Seorang manusia menyesal karena ia tumbuh menjadi dewasa. Tingkah laku "jahat" seolah menjadi keharusan demi membuatnya bertahan sebagai manusia. Lalu, atas dasar penyesalan—atau barangkali perasaan berdosa—ia berharap ingin kembali ke masa lalunya sebagai anak kecil yang putih dan indah. Itulah akar permasalahan yang penulis buat dalam puisi ini.
Puisi ini menarik. Meski pemilihan diksinya sederhana, perpaduan yang penulis buat menjadikan puisinya manis dibaca. Sebuah puisi tidak lengkap jika tidak mempunyai pesan. Namun, menurut penilaian Tim FAM, penulis bekerja dengan baik dalam hal ini. Pesan tersampaikan. Permainan kata tidak sekadar bermain, melainkan juga menohok ulu hati kita yang kotor dan penuh dosa sebagai manusia dewasa.
Adakah kita bersalah menjadi dewasa? Tentu tidak. Kedewasaan tidak bisa ditolak. Itu kesemestian. Yang bisa ditolak adalah bujukan nafsu untuk berbuat jahat. Lewat puisi ini, agaknya penulis "menyindir" siapa pun dari kita yang tidak mau introspeksi diri, dan justru menyalahkan takdir Tuhan bahwa segala amal buruk manusia hadir karena takdir. Padahal bukan. Amal buruk hadir tidak lain karena diri manusia itu sendiri.
Namun ada beberapa kata yang perlu dikoreksi dalam puisi ini, di antaranya: "sebgai", "kemunafikkan", "individuakistik", "resiko", "nasehat", "apapun", dan "merekapun", yang mestinya ditulis: "sebagai", "kemunafikan", "individualistik", "risiko", "nasihat", "apa pun", dan "mereka pun". Sedangkan untuk kata-kata yang bukan berasal dari bahasa baku atau kata asing seperti "bubu", "gadget", dan "soundtrack" baiknya diketik dengan huruf miring (italic).
Pesan untuk penulis, perdalam lagi kekuatan pesan di balik puisi Anda. Terus menulis dan menulis. Gali ide yang lebih luas dan cerahkan dunia lewat puisi.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[Berikut Karya Penulis Tanpa Editing Tim FAM Indonesia]
BERMAIN KE MASA LALU
Oleh Romdoni (Tangerang, FAM3085U)
Sepekan ini aku lelah
Terkuras rasanya pikiran dan tenaga
Hingga aku lupa bahwa aku juga punya keluarga
Aku juga alpa bahwa aku memiliki kehidupan sebgai manusia
Aku lalu melamun
Duduk sambil menikmati kopi melamun
Ada tanya dalam dada
Inikah kehidupanku yang sebenarnya?
Atau aku hanya sedang berpura-pura?
Berlaga gembira dengan apa yang ada
Berakting bahagia dengan nuansa cinta
Berdusta dengan aktivitas yang sejatinya tidak berguna
Keangkuhan, kesombongan, dan kemunafikkan bersatu menjadi aku
Inilah resiko manusia dewasa
Penuh intrik dan konspirasi yang menjadi warna
Skema hidup yang individuakistik, hedonistik, dan kadang materialistik
Menjadi dewasa berarti menjadi hewan
Bergumul di dunia binatang
Penuh naluri setan yang memberangus rasa kekeluargaan
Jangankan lawan, kawan pun kalau perlu aku tikam
Ini tentang kepentingan, Bung!
Siapa pun yang menghalangi jalan
Maka dia akan diterjang
Menjadi dewasa berarti menjadi pintar
Aku katanya manusia terpelajar
Setiap waktu berkutat dengan materi ajar
Mengenakan almamter padahal aku ini barbar
Menjadi dewasa berarti menjadi kanibal
Memakan sesama sebagai wujud otakku yang binal
Persetan dengan keadaan sekitar
Yang terpenting eksistensi agar aku semakin tenar
Menjadi dewasa menyebalkan
Secara alami aku memiliki keinginan
Hasrat seksual dan gelimang berlian
Menjadi dewasa berarti tidak punya teman
Karena semua orang sekarang adalah lawan
Selain aku, semua harus dibinasakan
Menjadi dewasa adalah penyiksaan
Aku ingin kembali saja ke masa lalu
Hijrah ke masa kecilku dulu
Saat itu aku begitu dekat dengan ibu
Yang merawatku sepanjang waktu
Memberiku nasehat agar aku tidak jadi batu
Aku ingin bermain ke tempo dulu
Saat itu kegiatanku adalah mencari ikan di sawah dengan bubu
Atau bermain petak umpet di malam Minggu
Aku rindu permainan-permainan itu
Yang kuyakini takkan pernah tersedia di gadget secanggih apapun itu
Aku juga kangen lagu-lagu masa bocahku
Lagu yang dilantunkan penyanyi-penyanyi cilik masa itu
Lirik-liriknya penuh petuah dan pelajaran yang membantu
Sekarang penyanyi-penyanyi cilik itu juga sudah dewasa sama denganku
Aku yakin, merekapun ingin pulang lagi ke masa lalu
Aku masih hafal lagu-lagu masa kecilku yang entah siapa penciptanya
Yang jelas lagu itu ada dan kuhafal begitu saja
Lagu itu kerap dijadikan soundtrack permainan klasikku
Permainan yang murah dan tentu saja melatih nalar dan ototku
Sewaktu kecil aku rasakan kedamaian
Meskipun aku bertengkar, sejam kemudian kami sudah salaman
Tidak seperti orang dewasa yang perselisihannya selalu lama
Ah, aku menyesal menjadi dewasa
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
Puisi ini menarik. Meski pemilihan diksinya sederhana, perpaduan yang penulis buat menjadikan puisinya manis dibaca. Sebuah puisi tidak lengkap jika tidak mempunyai pesan. Namun, menurut penilaian Tim FAM, penulis bekerja dengan baik dalam hal ini. Pesan tersampaikan. Permainan kata tidak sekadar bermain, melainkan juga menohok ulu hati kita yang kotor dan penuh dosa sebagai manusia dewasa.
