Puisi ini pada dasarnya bertujuan untuk mengingatkan kita kepada kematian. Takdir kematian seseorang memang tidak ada yang tahu selain Tuhan. Maka, apakah manusia masih akan terus berbuat kerusakan di muka bumi?
Satu contoh kerusakan yang diangkat oleh penulis dalam puisi ini adalah masalah kesenjangan sosial. Orang sering kali lupa siapa dan untuk apa mereka hidup. Orang sering kali lupa bahwa kekayaan adalah titipan dari Tuhan. Namun, lihatlah, di tengah kelaparan yang menyerang sebagian manusia lemah, orang-orang kaya yang buta justru menghambur-hamburkan kekayaan mereka untuk sesuatu yang sia-sia. Lihatlah lagi, apakah mereka sudah benar-benar bertanya kepada manusia-manusia lemah itu, "Sudahkah kalian sarapan?"
Roda terus berputar adalah keadaan dari hidup yang tak terduga. Boleh jadi hari ini seseorang berkuasa, kaya raya, dan segala bentuk kehebatan sebagai manusia besar ia miliki. Namun siapa dapat mengira kalau besok segala yang ia miliki itu akan hilang sekejap mata? Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil, untuk memutarbalikkan keadaan suatu kaum.
Puisi ini mengandung banyak nilai pencerahan, di antaranya: mengingatkan kita kepada kematian, menarik kita untuk melihat ke bawah, serta mengajak melihat dari sisi kebaikan, betapa kelebihan yang Tuhan beri adalah sebentuk ujian bagi manusia.
Beberapa koreksi dari Tim FAM, ada pada EYD. "Jadi lah" harusnya "jadilah", "simak lah" harusnya "simaklah", "tahu lah" harusnya "tahulah", "apa lah" harusnya "apalah", dan "kau lah" harusnya "kaulah".
Kemudian "diderumnya", mungkin maksud penulis adalah "di dentumnya". "Dugem" baiknya diketik dengan huruf miring, karena bukan merupakan bahasa baku. "Ramun" yang benar adalah "ranum".
"Dikolong" yang benar "di kolong", "disepinya" yang benar "di sepinya", "diujung" yang benar "di ujung", serta "dijalan" yang benar adalah "di jalan". "Kan" semestinya ditulis "'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum huruf K). Terakhir, "jalan lurus-Mu" yang benar adalah "jalan lurusMu".
Baik, teruslah berkarya. Tetap cerahkan dunia lewat tulisan.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Roda kan Terus Berputar
Oleh Yudi Rahmat ID FAM1880U
Jalanan bisu di ramai senja
kelopak mata sendu menatap asa
hujan rinai – rinai menari-nari di aspal hitam
memeluk hampa di ujung khayal
ramai memang ramai
apa daya langit seolah enggan menyapa
ketidakpedulian menjadi asa
kau tak mampu jadi lah penonton
simak lah orang berpamer-pamer kemewahan
makan minum cebok di hotel berbintang
cekakak-cekikik di baunya alkohol
diderumnya musik dugem
menjilati perawan-perawan muda nan ramun
kau tahu lah siapa mereka !
anggota dewan ? politikus ? pengusaha ?
apa lah peduli saya
makan minum nemu bersyarat keringat
apa peduli saya
tidur mewah dikolong jembatan
apakah keadilan itu?
jalan terus berputar merintangi waktu dalam zaman
hari ini berjaya apa lah esok yang kita tahu
bermewahan-bermewahan telah melalaikanmu dari
mengingat Allah ! Naudzubillah !
mati berkalang tanah,siapa teman kau?
roda pasti kan terus berputar
dunia fana sementara saja
amalan kita bertumpuk kita harus gapai di dunia
bekal akhirat kelak ,semua akan pertanggungjawabannya
ramainya jalanan disepinya orang-orang mengingat Allah
wis orang miskin jangan protes!Ahahahahaha..!nyinyir sekali.
roda kan terus berputar!
manfaatkan waktu senggang dan waktu sehatmu
esok,hari ini, kapan kita mati apa siapa tahu
jalanan aspal masih hitam ditimpa rinai hujan
terpekur diujung comberan got berbau
Ya Rabb!
jangan jadikan kefakiran menjadikan kekafiran
Kau lah segalanya, Kau lah Rabb kami
tuntunlah kami dijalan lurus-Mu
Aamiin.
