Skip to main content

Belajar Kehidupan dari Seorang Gadis Desa

Harian Galamedia Bandung, edisi Rabu, 8 April 2015
Oleh Deffy Ruspiyandy
Peminat Buku di Bandung
Sebuah novel hadir dengan mengambil seting Pasundan, tepatnya di Kabupaten Ciamis. Tokoh Amila merupakan tokoh sentral yang menjadi daya pikat novel ini hadir dengan segala bentuk perjuangan hidup dari sejak kecil sampai mendapatkan pasangan hidup. Ia wanita yang selalu diliputi kegalauan tatkala rasa cinta berkecamuk dalam hatinya. Dia berusaha mendapatkan cinta sejati yang diharapkannya, namun takdir Tuhan pulalah yang menentukan siapa jodoh terbaik bagi dirinya.

Amila, adalah sosok wanita yang lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama serta menghindari nilai-nilai negatif dalam kehidupan yang dapat merusak kepribadian tokoh utama dari novel setebal 502 halaman ini. Pergulatan batin harus dialami Amila, bahkan ia cenderung menjadi “pemberontak” untuk lepas dari kemapanan yang ada, dalam arti positif. Walau seorang gadis desa namun ia memiliki pemikiran yang maju demi merenda cita-citanya. Hanya ia pun tetap menyerukan semangat emansipasi tetapi masih dalam koridor kodratnya sebagai wanita yang memeluk agama Islam. Ia terus berjuang namun mampu pula memfilter sesuatu yang bisa merusak kepribadian dirinya.

Sang tokoh akhirnya sadar ketika berbagai episode kehidupan mampu menempa dirinya untuk menjadi wanita yang bijak di dalam memahami sesuatu yang terjadi di saat menimpa dirinya. Namun tetap saja sebagai seorang wanita, Amila memiliki kelemahan yang nyata, di mana ia kadang terjebak oleh perasaannya sendiri, bahkan inilah yang sesungguhnya menjadi penyebab tercerabutnya impian yang ingin diraihnya. Pada satu sisi ia berhasil mewujudkan dirinya sebagai penulis yang sukses menulis novel. Hanya saja untuk mendapatkan dambaan hati ia seringkali mendapatkan kekecewaan.

Penulis memaparkan kisah wanita ini memilih alur maju atau mirip dengan sebuah kisah biografi yang ditulis dalam sebuah novel. Sosok Amila kecil, remaja sampai menjadi wanita yang siap berumahtangga dihadirkan sesuai perjalanan berliku yang dilaluinya. Penulis mampu mengatur ritme, antara kisah satu dengan kisah lainnya sehingga pembaca sulit melepaskan diri dari perangkap untuk terus membaca kisah ini. Tiga perempat ketebalan novel ini menghadirkan pergulatan batin Amila dan seperempat ketebalan lainnya dipenuhi dengan kejutan yang tak terduga dan mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca.

Novel ini tidak sekadar menghadirkan sisi hitam putih kehidupan. Lebih dari itu, novel ini bagaimana seharusnya kita semua belajar untuk memahami kehidupan. Semua itu dapat ditemukan pada realita yang dijalani oleh siapa pun.

Amila sendiri adalah gadis yang dibesarkan di sebuah desa di Kabupaten Ciamis, namun berpikiran maju dan tidak ketinggalan zaman. Akan tetapi, ia masih memerhatikan tentang norma dan agama yang dianutnya. Itu semata-mata dilakukan sebagai konsekuensi menjadi seorang muslimah yang berkewajiban menyelaraskan hidupnya agar tak salah jalan.

Keunggulan novel ini sendiri dikuatkan oleh kepiawaian sang penulis di dalam memilih kata-kata atau diksi, di mana yang membaca pun merasakan kerenyahan kalimat yang disusun secara rapi. Juga yang tak kalah menariknya, bagaimana penulis mampu menghadirkan tentang kondisi Kabupaten Ciamis dengan sebenar-benarnya berdasarkan fakta yang ada karena memang penulis kelahiran Kota Manis ini yang saat sekarang tinggal di Kediri. Kehidupan daerah tersebut digambarkan pada saat sekitar tahun sembilan puluhan. Itu terlihat dari pengungkapan nama-nama daerah seperti Cilimus, Panawangan, Kawali, Ceker Kidang dan nama desa lainnya.

Tak dapat disangkal pula, penulis pun memiliki misi yang cukup jelas. Selain menghadirkan kisah dalam sebuah novel, ia mampu pula dalam novelnya mengemas pentingnya budaya literasi dalam kehidupan. Tidak hanya di Kota Kembang tetapi Kabupaten Ciamis pun perlu mengajaknya untuk melek baca. Dalam novel itu bagaimana ia mampu menyelipkan tentang perjuangan Amila, Zahda Amir, Mirna dan Yan yang membangun Taman Bacaan Galuh sebagai bentuk kepedulian penulis membangun budaya literasi. Juga pada taman bacaan itulah, kisah novel itu ditutup.

Memang pada akhirnya penulis mengajak pembaca untuk menentukan sikap di dalam menilai sebuah kehidupan. Namun penulis begitu jelas memaparkan, bila kisah dalam novel ini adalah rekaan tetapi penulis mengajak pembaca untuk merenung tentang sebuah ketidakpastian dan kenyataan itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang dijalani manusia seperti yang telah dialami Amila. (*)

Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...