Skip to main content

Merekonstruksi Potret Sosial Lewat Cerpen

Koran Madura
Judul buku: Sepucuk Surat Beku di Jendela
Penulis: Aliya Nurlaela
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: I, 2015
Tebal: 152 Halaman


Dewasa ini karya sastra di Indonesia terus tumbuh seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman. Demikian pula komunitas pencinta sastra yang terus bergeliat dan menjadi sendi terhadap nasib karya sastra itu sendiri. Tetapi, yang menarik disimak adalah karya sastra sebagai salah satu corong untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Selain itu, karya sastra—apa pun bentuknya—dijadikan sebagai fungsi kontrol sosial yang ada di masyarakat.

Buku Sepucuk Surat Beku di Jendela ini tampaknya betul-betul menguatkan pandangan tersebut. Kumpulan cerita pendek yang terhimpun dalam buku karya cerpenis Aliya Nurlaela tersebut banyak menyajikan potret sosial yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam cerpen yang berjudul Bell’s Palsy, misalnya. Si penulis dengan jitu memberikan penggambaran yang lugas mengenai penyakit yang menyebabkan kelumpuhan saraf wajah separo itu. Namun, yang menarik di sini justru komunikasi yang dijalin oleh si pasien dan dokter. Diceritakan di situ bagaimana beratnya beban mental yang ditanggung oleh si pasien hingga ia mudah meluapkan kekesalan pada beberapa dokter yang ia datangi. (hal. 75-76). 

Bell’s Palsy merupakan penyakit yang mampu membuat wajah menjadi tidak simetris. Urat-urat yang menegang di balik telinga akan menciptakan rasa sakit yang tak tertahankan. Penyakit ini cukup berbahaya apabila tidak tertangani secara cepat dan tepat karena dapat mengakibatkan cacat permanen. (hal. 79).

Bagaimana sang penulis bisa menceritakan penyakit ini dengan begitu detail dan lugas seolah tanpa cela? Ternyata, dari pengakuan Aliya sendiri, dirinya memang pernah mengidap penyakit tersebut yang sempat membuatnya down. Bagi dia, amat penting memberikan pemahaman tentang penyakit ini kepada masyarakat dan jalan yang dipilih adalah cerpen tersebut. 

Tampaknya penulis cermat menangkap kejadian sosial yang lekat dengan khalayak untuk kemudian diolah menjadi sebuah cerita pendek yang memikat. Cerpen berjudul Kolom Pekerjaan menjadi bukti sahih.

Jamak diketahui bahwa saat tahun ajaran baru, para orangtua diberi lembaran untuk diisi. Nah, salah satu kolom yang nyaris selalu ada ialah kolom pekerjaan. Cerita ini dibuka oleh pengalaman seorang tokoh bernama Hamzah yang tinggal di Tangerang bersama istri dan anak tunggalnya. Penampilannya perlente dan suka memakai barang-barang bermerek.

Suatu saat ia harus mengisi lembaran untuk anaknya yang akan memasuki tahun ajaran baru. Terasa menggelikan karena ada kolom tentang berapa pendapatan orangtua per bulan serta apakah rumahnya berlantai keramik, semen, atau tanah. Termasuk kolom sumbangan untuk sekolah yang sudah dilengkapi dengan nominal-nominal tertentu. Hal seperti ini biasa terjadi di mana saja saat musim tahun ajaran baru. 

Karena ragu, Hamzah mengosongkan kolom pekerjaan lantaran ia sendiri bingung hendak menuliskannya. Sebab, pola kerjanya khas dan tidak seperti pegawai kebanyakan. Ternyata pihak sekolah justru memanggilnya dan menanyakan pekerjaannya yang sebenarnya. Hamzah lantas menjawab wiraswastawan. Namun, ternyata jawaban itu dianggap belum memuaskan. (hal. 100).

Hamzah terusik dengan kondisi sosial seperti itu. Hingga akhirnya ia mengakui bahwa dirinya seorang penulis. Tentu saja pola kerjanya berbeda dengan karyawan atau pegawai kebanyakan. Ia lebih banyak duduk di depan komputer. Kendatipun demikian, diakui bahwa profesi penulis tidak kalah menjanjikan dibandingkan pegawai kantor atau sekadar menjadi birokrat.  

Memang sudah menjadi pemahaman umum bahwa yang namanya bekerja itu adalah berangkat pagi-pulang sore. Meskipun tidak membawa hasil, yang penting keluar setiap hari, itu sudah dianggap bekerja. Sementara yang duduk di rumah, di depan komputer, cenderung bukan dianggap bekerja. Bahkan, kadang yang seperti itu mendapat julukan agak ekstrem: pengangguran. Meskipun, penghasilannya boleh jadi lebih tinggi daripada pekerja kantoran. Sungguh sindiran yang amat jitu!

Buku ini berisi 17 cerpen yang semuanya mencoba membingkai alur kehidupan sehari-hari. Selain kritik sosial, tema cinta yang menjadi patronase sebuah karya sastra juga tidak ketinggalan mewarnai buku Sepucuk Surat Beku di Jendela ini. Yang istimewa, cinta tidak ditampilkan secara picisan sehingga selalu menggoda pembaca untuk menuntaskan dan mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kendatipun topik yang diangkat cukup sederhana, namun ceritanya menjadi memikat lantaran dibumbui diksi-diksi yang cerdas nan bijak. Agaknya, pengalaman penulis benar-benar menjadi keuntungan tersendiri dalam mengilustrasikan sebuah kejadian yang diangkat dalam karya sastra berupa cerpen ini. Sebuah buku sastra yang memberikan banyak pemahaman baru yang menjadikannya perlu dibaca oleh siapa saja. (*)

Peresensi: Eko Prasetyo, Mahasiswa S-2 Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya, peneliti pada Bina Qolam Indonesia

Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...