Denis teguh ingin menikahi
Fuji yang hamil di luar nikah dengan pemuda lain. Pak Aryo, orangtua Denis,
mencegahnya. Tetapi, apa mau dikata? Cinta sudah buta. Denis akhirnya kawin
lari dengan Fuji.
Anak di dalam kandungan
Fuji akhirnya lahir dan diberi nama Alif. Namun, belum genap setahun, setelah
pekerjaan baik Denis dapatkan, justru istrinya berselingkuh. Fuji pun dicerai.
Perceraian itu membuatnya harus membesarkan Alif, bayi yang bukan anak
kandungnya itu, seorang diri. Meski begitu, Denis tetap menganggap Alif buah
hatinya.
Waktu berlalu, Bu Guru
Nabil hadir di kehidupan Alif kecil. Anak itu menyukai sang guru hingga
kemudian meminta ayahnya menikahinya. Sayang, pada bagian ini, terlalu kentara
bahwa penulis menyingkat momen penting antara gelapnya sosok Nabil di mata
pembaca dengan kebingungan Denis mengutarkan maksud hati sang anak kepada guru
itu. Dengan kata lain, tahu-tahu mereka sudah menikah.
Tentu saja, setiap cerita
adalah kebebasan penulis untuk membuatnya. Di akhir cerita, Denis yang lari
dari Pak Aryo, kembali menemui ayahnya itu dan meminta maaf. Happy ending,
begitulah cerpen ini ditulis. Dari segi pesan, cerpen ini cukup bagus. Hanya
saja, soal penyajian, Tim FAM menyarankan agar penulis dapat lebih
mengembangkannya lagi. Jangan berhenti menulis. Terus berlatih dan asah
kemampuan bercerita Anda.
Bisa kita lihat di
paragraf pertama saja, ada kalimat yang terkesan membingungkan. Kalimat
tersebut ditulis demikian:
"Tanpa melepas hanger yang terpasang pada semua baju
kemeja – kemeja dan bermerknya dan jeans favoritnya, Ia masukkan semuanya ke
dalam box beroda kecil dengan merk
GUCCI, brand ternama asal Itali
itu."
Bukankah kalimat tersebut
terkesan boros dan agak membingungkan? Andai penulis lebih teliti, bisa
dirapikan menjadi seperti ini:
"Tanpa melepas hanger yang terpasang pada kemeja-kemeja
bermerk dan jeans favoritnya, ia masukkan semuanya ke dalam box beroda
kecil dengan merk GUCCI, brand ternama asal Itali itu."
Setelah dirapikan, bukankah
membacanya lebih nyaman? Di beberapa bagian cerpen ini juga ditemukan banyak
kesalahan ketik dan kekurangrapian, mulai dari tanda baca, penggunaan huruf
kapital, dan EYD.
Kata "satu
persatu", "disekolah", "disana", "diatas",
"disitu", "dimana", "dirumah",
"dihati", "di tinggal", "tak satupun", dan
"sedikitpun" mestinya ditulis: "satu per satu", "di
sekolah", "di sana", "di atas", "di situ",
"di mana", "di rumah", "di hati",
"ditinggal" (gabung), "tak satu pun", dan "sedikit
pun".
Penulisan "di-"
untuk keterangan tempat dan waktu itu wajib terpisah dari kata sesudahnya
(contoh: di rumah, di mana, di sana, dll). Sedangkan "di-" untuk kata
kerja pasif selalu digabung dengan kata sesudahnya (contoh: dipukul, didatangi,
"dimakan", dll). Sementara, partikel "pun" akan selalu
terpisah dengan kata sebelumnya kecuali dua belas kata berikut:
"adapun", "ataupun", "biarpun",
"begitupun", "kendatipun", "meskipun",
"maupun", "walaupun", "sekalipun",
"bagaimanapun", "sungguhpun", dan "kalaupun".
Kata-kata yang bukan
bahasa baku seperti "maafin", "udah", "gak",
"ngelamunin", "banget", "pake",
"emang", "pingin", semestinya diketik dengan huruf miring.
Dalam beberapa penulisan, aturan ini tidak selalu wajib. Namun Tim FAM
menyarankan Anda memakai aturan ini, sebab tulisan akan lebih rapi dengan
dibedakannya antara bahasa baku, daerah, asing, dan bahasa gaul.
Penggunaan huruf kapital
yang tidak tepat sering kita jumpai pada kata "Ia", yang seharusnya
ditulis "ia" ('i' huruf kecil), karena letaknya bukan di awal
kalimat. Penulisan kata panggilan "pak", "nak",
"mama", "papa", "ayah", "abang", atau
"bang" yang benar diawali huruf kapital, kecuali bila di antara
kata-kata tersebut difungsikan sebagai kata panggilan untuk obyek (terkait
kepemilikan, seperti misalnya: "mamaku", "abangku",
"ayahnya", "ibunya", dan lain sebagainya).
Saran untuk penulis agar
teruslah menulis. Imbangi aktivitas menulis dengan membaca. Dan ingat, penulis
yang baik adalah penulis yang menjadi editor pertama bagi tulisannya. Koresi
kembali tulisan Anda dengan teliti, berulang-ulang, untuk mengurangi kesalahan
ketik. Bukankah jika tulisan baik serta disajikan dengan rapi, akan membuat
pembaca merasa nyaman? Membuat pembaca senang, otomatis penulis pun juga senang
karena tulisan Anda akan selalu ditunggu oleh mereka.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[Berikut Naskah Asli
Penulis Tanpa Editing]
SISA CINTA UNTUK DENIS
Eka Fitriani (ID FAM3095U)
Bagian tengah pada Lemari sliding bergaya minimalis, berpola
bendera Amerika di kamarnya itu secepat kilat kosong. Tanpa melepas hanger yang terpasang pada semua baju
kemeja – kemeja dan bermerknya dan jeans favoritnya, Ia masukkan semuanya ke
dalam box beroda kecil dengan merk
GUCCI, brand ternama asal Itali itu.
Dengan mata yang berkaca – kaca, diseretnya box
itu keluar dari kamar. Tak ada yang bisa menghalangi niatnya termasuk
orangtuanya untuk menikahi Fuji, gadis tercintanya yang tengah hamil.
Langit mendung, petir
bersahutan. Pertanda hujan akan turun. Dilihatnya pak Aryo berada tepat di
depan pintu kamarnya.
“Prakkkk!!! Prakkkk!!”
Dengan sadis pak Aryo
melayangkan tamparan demi tamparan ke pipi kiri dan kanan Denis, putra tunggal
yang sangat ia sayangi itu.
Tidak perlu menunggu lama,
terlihat warna memerah di kedua pipi putih Denis. Dinikmatinya rasa panas bekas
tamparan papanya itu. Ini pertama kalinya pak Aryo menamparnya. Dengan mata
berkaca – kaca, Ia tatap wajah pak Aryo dengan nanar. Denis sama sekali tak
menyangka papa yang selama ini dikenalnya penuh kasih sayang itu bisa berubah
menjadi sadis.
“Maafin Denis, Pa, niat
Denis menikahi Fuji sudah bulat. Denis sayang Fuji, Pa...!” dengan wajah
memelas, Denis menangis rintih, sambil berusaha meraih jemari tangan kanan pak
Aryo.
“Tapi bukan kamu ayah dari
anak di kandungan gadis itu, nak..., bukan kamu yang seharusnya tanggungjawab.
Bukan kamu, nak....! Dia bukan gadis yang baik buat kamu!” Tertunduk lemas pak
Aryo menatap mata Denis yang penuh harap itu. Nampak kekecewaan mendalam pada
guratan – guratan wajah pak Aryo.
“Tapi, Denis mencintainya,
Pa! Sama seperti Papa yang selalu mencintai mama, meski Mama udah gak ada.”
Ungkap Denis berusaha meyakinkan pria berumur setengah abad itu.
Tak ada yang mampu
menghalangi kepergian Denis malam itu. Sementara pak Aryo, tetap saja duduk di
sofa ruang tengah rumahnya. Satu persatu bulir air matanya jatuh membasahi foto
Ibu Delia, istri yang sangat Ia cintai yang telah terlebih dahulu pergi
menghadap sang Khalik tepat lima tahun yang silam, ketika Denis, putra yang
tega meninggalkannya kini masih duduk di bangku SMA kelas sepuluh.
***
Hari berganti hari. Hari
ini adalah bulan kelima usia pernikahan Denis dan Fuji. Begitu bahagianya
pernikahan mereka. Ditambah lagi dengan hadirnya saeorang bayi berjenis kelamin
laki – laki yang begitu lucu. Tangisnya menghiasi hari – hari mereka. Meskipun
bukan buah cintanya sendiri, Denis tetap menganggap bayi itu seperti anak
kandungnya sendiri.
Ketika Denis hendak
menggendong Alif, bayi mungil itu, tiba – tiba ia teringat masa – masa lima
tahun yang silam, ketika Ia terpuruk karena ditinggal Ibunya menghadap sang
Khalik. Bertepatan dengan itu, Denis mengenal Fuji, seorang siswa baru,
disekolahnya, begitu sederhana, cerdas dan bersahaja. Sosoknya yang keibuan
benar – benar membuat Denis jatuh cinta. Namun apa daya, Ia hanya memendam perasaannya
di dalam hati. Ia menyadari dirinya tak pantas untuk gadis itu. Adit yang ketua
kelas saat itu sudah terlebih dahulu menitipkan hatinya kepada Fuji, lebih
pantas dibanding Denis yang hanyalah seorang anak basket dan ‘anak mami’, begitu sapaan teman satu
sekolah kepadanya.
