Skip to main content

Ulasan Esai ‘Garuda Kembali Ke “Sangkar” Pancasila’ Karya Ichsan (FAMili Padangpanjang)

Salam literasi.

Tim FAM Indonesia mengapresiasi esai ini sebagai manifestasi kecakapan “membaca” yang dimilikinya. Bukan sekadar cakap dalam membaca perkembangan kondisi dalam negeri, namun juga membaca dengan pikiran, hingga melahirkan analisis dalam bentuk tulisan. Tema yang diangkat juga cukup aktual dan bisa menjadi bahan diskusi.

Namun, Tim FAM Indonesia memberikan beberapa catatan terhadap esai ini, di antaranya sebagai berikut:

Penulisan judul harus mengikuti kaidah penulisan judul menurut aturan EYD. Judul sebaiknya tidak terlalu panjang, maksimal empat kata saja, namun mengundang hasrat pembaca untuk mengikuti uraiannya. Misal: “Garuda Kembali ke Pancasila”. Atau “Reaktualisasi Nilai-Nilai Pancasila”.

Esai ini akan menjadi lebih ilmiah jika dilengkapi dengan teori-teori ilmiah para pakar yang relevan dengan tema yang dibicarakan, misal: teori-teori demokrasi.

Masih terjadi kesalahan penulisan di beberapa bagian. Sekadar contoh, di paragraf pertama kalimat pertama, kata “Pemilihan” (dengan huruf P besar) seharusnya pemilihan (dengan “p’ kecil). Penggunaan tanda koma pada kalimat kedua: ..... pasca melihat, hasil voting....., juga tidak perlu. Selain itu juga dijumpai beberapa kalimat tidak efektif yang membuat pembaca akan bingung. Seperti pada paragraf pertama, terdapat kalimat: Namu tidak sedikit juga yang memuji bahwa Indonesia  dan menganggap bahwa saat ini adalah tepat untuk kembali ke Ibu Pertiwi dengan sebenarnya yakni mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD seperti yang termaktup dalam penjelasan Pancasila pada sila ke empat. Mungkin yang dimaksud penulis adalah: “Namun tidak sedikit yang mendukung dan menganggap bahwa saat ini sangat tepat untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada DPRD sesuai amanat sila keempat Pancasila.” Kesalahan serupa juga terdapat di paragraf-paragraf berikutnya.

Selanjutnya, Tim FAM Indonesia menganjurkan kepada penulis untuk banyak membaca referensi-referensi ilmiah agar kualitas tulisannya bisa terus mengalami peningkatan. Selain itu, saat tulisan telah selesai dibuat, penulis perlu mengendapkannya dulu. Jangan tergesa-gesa untuk dipublikasikan. Baca ulang, kata per kata, kalimat per kalimat. Posisikan diri penulis seolah-olah adalah pembaca. Cermati dan rasakan kemudian lakukan editing jika memang diperlukan sehingga tulisan akan menjadi lebih baik.

Semoga ulasan singkat ini bisa memotivasi penulis untuk terus berjuang mencerahkan dunia dengan karya.

Salam

TIM FAM INDONESIA

www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH PENULIS ASLI TANPA EDITING]

GARUDA KEMBALI KE “SANGKAR” PANCASILA


Oleh Ichsan (ID FAM3090M)

Keputusan DPR menetapkan Pemilihan kepala daerah yang dikembalikan ke DPRD membuahkan  kecaman dan pujian. Sepertinya hal ini menjadi profesi tambahan sementara bagi sebagian masyarakat Indonesia pasca melihat, hasil voting rapat Sidang Paripurna DPR RI dalam pembahasan RUU Pilkada. Jalannya sidang yang sangat alot membuah hasil yang membuat Dunia bahkan terkejut, (demikian media asing menyampaikannya). Keputusan yang diambil DPR dalam memutuskan bahwa pemilihan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati/Walikota di pilih kembali oleh DPR, dianggap sebagai kemunduran oleh berbagai pihak dengan mengatasnamakan dirinya Suara rakyat. Namu tidak sedikit juga yang memuji bahwa Indonesia  dan menganggap bahwa saat ini adalah tepat untuk kembali ke Ibu Pertiwi dengan sebenarnya yakni mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD seperti yang termaktup dalam penjelasan Pancasila pada sila ke empat. 

