By: Ade Ubaidil
Tunjukkanlah, jangan menceritakannya! Barangkali begitulah makna secara
harfiahnya. Tidak salah, karena memang materi kali ini akan membahas tentang
tata cara membuat narasi dan deskripsi secara “menggugah”. Kenapa menggugah?
Karena sejauh ini, banyak dengan mudah kita dapati sebuah cerita ditulis asal
jadi saja. Tanpa adanya sentuhan “rasa”, sehingga cerita terasa hambar. Ibarat
masakan, pasti akan kurang sedap apabila kurang garam atau kebanyakan
garam—sebaik apa pun nama masakan tersebut dan diracik dari bahan-bahan pilihan
yang berbandrol mahal. Sebenarnya, sebuah cerita tak perlu bertema “berat” dan
rumit. Cukup sederhana saja, asalkan ditulis dengan baik—tersampaikan apa buah
pikir penulis—dan dengan racikan bumbu yang pas tentu saja.
Mari kita mengenalinya melalui sebuah contoh:
Badrun berjalan menuju warung Bu Risna. Setibanya di sana
ia memesan kopi dan sepiring nasi uduk. Sekira lima menit kemudian, Siti, putri
bungsu Bu Risna, menyodorkan pesanan Badrun. Tak buang waktu Badrun lekas
menyantapnya. Sesekali matanya jelalatan melirik ke arah Siti yang membantu
ibunya di dapur.
Bagaimana? Ada yang kurang? Begitulah,
tetapi kira-kira penggambaran itu mendekati apa yang dimaksud, “show, don’t
tell”. Lalu ‘bumbu’ apa yang sekiranya perlu dibubuhi agar ‘masakan’ di atas
terasa sedap? Kita perlu menambahkan sejumlah detail,
terutama dialog dan action.
Badrun melangkah membelah udara,
dari jauh matanya mengarah ke warung Bu Risna. Setibanya di sana, ia menggeser
sebuah bangku kayu yang sedikit rapuh, kemudian meletakkan bokong teposnya.
Jarinya menunjuk serenteng kopi, merek yang ia sukai, lalu memesan sepiring
nasi uduk, sebab suara perutnya memelas sedari tadi. Sesekali ia celingukan,
memastikan kalau orang yang berada di belakang Bu Risna adalah seseorang yang
ingin dilihatnya. Sekira lima menit kemudian, bibirnya terangkat. Tentu ia
tujukan untuk Siti, putri bungsu Bu Risna yang sudah lulus SMA itu. Gadis itu
tampak tersipu, kedua lesung pipinya membalas senyum Badrun.
“Silakan, Kang,” ucapnya sopan,
sembari menyodorkan pesanan Badrun. Bulu halus di lengannya membuat Badrun
mengerjap-ngerjapkan mata. Ditambah aroma kopi di atas meja yang meruap
sedemikian menggodanya.
“Nuhun, Neng Siti.” Dengan memasang
wajah genit, ia berlaga tak sengaja menyenggol lengan Siti. “Eh, maaf, Neng.”
Seketika hati Badrun berdesir,
sambil lekas meredam suara perutnya. Satu-dua sendok nasi uduk sudah mendarat
di mulutnya, silih-berganti dengan sesapan kopi yang khas buatan Siti, terasa
lebih manis. Ia tidak suka kopi terlalu manis, tetapi kalau itu Siti yang buat,
ia telan saja setulus hati.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu, dulu
ketika mendapatkan hati Wanah, istrinya, ia melakukan cara yang sama. Giat
mendatangi warung yang dijaga Wanah dan sesekali menggombalinya. Sekarang ia
terlihat begitu gigih mencuri perhatian Siti. Jari-jarinya terampil
melinting-linting kumis tebalnya, sesekali matanya jelalatan melirik ke dalam,
menangkap Siti yang tengah membantu ibunya di dapur.
Jadi, begitulah kira-kira: kita memerlukan detail. Dan pada contoh kedua kita sudah
melihat ada perasaan, pikiran, keinginan, aroma dan lainnya yang terlibat demi
keperluan jalannya cerita. Dengan begitu kita bisa mengajak pembaca masuk ke
dunia rekaan yang kita sampaikan. Dan bila kita cermati secara saksama, di teks
kedua bisa kita dapati Deskripsi
dengan Lima Indra.Sebab dalam deskripsi yang baik, penulis seharusnya
membuat pembacamelihat sesuatu, mencium baunya, merasakan persentuhan dengannya,mendengar bunyinya, dan mencecap rasanya, karena jika dalam deskripsi
kita hanya “menceritakan” sesuatu yang hanya tampak dalam mata, maka yang kita
lakukan tak beda dengan menyodorkan sebuah foto atau gambar kalender;
membosankan dan biasa saja—(Creative Writing, AS Laksana, hal.55).
Satu hal yang harus diingat, bahwa dalam
sebuah deskripsi memang tidak melulu harus melibatkan lima panca indra, ikuti
saja intuisimu, dikira-kira bagian yang mana yang perlu, sebab kalau semua
diterapkan pasti cerita akan begitu panjang dan jumlah halaman membengkak semakin
tebal. Juga tak semua harus “show” sesekali pakailah “tell”. Kita sudah harus
bisa mengidentifikasi cerita kita sendiri. Cari titik fokusnya, apa yang ingin
penulis sampaikan, dan letakkan detailnya di sana. Tetapi minimal dua panca
indra harus kita libatkan, agar cerita tidak terasa menjemukan dan pembaca
terus bertahan mengikuti jalan cerita yang kita tulis sampai titik paling
akhir.
Cilegon, 070416
*)Ade Ubaidil, lahir pada 02 April 1993. Ia pencerita asal Cilegon, Banten. Bergabung di FAM sejak tahun 2012 dengan nomor keanggotaan IDFAM 1198M. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit berjudul, Mbah Sjukur (IBC, 2016). Aktif menulis di jurnal pribadinya: www.quadraterz.com. Sekarang mengurus perpustakaan yang diberi nama, Rumah Baca Garuda.

Comments
Post a Comment