“Bang, bang, ngelamunin
apa sih ?” Sapa Fuji pagi itu membuyarkan lamunanku, benar – benar membuatku
terkejut bukan kepalang.
“Ah, gak ada istriku yang
cantik, tiba – tiba abang teringat sama mama. Coba kalau ada mama sekarang ya.
Pasti seneng banget mama lihat cucunya yang lucu ini.” ungkap Denis kepada
istrinya itu sambil mencium bayi yang sedang tertidur pulas di pelukannya.
“Tapi bang, itu kan bukan
anak kita. Maafin aku ya bang, karena aku, abang mesti menanggung perbuatan
lelaki bejat itu. seharusnya abang tidak menikahi aku, bang!”
“Gak pa-pa, say. Ini semua
abang lakuin karena cinta abang ke kamu itu lebih dari segalanya, termasuk
nyawa abang sendiri. Abang sayang kamu, Fuji...!” Dengan tulusnya Denis berkata
sambil mencium kening wanita yang sangat ia cintai itu.
***
Tak ubah seperti kacang
yang lupa kulitnya. Fuji mulai bertingkah ketika ia mulai mengenal Rama. Denis
berhasil mencium ulah istrinya itu setelah pulang dari Bangkok untuk meninjau
proyeknya disana satu bulan yang lalu.
“Alif... Alif sayang...,
ayah pulang, nak. Fuji..., abang pulang...” Sapa Denis dengan senyum sumringah
menyapa kedua belahan hatinya itu. Tak sabar Ia mengecup kening istri tercinta
dan putra kecilnya, rasa rindunya membuncah membentuk gunung himalaya kepada
keluarga kecilnya itu.
Cukup lama Denis menunggu
di muka pintu. Tak satupun terdengar suara khas
Fuji, si nyonya rumah atau Alif, dengan rengekan yang biasa didengarnya
setiap pulang dari kantor.
Suasana hening, lengang,
nampak tidak terlihat tanda – tanda penghuni rumah ada di dalamnya. Lalu
dibukanya pintu rumah megah yang bergaya Itali itu. Tanpa membuka sepatunya,
Denis langsung menjejakkan kakinya ke lantai dua. Ada dua kamar diatas sana.
Pertama, Ia buka pintu kamar Alif. Guratan kerinduan yang nampak di wajah Denis
berubah menjadi guratan penuh emosi ketika melihat bayi yang belum genap
berumur satu tahun setengah itu sedang asyik bermain dengan dunianya sendiri.
Ia coba menghapus sedikit demi sedikit
amarahnya untuk Fuji karena membiarkan Alif sendiri di baby boxnya dengan menggendong Alif, lalu menciumnya.
Meski amarahnya terhapus
sedikit, ternyata tak mampu menepis insting seorang suami kepada Fuji, istri
yang Ia tinggalkan 1 bulan yang lalu. Seperti ada yang berbisik di telinganya
untuk segera membuka kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar putranya
itu.
“Brakkkk!!”
Ia dobrak pintu itu dengan
keras. Terkejut bukan kepalang, ternyata disitu Ia mendapati istrinya sedang
asyik di bermain cinta dengan pria lain.
Hancur bukan kepalang
hatinya saat itu. Air susu dibalas air tuba. Fuji membalas cintanya dengan
sakit yang mendalam.
“Dasar kau perempuan
jalang, pergi kau dari rumahku, tinggalkan aku dan Alif! Pergi, kau!!”
Diseretnya perempuan itu dengan sadis menuruni anak tangga. Tak peduli air mata
yang keluar dari mata perempuan itu.
“Ampun, Bang, ampun,
maafin aku, Bang, jangan usir aku, jangan pisahkan aku sama Alif, ampun ,
Bang!” Suara serak terdengar begitu memekakkan telinga, memecah keheningan
malam di rumah megah itu. Nasi telah menjadi bubur, cinta Denis untuk Fuji
sejak malam itu lenyap bersama air hujan yang turun dengan deras.
***
Tahun demi tahun berlalu.
Tak terasa Alif sudah memasuki umurnya yang ke enam. Tugas Denis sebagai
seorang single parent semakin berat.
Ia harus membesarkan Alif seorang diri. Dan hari ini adalah hari pertamanya
bersekolah di SDIT Rabbani. Ia harus bangun pagi – pagi sekali untuk menyiapkan
sarapan Alif, lalu mengantarnya ke sekolah, kemudian harus menjemputnya sebelum
jam 10 pagi.
“Sayang, kalau ayah belum
jemput, Alif tetap disini ya, tunggu sampai ayah jemput. “ Bujuk Denis kepada
putranya.