Adakah kita bersalah menjadi dewasa? Tentu tidak. Kedewasaan tidak bisa ditolak. Itu kesemestian. Yang bisa ditolak adalah bujukan nafsu untuk berbuat jahat. Lewat puisi ini, agaknya penulis "menyindir" siapa pun dari kita yang tidak mau introspeksi diri, dan justru menyalahkan takdir Tuhan bahwa segala amal buruk manusia hadir karena takdir. Padahal bukan. Amal buruk hadir tidak lain karena diri manusia itu sendiri.
Namun ada beberapa kata yang perlu dikoreksi dalam puisi ini, di antaranya: "sebgai", "kemunafikkan", "individuakistik", "resiko", "nasehat", "apapun", dan "merekapun", yang mestinya ditulis: "sebagai", "kemunafikan", "individualistik", "risiko", "nasihat", "apa pun", dan "mereka pun". Sedangkan untuk kata-kata yang bukan berasal dari bahasa baku atau kata asing seperti "bubu", "gadget", dan "soundtrack" baiknya diketik dengan huruf miring (italic).
Pesan untuk penulis, perdalam lagi kekuatan pesan di balik puisi Anda. Terus menulis dan menulis. Gali ide yang lebih luas dan cerahkan dunia lewat puisi.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[Berikut Karya Penulis Tanpa Editing Tim FAM Indonesia]
BERMAIN KE MASA LALU
Oleh Romdoni (Tangerang, FAM3085U)
Sepekan ini aku lelah
Terkuras rasanya pikiran dan tenaga
Hingga aku lupa bahwa aku juga punya keluarga
Aku juga alpa bahwa aku memiliki kehidupan sebgai manusia
Aku lalu melamun
Duduk sambil menikmati kopi melamun
Ada tanya dalam dada
Inikah kehidupanku yang sebenarnya?
Atau aku hanya sedang berpura-pura?
Berlaga gembira dengan apa yang ada
Berakting bahagia dengan nuansa cinta
Berdusta dengan aktivitas yang sejatinya tidak berguna
Keangkuhan, kesombongan, dan kemunafikkan bersatu menjadi aku
Inilah resiko manusia dewasa
Penuh intrik dan konspirasi yang menjadi warna
Skema hidup yang individuakistik, hedonistik, dan kadang materialistik
Menjadi dewasa berarti menjadi hewan
Bergumul di dunia binatang
Penuh naluri setan yang memberangus rasa kekeluargaan
Jangankan lawan, kawan pun kalau perlu aku tikam
Ini tentang kepentingan, Bung!
Siapa pun yang menghalangi jalan
Maka dia akan diterjang
Menjadi dewasa berarti menjadi pintar
Aku katanya manusia terpelajar
Setiap waktu berkutat dengan materi ajar
Mengenakan almamter padahal aku ini barbar
Menjadi dewasa berarti menjadi kanibal
Memakan sesama sebagai wujud otakku yang binal
Persetan dengan keadaan sekitar
Yang terpenting eksistensi agar aku semakin tenar
Menjadi dewasa menyebalkan
Secara alami aku memiliki keinginan
Hasrat seksual dan gelimang berlian
Menjadi dewasa berarti tidak punya teman
Karena semua orang sekarang adalah lawan
Selain aku, semua harus dibinasakan
Menjadi dewasa adalah penyiksaan
Aku ingin kembali saja ke masa lalu
Hijrah ke masa kecilku dulu
Saat itu aku begitu dekat dengan ibu
Yang merawatku sepanjang waktu
Memberiku nasehat agar aku tidak jadi batu
Aku ingin bermain ke tempo dulu
Saat itu kegiatanku adalah mencari ikan di sawah dengan bubu
Atau bermain petak umpet di malam Minggu
Aku rindu permainan-permainan itu
Yang kuyakini takkan pernah tersedia di gadget secanggih apapun itu
Aku juga kangen lagu-lagu masa bocahku
Lagu yang dilantunkan penyanyi-penyanyi cilik masa itu
Lirik-liriknya penuh petuah dan pelajaran yang membantu
Sekarang penyanyi-penyanyi cilik itu juga sudah dewasa sama denganku
Aku yakin, merekapun ingin pulang lagi ke masa lalu
Aku masih hafal lagu-lagu masa kecilku yang entah siapa penciptanya
Yang jelas lagu itu ada dan kuhafal begitu saja
Lagu itu kerap dijadikan soundtrack permainan klasikku
Permainan yang murah dan tentu saja melatih nalar dan ototku
Sewaktu kecil aku rasakan kedamaian
Meskipun aku bertengkar, sejam kemudian kami sudah salaman
Tidak seperti orang dewasa yang perselisihannya selalu lama
Ah, aku menyesal menjadi dewasa
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment