Skip to main content

Yuk, Budayakan Menulis Setiap Hari


Berbicara tentang menulis. Tentu akan selalu berhubungan dengan rangkaian kata-kata yang tersusun secara sistematis. Baik dalam hal menulis fiksi maupun nonfiksi. Jika memang ingin menjadi seorang penulis. Jangan pernah meninggalkan media tulismu. Mengapa demikian? Pertanyaan ini sering terdengar di kalangan pemula literasi. Sebenarnya ada pepatah yang sering muncul “Ala bisa karena terbiasa” dan “Pisau tajam karena selalu diasah”. Begitulah sekilas pepatah yang sering bermunculan.

Pepatah tersebut sangat manjur dan diwariskan secara turun-temurun melalui lisan. Dengan tujuan memberikan gambaran pada generasi berikutnya, bahwa jika ingin dapat memahami sesuatu maka harus mempelajari dan mengasahnya setiap hari dan jangan pernah meninggalkannya walau sehari pun. Ada beberapa orang yang mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata benar dan tentu pepatah tersebut akan terbukti kebenarannya.

Begitu juga dengan menulis. Suka dan tertarik dengan dunia kepenulisan. Namun, jarang untuk menulis dengan alasan tidak ada mood dan berbagai alasan lainnya sehingga tidak bisa menyempatkan waktu untuk menulis walau satu paragraf saja. Seharusnya budaya menulis tersebut harus sudah tersemai dalam diri seseorang. Bila memang terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Carilah waktu luang kapan dan di mana saja. Jadikan menulis sebagai makanan yang harus diserap setiap hari.

Makanan adalah nutrisi yang harus dikonsumsi setiap hari oleh seluruh makhluk hidup agar tidak mengalami rasa lapar sedangkan menulis adalah nutrisi yang perlu diserap setiap hari agar tidak mengalami kehilangan ide atau inspirasi. Kedua hal tersebut mempunyai peran penting bagi kehidupan. Bayangkan jika sehari saja tidak makan pasti akan lemas dan hilang semangat. Sama halnya dengan menulis, bila sehari saja tidak menulis pasti satu persatu inspirasi akan lenyap bahkan hilang tak berbekas. Oleh karena itu, budayakan kebiasaan menulis setiap hari walau hanya satu paragraf saja.

Satu pelajaran berharga yang terus menerus terdengar dan sangat fenomenal. “Teruslah menulis dan jangan berhenti menulis walau hanya satu hari”. Memang terdengar singkat dan tidak ada maknanya. Namun jika diuji kebenarannya ternyata sangat berpengaruh dalam hal menulis. Menumbuhkan semangat menulis dimulai dalam pribadi masing-masing. Sesuatu yang menjadi kebiasaan pasti akan dilakukan setiap hari. Jadikan menulis sebagai kebiasaanmu dan tentu budaya menulis akan terpatri dalam jiwa dan akan mengalir dalam setiap aksaramu.

Ada beberapa tips ringan untuk meningkatkan budaya menulis:

1.       Tumbuhkan dulu minat menulis agar bisa menulis setiap hari.

2.        Jika ada waktu luang manfaatkan sebaik mungkin dengan menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran.

3.        Seringlah membaca buku yang berhubungan dengan motivasi menulis.

4.        Biasakan sebelum tidur untuk menulis. Jika memang tidak ada inspirasi tulis saja kesibukan yang telah dilalui setiap hari.

5.        Intinya menulis. Mau bagus atau tidak. Tetap menulis.
  
Beberapa tips di atas semoga bermanfaat bagi semua penikmat literasi. Coba terapkan dan rasakan perubahannya. Dalam waktu yang singkat, persoalan menulis yang melanda akan hilang secara bertahap. Bandingkan tulisanmu setiap hari. Tentu akan banyak perbedaan yang akan didapatkan. Mulai dari kosakatanya yang semakin meningkat juga dari segi penulisannya yang semakin hari kalimatnya semakin koheren atau berhubungan.

Teruslah belajar dan belajar karena menulis tidak akan ada habisnya. Ilmu dalam menulis juga tidak ada batasannya. Selalu ingat dan terapkan, budaya menulis dimulai dalam diri sendiri. Lakukan perubahan jika memang ingin jadi penulis.

“Goreskan penamu dalam secarik kertas bisu yang akan melambungkan nama dan impianmu”. Selamat membaca sahabat semua, mudah-mudahan bermanfaat dan bisa dijadikan semangat untuk menulis lebih baik ke depannya.

*) Latifah Hanum. Pemilik hobi membaca dan menulis ini adalah anak bungsu dari empat bersaudara yang tinggal di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Ia sedang menempuh pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe dan baru masuk semester empat. Ia suka menulis semenjak masuk Sekolah Dasar dan sampai sekarang masih terus menulis. Ia sering mengikuti lomba dan ada beberapa karyanya yang telah diterbitkan dalam buku antologi bersama. Jika ingin bertutur sapa dengannya dapat dihubungi melalui instagram @arra_latifahanum atau melalui email hanumlatif0@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...