Cilegon,19 Agustus 2013/Salam santun!
Sumber ilustrasi: tulisannda.wordpress.com
Satu contoh kerusakan yang diangkat oleh penulis dalam puisi ini adalah masalah kesenjangan sosial. Orang sering kali lupa siapa dan untuk apa mereka hidup. Orang sering kali lupa bahwa kekayaan adalah titipan dari Tuhan. Namun, lihatlah, di tengah kelaparan yang menyerang sebagian manusia lemah, orang-orang kaya yang buta justru menghambur-hamburkan kekayaan mereka untuk sesuatu yang sia-sia. Lihatlah lagi, apakah mereka sudah benar-benar bertanya kepada manusia-manusia lemah itu, "Sudahkah kalian sarapan?"
Roda terus berputar adalah keadaan dari hidup yang tak terduga. Boleh jadi hari ini seseorang berkuasa, kaya raya, dan segala bentuk kehebatan sebagai manusia besar ia miliki. Namun siapa dapat mengira kalau besok segala yang ia miliki itu akan hilang sekejap mata? Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil, untuk memutarbalikkan keadaan suatu kaum.
Puisi ini mengandung banyak nilai pencerahan, di antaranya: mengingatkan kita kepada kematian, menarik kita untuk melihat ke bawah, serta mengajak melihat dari sisi kebaikan, betapa kelebihan yang Tuhan beri adalah sebentuk ujian bagi manusia.
Beberapa koreksi dari Tim FAM, ada pada EYD. "Jadi lah" harusnya "jadilah", "simak lah" harusnya "simaklah", "tahu lah" harusnya "tahulah", "apa lah" harusnya "apalah", dan "kau lah" harusnya "kaulah".
Kemudian "diderumnya", mungkin maksud penulis adalah "di dentumnya". "Dugem" baiknya diketik dengan huruf miring, karena bukan merupakan bahasa baku. "Ramun" yang benar adalah "ranum".
"Dikolong" yang benar "di kolong", "disepinya" yang benar "di sepinya", "diujung" yang benar "di ujung", serta "dijalan" yang benar adalah "di jalan". "Kan" semestinya ditulis "'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum huruf K). Terakhir, "jalan lurus-Mu" yang benar adalah "jalan lurusMu".
Baik, teruslah berkarya. Tetap cerahkan dunia lewat tulisan.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Roda kan Terus Berputar
Oleh Yudi Rahmat ID FAM1880U
Jalanan bisu di ramai senja
kelopak mata sendu menatap asa
hujan rinai – rinai menari-nari di aspal hitam
memeluk hampa di ujung khayal
ramai memang ramai
apa daya langit seolah enggan menyapa
ketidakpedulian menjadi asa
kau tak mampu jadi lah penonton
simak lah orang berpamer-pamer kemewahan
makan minum cebok di hotel berbintang
cekakak-cekikik di baunya alkohol
diderumnya musik dugem
menjilati perawan-perawan muda nan ramun
kau tahu lah siapa mereka !
anggota dewan ? politikus ? pengusaha ?
apa lah peduli saya
makan minum nemu bersyarat keringat
apa peduli saya
tidur mewah dikolong jembatan
apakah keadilan itu?
jalan terus berputar merintangi waktu dalam zaman
hari ini berjaya apa lah esok yang kita tahu
bermewahan-bermewahan telah melalaikanmu dari
mengingat Allah ! Naudzubillah !
mati berkalang tanah,siapa teman kau?
roda pasti kan terus berputar
dunia fana sementara saja
amalan kita bertumpuk kita harus gapai di dunia
bekal akhirat kelak ,semua akan pertanggungjawabannya
ramainya jalanan disepinya orang-orang mengingat Allah
wis orang miskin jangan protes!Ahahahahaha..!nyinyir sekali.
roda kan terus berputar!
manfaatkan waktu senggang dan waktu sehatmu
esok,hari ini, kapan kita mati apa siapa tahu
jalanan aspal masih hitam ditimpa rinai hujan
terpekur diujung comberan got berbau
Ya Rabb!
jangan jadikan kefakiran menjadikan kekafiran
Kau lah segalanya, Kau lah Rabb kami
tuntunlah kami dijalan lurus-Mu
Aamiin.
Cilegon,19 Agustus 2013/Salam santun!
Sumber ilustrasi: tulisannda.wordpress.com

Comments
Post a Comment