya penah dibukukan.  
Sumber foto: google

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...