Skip to main content

Ulasan Cerpen “Maafkan Aku” Karya Ade Ubaidil Fitri (FAMili Cilegon)

Sebenarnya, Lisa suka kepada Reza. Lisa yang diam-diam sering mengiriminya cokelat dan surat. Tapi sikap mencari perhatiannya terkadang berlebihan, sampai menyuruh Reza untuk mencuci pakaiannya yang kotor karena tanpa sengaja terkena jus alpukat. Reza tak pernah tahu jika sebenarnya Lisa mengaguminya. Hingga kemudian, Lisa terpaku kaku ketika mendengar Reza telah meninggal, semua sudah terlambat. Surat yang ada di genggamannya, itulah bukti akhir dari sebuah kisah.

Cerpen “Maafkan Aku” yang ditulis Ubaidil Fitri ini adalah sebuah cerpen remaja yang tragis. Menceritakan kisah kekaguman dan perasaan yang ditutupi Lisa berbuah penyesalan. Bahwa, kesempatan tentu tidak datang dua kali, karena Allah pasti memiliki rencana lain yang lebih indah.

Penulis menulis cerpen ini masih belum sesuai dengan EYD. Dalam penulisan, seharusnya penulis memberi jarak (spasi) setelah penggunaan tanda koma (,) atau tanda titik (.).  Penulisan “Dia” jangan menggunakan huruf kapital, karena penggunaan huruf kapital pada penulisan “Dia” berlaku untuk Tuhan. Contoh: Dia Maha Pengasih, Dia Sang Penguasa Alam.

Selain itu, jangan pula menggunakan huruf kapital untuk “lu” dan “gue”. Perhatikan pula penggunaan paragraf agar tulisan enak dibaca. Teruslah menulis dengan semangat, jangan lupa pula untuk sering membaca agar tulisan kita semakin baik. Tetap semangat, ya?

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

“Maafkan Aku”


Karya: Ade Ubaidil Fitri (FAMili Cilegon)

“Maaf Sa,gak sengaja!” Ucap seorang Pria kepada gadis yang tersiram air yang tumpah dari gelasnya.

“Enak amat Lu Za,kotor neh baju gue!” sentak gadis itu sambil bangkit dari kursi yang ditempatinya.

“Aku kan sudah minta maaf,tadi itu tidak sengaja,kakiku tersandung meja.” Pria itu menjelaskan.

“Terserah apapun alasan Lu,tapi gue minta tanggung jawab dari Lu!” Lisa yang menunjuk wajah Reza.

“Tanggung jawab apa?” Tanyanya bingung.

“Lu bawa baju gue,dan gue gak mau tahu pokoknya besok,baju ini harus sudah bersih.” Ucap Lisa sambil menunjuk baju yang terkena tumpahan jus alpukat. Tanpa berdalih lagi Reza mengiyakan apa yang telah Lisa katakan. Dia malu,disela-sela waktu istirahatnya,dia mendapatkan kejadian yang cukup menyebalkan. Sebenarnya Reza ingin menolak perintah Lisa,tapi apa boleh buat,karena dikantin terlihat banyak orang yang menyaksikan pertengkaran itu,tidak etis baginya jika harus adu mulut dengan seorang gadis yang tidak lain adalah teman kelasnya sendiri.

***

“Ini bajunya!” Lisa yang menyodorkan bungkusan plastik hitam saat pulang sekolah. Dia telah mengenakan sweater—pengganti baju seragam sekolahnya yang tersiram tadi-- yang Dia bawa dari rumah karena cuaca hari itu memang sedang berhawa dingin.

“Untung sweater ini gak gue pake waktu dikantin tadi,kalo gue pake pasti udah kotor juga kayak baju seragam itu.” Lisa menunjuk bungkusan yang ada ditangan Reza. Namun Reza berlalu saja dengan membawa baju Lisa tanpa menghiraukan apa yang dikatakannya.

“Gue sebenernya gak tega Sya,tapi mungkin ini kesempatan gue biar terus deket sama Reza.” Ucapnya menyesali.

“Lagian Lu,mau apa kali. Pake ngerjain Reza segala. Gue juga kasian tau ngeliatnya.” Sahut Tasya menyalahkan.“Kalo emang Lu suka,nyatain aja langsung!”Sambung Tasya mengejek.