“Iya, ayah, Alif akan
tunggu sampai ayah jemput, tapi gak pake lama ya, yah.. !”
“Okay, deh, putra ayah
sayang, yang paling ganteng sedunia... hehehe !”
***
Semburat mentari pagi
terlihat jelas di balik tirai jendela. Tak kalah indah dengan lukisan di atas
meja makan dimana Alif sedang asyik menikmati sepotong roti bakar chocolate strawbery buatan ayahnya,
Denis.
“Ayah, Ayah kenal gak sama
Ibu guru Nabil?” tanya Alif kepada Denis di meja makan pagi itu sebelum
berangkat sekolah.
“Ya , Ayah kenal. Emang
kenapa sama Ibu guru Nabil?” Tanya Denis kepada putranya itu.
“Ibu guru Nabil cantik ya
yah, baik dan soleha. “
“Iya, Ibu guru Nabil cantik....”
kembali Denis menanggapi celoteh putranya.
“Ayah suka sama Ibu guru
Nabil?”
“Emang Alif suka ?“
“Iya dong, Yah. Alif suka
banget sama Ibu guru Nabil.”
“Yah, boleh Alif minta
sesuatu sama ayah?”
“Boleh, apa itu sayang?”
“Alif pingin ibu guru Nabil
jadi ibunya Alif.”
Tersedak Denis mendengar
permintaan putranya itu. Semua gelas, juga piring berisi roti bakar buatannya
diatas meja makan menjadi basah dan berubah warna menjadi hitam terkena
semburan air kopi yang diminumnya. Sontak hal ini membuatnya kaget. Denis rasa,
apa yang dikatakan putranya itu ada benarnya. Sudah waktunya ia mencari
pengganti Fuji. Ia tak bisa berlama – lama menjadi single parent untuk Alif.
***
Subuh yang indah. Denis
membuka jendela kamarnya. Terlihat di ujung tiang tertinggi sana lukisan Sang
pemilik alam yang begitu indah. Namun tak kalah indah dengan pemandangan yang
dilihatnya. Dia Nabil, sedang khsuk membaca ayat suci Al-Qur’an, seorang wanita
rupawan dan solehah yang 1 minggu lalu dinikahinya, dan kini menjadi pendamping
hidupnya. Wanita yang bisa menerima Denis dan masa lalunya dengan apa adanya.
Denis merasa menjadi pria yang paling beruntung di dunia karena dapat menikahi
wanita itu.
Kembali Denis teringat
bayangan masa lalunya yang kelam bersama Fuji. Demi wanita itu, Ia lantas tega
meninggalkan papanya sendiri dirumah. Beribu penyesalan membayangi Denis. Andai
saja waktu itu Ia mau mendengarkan papanya dan menunggu lebih sabar lagi,
mungkin sudah sedari dulu Ia dipertemukan dengan wanita solehah itu.
Ada rindu terbesit dihati
Denis. Sudah lebih dari dua tahun Ia meninggalkan Pak Aryo di rumah, sendiri
tanpa siapa pun. Bahkan tanpa komunikasi sama sekali. Denis lantas berniat
mengajak istrinya Nabil, untuk menjenguk papanya itu.
***
Tak ada yang berubah
sedikitpun dari rumah pak Aryo. Termasuk dua buah pohon kamboja dengan bunganya
kecil - kecil berwarna merah yang menutupi kolam ikan di samping rumah.
Gemerciknya air yang berasal dari waterfall
mini diatas kolam itu menambah dinginnya hawa sejuk ketika memasuki pagar rumah
pak Aryo. Di sanalah tempat yang biasa Denis habiskan waktu bersama Pak Aryo
semenjak di tinggal pergi mamanya.
Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah ayunan
kayu minimalis. Dilihatnya Pak Aryo yang sudah semakin menua duduk menikmati
liukan – liukan ikan koi kesayangannya. Terlihat jelas lukisan kesepiannya
tergambar di atas guratan – guratan wajah keriputnya.
Sementara itu, kristal
bening jatuh dari pelupuk mata Denis. Sesalnya meliputi ketika melihat
pemandangan itu.
“Papa......, Denis pulang,
Pa....!” tanpa meminta balasan sapa pria itu, Denis langsung menjatuhkan tubuh
tegapnya di kedua kaki Pak Aryo.
“Kamu pulang, nak?” Papa
rindu..., inikah, Fuji istrimu?”
“Bukan, Pa. Ini bukan
Fuji, dia Nabil. Istri Denis sekarang. Fuji itu masa lalu Denis, ceritanya
panjang, maafin Denis, pa....!”
***
Sesungguhnya tidak ada satupun orangtua di dunia ini
yang ingin mencelakakan buah hatinya. Sayangilah mereka selayaknya mereka
menyayangimu di sepanjang hayatnya, sebelum terlambat. (*)
Gabung dan like fanspage
FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment