Cerpen “Astaka Keinginan” ini bercerita tentang keinginan yang kuat tokoh “aku”, untuk mencapai suatu impiannya. Impian yang tak pernah bisa dipahami orang-orang sekitar dan lingkungan. Orang-orang yang memandangnya sebelah mata, menganggapnya aneh dan disepelekan. Tapi, “aku” tak pernah putus asa dan sangat meyakini segenap langkah yang diayunnya akan membuahkan hasil. Langkah yang dibiarkannya normal saja, bergerak secara alami dan naluriah karena cepat atau lambat akan mencapai tujuannya.
Guy Le Fleur mampu menuliskan keinginan dan suasana hati tokoh cerita dengan apik dan baik. Suasana hati yang tergambar dengan jelas, sehingga pembaca ikut hanyut pada sebuah langkah perjuangan. Tokoh cerita (aku) yang sendirian, berjalan berjuang tak berteman. Tapi, tulisan ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori cerpen. Tulisan ini sebuah curhatan (curahan hati) atas keinginan tokoh untuk mencapai tujuan. Tidak ada tokoh lain dalam cerita, dialog maupun konflik.
Baiklah, Guy Le Fleur, teruslah menulis dan menghadirkan ide-ide cerita yang baru. Pemilihan kalimat yang cukup baik, bahasa yang apik alangkah indah bila dibaur dalam sebuah cerita. Jangan lupa untuk terus mengirim tulisan ke media, ya? Tetap semangat!
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT TULISAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
ASTAKA KEINGINAN
Oleh: Guy Le Fleur
Ketika aku melampaui kekuatan, maka fisik menandaskan kelemahannya. Setiap langkah mempersempit jarak. Membikin tujuan jadi samar. Angan-angan melukis hayalan jadi tak bermakna. Sehingga, ada sesuatu yang hilang dalam keseharianku.
Ketika aku hanya mampu mendiskusikan beberapa hal. Tak ada waktu bagiku lagi mengatakan semuanya. Meski pada orang lain. Walau sekilas, mereka tak bisa menangkap makna. Apalagi menarik sebuah kesimpulan. Kelihatannya, aku seperti arogan menafsirkan ini. Tapi kenyataannya memang seperti itulah. Aku merasa seolah-olah telah mati lebih awal akibat dangkalnya kesimpulan mereka memutuskan makna hidup. Sesungguhnya, keyakinan akulah yang membuat semua itu masih bertahan.
Apa yang kucari, serta apa yang kumiliki kini sangat dominan mengambarkan kekuatanku tentang sebuah idealisme. Sebuah bentuk keyakinan diri yang membedakan aku dengan orang-orang sekitar. Space dunia yang luas memaksakan diriku untuk melakukan hal-hal aneh. Sebatas ia masih masuk akal. Tidak melampaui absurditas yang ada. Agar aku bisa menciptakan sebuah dunia baru. Dunia yang penuh keajaiaban buat diriku. Niat itu sebenarnya tak pernah aku rasakan putus oleh waktu. Meskipun arah pencapaian menuju ke sana belum memberi hasil. Hingga kini, aku hanya bisa mempertahankan sebuah semangat. Berjuang dengan caraku sendiri. Agar tujuanku tidak hilang ke arah yang salah.
Malam memang semakin larut. Kegelapan di luar menyerang batin yang sepi. Suara katak mengancam hari. Memanggil hujan agar segera cepat datang. Aku masih lelap menahan nafas, menjaga mata dari rasa kantuk. Mengukir kata-kata pada tuts-tuts laptop. Untuk melahirkan kehidupan baru lewat rangkaian kalimat-kalimat surealis yang padat. Bunyi yang lahir dari ketukan jari-jemariku pada keyboard, terkadang menjeritkan berbagai ilham yang ingin keluar dan tak bisa ditahan-tahan. Terkadang, ada juga yang terlahir liar di sana. Menampakkan keganjilan dalam alam pikiran bawah sadarku. Dengan itu, aku jadi gamblang melahirkan perasaan. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu. Menyuarakan perasaan pada kalimat sederhana, sambil memilah kata-kata baru ternyata tak mudah. Tidak ada yang bisa dianggap enteng dalam dunia aksara hari ini. Karena wacana tulisan membutuhkan kemutlakan pikiran. Logis maupun tidak. Jadi sebenarnya, tak banyak kesempatan buat mereka yang sekedar main-main. Tapi, aku tak mau tahu. Karena bagiku, orang lain pun tak akan pernah peduli. Kata-kata bagi mereka hanyalah wacana lisan, yang mesti digarap dalam obrolan dan debat kusir di depan tangga rumah. Yang jelas, aku ingin mengapai sesuatu. Sesuatu yang membuat diriku berbeda. Hal ini sebagai indikasi bahwa faktanya, aku memang sedang mencari keinginan itu. Angan-angan yang melampaui batas cita-citaku yang telah lama sekali aku tinggalkan.
Setiap keinginan atau apa pun namanya seyogyanya punya cara atau jalannya sendiri. Keinginan mengambarkan sebuah kehidupan. Tanpa keinginan, sebuah kehidupan seolah-olah telah mati. Tiada manuver atau kegelisahan yang diarahkan membuat keinginan menjadi gersang dan retak. Kehidupan menjadi tidah sempurna. Aku menyakini hal itu sebatas kemampuanku menafsirkan makna hidupku sendiri. Dunia yang lahir dari rusuk keindahannya sendiri, mampu memberikan sebuah renungan terhadap keinginanku itu. Bayangan dari sebuah cita-cita. Dunia yang terbentang oleh berbagai perubahan, membuat diriku takut jikalau nanti seluruh keinginanku itu tercemar oleh nilai-nilai keserakahan. Kalau hal demikan terjadi, maka aku tak sanggup melakukannya sendiri.
Terkadang aku jadi larut dalam waktu. Sebuah kekuasaan yang tak sempurna. Mampu membuat keyakinan menjadi ragu. Melangkahi keinginan untuk berputar sejauh mungkin. Sehingga, menciptakan kesepakatan mencari jalan keluarnya sendiri-sendiri. Meski waktu selalu bisa mengukir banyak kebosanan, tapi kekuasaanya mampu mengalihkan seluruh perhatian pada hal-hal kecil. Merangkainya menjadi sebuah kesimpulan akan sesuatu. Keinginan untuk lari dari lingkaran waktu itu, bahkan membuat kehidupan menjadi lebih buruk. Keinginan terasa hambar olehnya.
Untung! waktu selalu memanjakanku. Membiarkan diriku untuk menilainya. Serta menganalisanya demi sebuah pencapaian yang abadi. Bayangan masa lalu yang sifatnya negatif, aku yakini hasil dari berbagai aplikasi waktu yang salah. Kerugian yang tak layak untuk diulang kembali pada masa akan datang.
Perjalanan panjang kini telah aku jalani. Mungkin tanpa bekal aku melakukannya. Tanpa aku sadari, semuanya menjadi tetap tak berubah. Aku seperti umurku yang kemaren. Saat indah menerpa keremajaanku. Ketika rasa cinta datang mengebu dalam ombak kegalauan masa sekolah. Walau tak salah, ianya memberi kesan bahwa beginilah caraku menilai arti hidupku sebenarnya.itu Karena aku yakin, aku memang seperti itu. Mereka yang sebagian besar telah pun hanyut dalam lautan usia. Telah jauh menganggap aku sebagai orang aneh. Seseorang yang berbeda dari kepribadian mereka. Terkadang mereka pun tak segan-segan menganggap aku umpama seorang bayi yang baru lahir. Polos dan enerjik. Setia merangkum alam dalam kemampuan dan tenaga yang masih bersih.
Untuk masa kini, sulit bagiku untuk menuai keinginanku itu secepat mungkin. Ada-ada saja penghalangnya. Ini sebuah kesulitan tersendiri. Umur yang setia melekat pada diriku setidaknya secara tak langsung menghambat pergerakkan untuk mengapai keinginanku itu. Menurutku sesuatu yang lumrah. Tapi aku yakin, keinginan yang tulus dapat membongkar semua penghalang itu. Tak ada hal yang tak bisa dilakukan, jikalau kita mau berusaha. Motto ini tampak mudah, meski kenyataannya sulit untuk membuktikan keabsahan maknanya secara terperinci. Harus ada kekuatan penuh untuk memecahkannya. Sekalipun hal ini belum juga menjamin akan berhasil.
Hujan sering memberikan simponi. Tanda kehidupan. Rintiknya yang jatuh, menimbulkan kedamaian hati. Melunakkan kemarahan jadi sebuah ketenangan. Hujan dapat membuat keinginan terpaku. Memberi nuansa bagi lahirnya ide-ide baru. Fresh dalam ingatan untuk menyusuri sudut keinginanku jadi satu. Aku menghargai peristiwa ini. Kejadian alam yang sempurna. Menumpas segala kelemahan yang aku milikki. Menyerang kesombongan diri manusia. Hujan adalah anugerah, tanda kebesaran Ilahi.
Minggu-minggu terakhir ini, aku memang fokus pada coretan-coretan perasaanku. Lewat media dan simbol-simbol aku melakukannya. Tiada paksaan maupun keinginan yang berlebih. Tiada juga harapan euforia. Semua berjalan secara alamiah. Secara jujur aku katakan, ini adalah pelajaran bagiku untuk mengapresiasikan keinginan itu secepat mungkin. Agar aku bisa mengukur kemampuanku itu. Aku mengharapkan, narasi-narasi yang aku ciptakan dapat melahirkan sebuah keajaiban baru. Keajaiban dalam kacamta sebuah keinginanku itu. Aku yakin, orang lain tak akan pernah mampu menyelami keinginanku. Sejauh mereka masih bersandar pada penilaian mereka secara subjektif itu.
Aku tahu, mereka hanya bisa melihat keberhasilan di atas permukaan saja. Sedang, kedalaman isi tidak menjadi perhatian mereka secara serius. Buat mereka, keinginanku mungkin hanyalah hayalan. Angan-angan yang sulit diraih. Bagi mereka, aku merasa telah dianggap sebagai seekor katak yang berlindung di bawah tempurung, terlalu menginginkan sesuatu. Tapi! untuk beratus kali kukatakan, aku tak ambil peduli. Biarlah mereka menilai dengan cara mereka, sementara aku bekerja dengan caraku sendiri. Dengan sebuah prinsip, aku temukan cara untuk menggapai keinginanku itu menjadi nyata. Pedoman yang mampu mengukur kemampuanku. Yang jelas, untuk saat ini aku harus melakukan hal-hal termudah bagi keinginanku itu. Karena buat masa ini, “aku belum sanggup untuk beradu kekuatan dengan gumpulan ombak di tengah badai topan yang melanda hari-hariku ke depan......!”.
Bengkalis,23 April 2013
Guy Le Fleur mampu menuliskan keinginan dan suasana hati tokoh cerita dengan apik dan baik. Suasana hati yang tergambar dengan jelas, sehingga pembaca ikut hanyut pada sebuah langkah perjuangan. Tokoh cerita (aku) yang sendirian, berjalan berjuang tak berteman. Tapi, tulisan ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori cerpen. Tulisan ini sebuah curhatan (curahan hati) atas keinginan tokoh untuk mencapai tujuan. Tidak ada tokoh lain dalam cerita, dialog maupun konflik.
Baiklah, Guy Le Fleur, teruslah menulis dan menghadirkan ide-ide cerita yang baru. Pemilihan kalimat yang cukup baik, bahasa yang apik alangkah indah bila dibaur dalam sebuah cerita. Jangan lupa untuk terus mengirim tulisan ke media, ya? Tetap semangat!
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT TULISAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
ASTAKA KEINGINAN
Oleh: Guy Le Fleur
Ketika aku melampaui kekuatan, maka fisik menandaskan kelemahannya. Setiap langkah mempersempit jarak. Membikin tujuan jadi samar. Angan-angan melukis hayalan jadi tak bermakna. Sehingga, ada sesuatu yang hilang dalam keseharianku.
Ketika aku hanya mampu mendiskusikan beberapa hal. Tak ada waktu bagiku lagi mengatakan semuanya. Meski pada orang lain. Walau sekilas, mereka tak bisa menangkap makna. Apalagi menarik sebuah kesimpulan. Kelihatannya, aku seperti arogan menafsirkan ini. Tapi kenyataannya memang seperti itulah. Aku merasa seolah-olah telah mati lebih awal akibat dangkalnya kesimpulan mereka memutuskan makna hidup. Sesungguhnya, keyakinan akulah yang membuat semua itu masih bertahan.
Apa yang kucari, serta apa yang kumiliki kini sangat dominan mengambarkan kekuatanku tentang sebuah idealisme. Sebuah bentuk keyakinan diri yang membedakan aku dengan orang-orang sekitar. Space dunia yang luas memaksakan diriku untuk melakukan hal-hal aneh. Sebatas ia masih masuk akal. Tidak melampaui absurditas yang ada. Agar aku bisa menciptakan sebuah dunia baru. Dunia yang penuh keajaiaban buat diriku. Niat itu sebenarnya tak pernah aku rasakan putus oleh waktu. Meskipun arah pencapaian menuju ke sana belum memberi hasil. Hingga kini, aku hanya bisa mempertahankan sebuah semangat. Berjuang dengan caraku sendiri. Agar tujuanku tidak hilang ke arah yang salah.
Malam memang semakin larut. Kegelapan di luar menyerang batin yang sepi. Suara katak mengancam hari. Memanggil hujan agar segera cepat datang. Aku masih lelap menahan nafas, menjaga mata dari rasa kantuk. Mengukir kata-kata pada tuts-tuts laptop. Untuk melahirkan kehidupan baru lewat rangkaian kalimat-kalimat surealis yang padat. Bunyi yang lahir dari ketukan jari-jemariku pada keyboard, terkadang menjeritkan berbagai ilham yang ingin keluar dan tak bisa ditahan-tahan. Terkadang, ada juga yang terlahir liar di sana. Menampakkan keganjilan dalam alam pikiran bawah sadarku. Dengan itu, aku jadi gamblang melahirkan perasaan. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu. Menyuarakan perasaan pada kalimat sederhana, sambil memilah kata-kata baru ternyata tak mudah. Tidak ada yang bisa dianggap enteng dalam dunia aksara hari ini. Karena wacana tulisan membutuhkan kemutlakan pikiran. Logis maupun tidak. Jadi sebenarnya, tak banyak kesempatan buat mereka yang sekedar main-main. Tapi, aku tak mau tahu. Karena bagiku, orang lain pun tak akan pernah peduli. Kata-kata bagi mereka hanyalah wacana lisan, yang mesti digarap dalam obrolan dan debat kusir di depan tangga rumah. Yang jelas, aku ingin mengapai sesuatu. Sesuatu yang membuat diriku berbeda. Hal ini sebagai indikasi bahwa faktanya, aku memang sedang mencari keinginan itu. Angan-angan yang melampaui batas cita-citaku yang telah lama sekali aku tinggalkan.
Setiap keinginan atau apa pun namanya seyogyanya punya cara atau jalannya sendiri. Keinginan mengambarkan sebuah kehidupan. Tanpa keinginan, sebuah kehidupan seolah-olah telah mati. Tiada manuver atau kegelisahan yang diarahkan membuat keinginan menjadi gersang dan retak. Kehidupan menjadi tidah sempurna. Aku menyakini hal itu sebatas kemampuanku menafsirkan makna hidupku sendiri. Dunia yang lahir dari rusuk keindahannya sendiri, mampu memberikan sebuah renungan terhadap keinginanku itu. Bayangan dari sebuah cita-cita. Dunia yang terbentang oleh berbagai perubahan, membuat diriku takut jikalau nanti seluruh keinginanku itu tercemar oleh nilai-nilai keserakahan. Kalau hal demikan terjadi, maka aku tak sanggup melakukannya sendiri.
Terkadang aku jadi larut dalam waktu. Sebuah kekuasaan yang tak sempurna. Mampu membuat keyakinan menjadi ragu. Melangkahi keinginan untuk berputar sejauh mungkin. Sehingga, menciptakan kesepakatan mencari jalan keluarnya sendiri-sendiri. Meski waktu selalu bisa mengukir banyak kebosanan, tapi kekuasaanya mampu mengalihkan seluruh perhatian pada hal-hal kecil. Merangkainya menjadi sebuah kesimpulan akan sesuatu. Keinginan untuk lari dari lingkaran waktu itu, bahkan membuat kehidupan menjadi lebih buruk. Keinginan terasa hambar olehnya.
Untung! waktu selalu memanjakanku. Membiarkan diriku untuk menilainya. Serta menganalisanya demi sebuah pencapaian yang abadi. Bayangan masa lalu yang sifatnya negatif, aku yakini hasil dari berbagai aplikasi waktu yang salah. Kerugian yang tak layak untuk diulang kembali pada masa akan datang.
Perjalanan panjang kini telah aku jalani. Mungkin tanpa bekal aku melakukannya. Tanpa aku sadari, semuanya menjadi tetap tak berubah. Aku seperti umurku yang kemaren. Saat indah menerpa keremajaanku. Ketika rasa cinta datang mengebu dalam ombak kegalauan masa sekolah. Walau tak salah, ianya memberi kesan bahwa beginilah caraku menilai arti hidupku sebenarnya.itu Karena aku yakin, aku memang seperti itu. Mereka yang sebagian besar telah pun hanyut dalam lautan usia. Telah jauh menganggap aku sebagai orang aneh. Seseorang yang berbeda dari kepribadian mereka. Terkadang mereka pun tak segan-segan menganggap aku umpama seorang bayi yang baru lahir. Polos dan enerjik. Setia merangkum alam dalam kemampuan dan tenaga yang masih bersih.
Untuk masa kini, sulit bagiku untuk menuai keinginanku itu secepat mungkin. Ada-ada saja penghalangnya. Ini sebuah kesulitan tersendiri. Umur yang setia melekat pada diriku setidaknya secara tak langsung menghambat pergerakkan untuk mengapai keinginanku itu. Menurutku sesuatu yang lumrah. Tapi aku yakin, keinginan yang tulus dapat membongkar semua penghalang itu. Tak ada hal yang tak bisa dilakukan, jikalau kita mau berusaha. Motto ini tampak mudah, meski kenyataannya sulit untuk membuktikan keabsahan maknanya secara terperinci. Harus ada kekuatan penuh untuk memecahkannya. Sekalipun hal ini belum juga menjamin akan berhasil.
Hujan sering memberikan simponi. Tanda kehidupan. Rintiknya yang jatuh, menimbulkan kedamaian hati. Melunakkan kemarahan jadi sebuah ketenangan. Hujan dapat membuat keinginan terpaku. Memberi nuansa bagi lahirnya ide-ide baru. Fresh dalam ingatan untuk menyusuri sudut keinginanku jadi satu. Aku menghargai peristiwa ini. Kejadian alam yang sempurna. Menumpas segala kelemahan yang aku milikki. Menyerang kesombongan diri manusia. Hujan adalah anugerah, tanda kebesaran Ilahi.
Minggu-minggu terakhir ini, aku memang fokus pada coretan-coretan perasaanku. Lewat media dan simbol-simbol aku melakukannya. Tiada paksaan maupun keinginan yang berlebih. Tiada juga harapan euforia. Semua berjalan secara alamiah. Secara jujur aku katakan, ini adalah pelajaran bagiku untuk mengapresiasikan keinginan itu secepat mungkin. Agar aku bisa mengukur kemampuanku itu. Aku mengharapkan, narasi-narasi yang aku ciptakan dapat melahirkan sebuah keajaiban baru. Keajaiban dalam kacamta sebuah keinginanku itu. Aku yakin, orang lain tak akan pernah mampu menyelami keinginanku. Sejauh mereka masih bersandar pada penilaian mereka secara subjektif itu.
Aku tahu, mereka hanya bisa melihat keberhasilan di atas permukaan saja. Sedang, kedalaman isi tidak menjadi perhatian mereka secara serius. Buat mereka, keinginanku mungkin hanyalah hayalan. Angan-angan yang sulit diraih. Bagi mereka, aku merasa telah dianggap sebagai seekor katak yang berlindung di bawah tempurung, terlalu menginginkan sesuatu. Tapi! untuk beratus kali kukatakan, aku tak ambil peduli. Biarlah mereka menilai dengan cara mereka, sementara aku bekerja dengan caraku sendiri. Dengan sebuah prinsip, aku temukan cara untuk menggapai keinginanku itu menjadi nyata. Pedoman yang mampu mengukur kemampuanku. Yang jelas, untuk saat ini aku harus melakukan hal-hal termudah bagi keinginanku itu. Karena buat masa ini, “aku belum sanggup untuk beradu kekuatan dengan gumpulan ombak di tengah badai topan yang melanda hari-hariku ke depan......!”.
Bengkalis,23 April 2013

Comments
Post a Comment