“Emang,Gue udah ngagumin dia sejak waktu kita SMP dulu,pas awal dia masih jadi anak baru. Sampai sekarang kelas 3SMA-pun aku masih ngagumin semua tingkah laku dan semua yang ada didirinya. Gue seneng bisa satu sekolah dan satu kelas lagi. Tapi kalau mesti nyatain suka,nanti ajalah gue belum berani.” Ujarnya lesu. Kekaguman Lisa kepada Reza memang sudah cukup lama,bahkan dia orang yang tidak pernah absen mengirimi surat yang berisi puisi,kata-kata romantis,dan lainnya semacamnya. Namun Dia tidak pernah membubuhi nama aslinya dalam semua suratnya itu,otomatis Reza pun sering bertanya-tanya,siapakah orang yang sering mengiriminya surat serta coklat untuknya. Bahkan sahabatnya,Tasya.Belum tahu jika Lisalah orang yang sering menaruh surat dikotak pos rumah Reza.

***

Tibalah hari yang dinantikan Lisa,dia benar-benar berharap pujaannya sejak SMP itu datang kepadanya dan memberikan baju seragam miliknya. Dengan harap-harap cemas dia menanti disekolah,dia datang pagi hari tidak seperti biasanya,karena dia tahu Reza adalah siswa yang sering datang pagi.

“Sa,Lisa!”Seru Tasya dari kejauhan.

“Ada apa sih Lu teriak-teriak.Gue gak budek woy!”Sahutnya kesal.

“Si Reza Sa,si Reza...” ucapnya tergesa-gesa.

“Lu kenapa sih Sya? Kesambet Lu pagi-pagi?”Tanya Lisa kebingungan.

“Si Reza meninggal pagi tadi Sa!”Ucap Tasya menahan Isak tangis.

“Sya,Lu jangan bercanda dong,gak lucu tahu!”

“Buat apasih Gue bohong Sa,Lu kan tahu gue tetanggaan sama Reza. Kemarin malam,kata IbunyaDia jatuh pingsan,yang ternyata penyakit kanker otaknya kambuh lagi.”

“Kanker otak?” tanya Lisa spontan

“Iya,Gue juga baru tahu soal penyakitnya itu Sa. Dan berita kematiannya itu baru tadi pagi gue dengar dari Mamah.” Jelas Tasya.Terlihat mata bening Lisa mulai berkaca-kaca,Dia tersentak mendengar berita duka itu,penantiannya seolah sia-sia. Bukan tentang kepergian Reza yang Dia tangisi,tetapi tentang perlakuan Dia padanya. Dia menangisi kesalahan yang telah dia lakukan kepada sang pujaan hatinya itu. Orang yang dia kagumi,justru harus meninggal saat dia mengerjainya,bukan lagi ketika memberikan surat romantis atau coklat. Dia segera mengajak Tasya untuk berkunjung kerumah Reza. Setibanya disana,terlihat dalam pandangannya kain putih sudah menutupisekujur tubuh Reza. Hanya tersisa wajah manisnya yang belum tertutup kainkafan itu. Tak lama Ibunda Reza datang menghampiri Lisa dengan memberikan pakaian miliknya.

“Ini apa Bu?” Tanya Lisa

“Oh,entahlah.Kertas itu ibu temukan didalam bungkusan plastiktadi” Jelas ibunya yang terus meneteskan airmata.

“Maaf yah Bu,aku sebenarnya tidak bermaksud untuk menyuruh Reza,tetapi karena aku suka padanya,jadi terpaksa aku lakukan ini.”Lisa mencoba menjelaskan perbuatannya itu. Terlihat raut penyesalandisekeliling wajahnya,dia memeluk Ibunda Reza. Tanpa menjawab, Ibunya mengiyakan permintaan maaf darinya. Sesaat Lisa membuka surat itu,disana bertuliskan:
“Mohon maaf jika aku mencucinya kurang bersih. Oh iya,aku kemarin bermimpi bahwa kamulah orang yang sering mengirimiku surat dan coklat,namun entahlah itu. Aku minta tolong padamu,jika kamu tahu siapa orangnya,sampaikan salam terima kasihku untuknya.”

Reza.

“Mimpimu memang benar,Akulah orangnya.Maafkan Aku Reza.” Jawab hatinya yang menjatuhkan airmata diatas surat itu.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...