Skip to main content

Ulasan Puisi "Ode untuk Kemanusiaan" Karya Muhammad Fadhly (FAM Padang)

Puisi ini berisi sebuah gambaran tentang fenomena hukum di Indonesia. Tak hanya itu, hati nurani yang seolah buta ketika harta menjadi ukuran layak-tidaknya hidup seseorang, turut diangkat. Ibarat kata, siapa yang miskin, dia yang kalah. Artinya, hukum seolah dapat dibeli dengan uang. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan, menjadikan jarak antara kaya dan miskin itu kian kentara. Sayangnya, garis mencolok antara keduanya jarang sekali menjadi bahan renungan untuk memperbaiki kesenjangan. Termasuk mereka yang acapkali menegaskan bahwa "Hukum itu tidak pandang bulu."

Penulis cukup baik menyampaikan sindiran atas hal ini. Lewat bait-bait puisinya, penulis seolah bercerita. Sosok "nenek tua" dan "bocah" yang kelaparan sebagai gambaran dari kemiskinan. Ini nampak pada bait pertama.

Kemudian pada bait kedua, kita mulai melihat sebuah nasib, di mana nenek itu secara tak sadar memasuki jebakan hukum. Ya, ia benar-benar masuk ketika dengan terpaksa mengambil "sesuatu yang bukan miliknya". Berikut bunyi bait kedua:

Nenek tua tak tahan
Dengar tangisannya
Nekad menyusupi ladang
Menggali umbi bukan miliknya

Pada bait keempat, kita akan bertemu tentang keadilan yang palsu. Hukuman berat lalu menimpa sang nenek ketika kekayaan—yang tergambar lewat sosok "si tuan ladang"—menuntut atas umbinya yang hilang. Sementara itu, "umbi" adalah metafora dari sesuatu yang tak berarti atau dapat dikatakan sesuatu yang sepele bagi kebanyakan orang. Sesuatu yang tak berarti inilah yang memaksa sosok nenek untuk melakukan kesalahan kecil. Alasannya sederhana: karena "bocah" tengah kelaparan.

Lalu, ke manakah hati nurani ketika sesuatu yang tanpa arti di mata kebanyakan manusia itu menjadi sesuatu yang patut diperdebatkan? Akan dapat dimaklumi jika dua belah pihak ini sama-sama menderita. Namun akan sangat memperihatinkan ketika salah satunya hidup dengan harta serba melimpah.

Penulis cukup dalam memaknai keadaan yang sering kita jumpai. Hukum bagaikan meja transaksi yang saling menguntungkan bagi semua pihak, kecuali mereka yang "tak punya uang". Maka, hukum seolah memihak pada yang kaya. Keadilan menjadi suatu hal yang mustahil bagi yang tidak kaya.

Secara keseluruhan puisi ini sarat pesan membangun dan mengandung nilai-nilai pencerahan lewat diksi yang tersusun nyaman. Ide yang diambil pun sangat baik. Hanya saja dalam penyampaian perlu lebih diperdalam lagi dengan banyak berlatih.

Sedikit koreksi dari Tim FAM Indonesia, yakni dari segi EYD, pada bait kelima baris pertama. "Hadirinpun" seharusnya ditulis terpisah menjadi "hadirin pun". Kemudian "di denda" seharusnya digabung menjadi "didenda", karena dalam hal ini, denda berperan sebagai kata kerja pasif. Juga kata "Untuk" pada judul, baiknya ditulis "untuk" (huruf kecil). Selebihnya tak ada.

Saran dari FAM agar penulis terus menggoreskan tintanya. Jangan berhenti menulis dan terus berlatih. Temukan ide-ide hebat yang ada di sekitar, lalu jadikan semua itu sebuah nilai yang berarti bagi para pembaca.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT NASKAH PUISI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Ode Untuk Kemanusiaan


Muhammad Fadhly

Malam mendendangkan
lagu pengantar tidurnya
bocah tak jua diam
meratapi laparnya

Nenek tua tak tahan
dengar tangisannya nekad menyusupi ladang
menggali umbi bukan miliknya

Malang menimpa
naas si nenek tua
ketahuan si tuan ladang dan keras mendakwanya

Tiga setengah tahun penjara
palu vonis menggema
Jatuh air mata sang Hakim
tersentuh nuraninya

Hadirinpun di denda
untuk bebaskan nenek tua
hakim berhati mulia
tegakkan sila lima

Malu si tuan ladang
yang miskin nuraninya
tega menindas si lemah tak berdaya

Hakim berhati mulia
buka mata hati manusia
pedulilah pada si lemah
agar keadilan
bukan hanya untuk Si kaya.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...