Latar belakang Pendidikan masyarakat yang berbeda beda tentu membauhkan persepektif berbeda beda dalam menilai putusan yang diambil oleh Anggota DPR beberapa waktu. Salah satu kecaman yang pedas yakni dengan menganggap bahwa Rezim Orde Baru muncul kembali. Sungguh ironis, jika Kaum Intelektual Indonesia dipaksa mengkritik tanpa saling percaya. Hal ini akan membawa Indonesia pada kehancuran kepercayaan antara Rakyat dan Pemerintah. Banyaknya demo dan aksi damai lainnya  yang dirasa ditumpangi oleh oknum parpol dan pihak-pihak berkepentingan tentu juga menjadi dalang atas lanjutnya sebuah drama politik yang merusak ini. Jika konflik horizontal ini berlanjut maka bukan tidak mungkin akan memperlambat pembangunan Negara ini dari semua sisi. Mengapa tidak? Pemerintah hanya akan disibukkan dengan menjaga image, eksistensi dan “lapak harta” dalam mempertahankan kekuasaan.

Issue yang menyatakan bahwa Demokrasi 10 tahun terakhir merupakan produk import ternyata juga ditanggapi serius oleh beberapa kalangan. Ada yang membenarkan dan ada juga yang menyatakan bahwa ini kemunduran jika zaman orde baru dikembalikan lagi. Sebenarnya, jika kita wacana kembali pada azas Pancasila dan UUD 1945 dengan menerangkan kembali makna kesilaan didukung oleh peran media yang mampu menginformasikan kesemua pelosok, bukan tidak mungkin bahwa persepektif becah-belah yang terjadi bisa dikendalikan dan masa keemasan Indonesia dimana Indonesia pernah dihargai dan disegani akan kembali menjadikan masyarakat Indonesia bangga pada bangsanya, serta serentak bersama mempertahankannya. Disadari atau tidak, bahwa pancasilalah yang menyatukan perbedaan ras dan golongan diInnonesia. Jika Korupsi yang didengungkan kembali merajalela, sungguh hal tersebut hanya pengalihan isuue tanpa melakukan metode perbandingan dengan masa kekinian yang juga tidak luput dari korupsi karena sesungguhnya korupsi bukan berpengaruh pada system namun pada mentalitas bansa yang didasari pada pendidikan dasar bangsa.

Saat ini, mungkin tidak semua kalangan peduli atas tindak politik pemerintah karena tidak semua merasa memiliki. Hal tersebut terlihat jelas pada setiap gerakan yang selalu ditumpangi oknum sebagai donaturnya dan juga Nasionalisme yang benar-benar telah memudar. Hal ini sebenarnya adalah kemunduran, bukan kemajuan. Sebuah sisitem yang 10 tahun terakhir yang dianggap berjalan menuju sebuah kemajuan ternyata menghilangkan hakikat Nasionalisme bangsa. Secara sederhana, tidak semua kalangan anak muda saat ini mampu menghafal Pancasila apalagi menjelaskannya. Benar bahwa ini bukan ukuran dalam menilai ke-Nasionalisme-an seseorang dalam bernegara, namun tentu ini merupakan hal terkecil yakni pancasila sebagai azas bangsa yang harus diketahui oleh setiap warga Negara Indonesia. Sama halnya ketika seseorang beragama, tentu rukun atau syaratnya seseorang beriman pada agama tertentu menjadi perihal pokok yang harus diketahui oleh setiap insane yang beragama. Alangkah lucunya mentalitas bangsa jika masih ada yang mengangap bahwa menghafal Pancasila dan melaksanakannya dianggap kuno dan ketinggalan zaman, mau dibawa kemana Negara ini?

Inilah relitas bangsa hari ini. Mundur untuk lebih baik atau maju untuk terus merusak bangsa ini yang issuekan membangun untuk rakyat. Kemunduran kita hanyalah persepektif beberapa orang yang sebenarnya tidak demikian. Tidak semua yang terjadi dimasa orde baru yang cenderung bertangan besi dan merupakan system yang tidak baik. Pasti ada nilai positifnya. Lahirnya reformasi tentu bukan hanya didasari oleh persoalany kini sedang terjadi melainkan terkekangnya hak berpolitik daerah ke pusat serta korupsi. Sesungguhnya korupsi juga terjadi dimasa kini lebih terang terangan serta kebobrokan atas kebebasan berpolitik yang ternyata merusak nasionalisme bangsa dalam sisi toleransi.

Kini demikrasi  yang masih diberikan dengan sekatan (demokrasi pancasila) memperlihatkan, tentang bagaiamana Legeslatif merapikan barisan untuk terus memajukan sebuah bangsa dengan kesantunan Pancasila yang bersahaja. Kesantunan yang baik  dan premanisme yang dapat di hapus dimasa lalu menjadikan masa lalu tersebut layak untuk ditiru. Nasionalieme serta pendidikan ke-Pancasila-an harus kembali tumbuh subur mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah dengan menjadikan pendidikan moral dan tenggang rasa sebagai bagaian terkecil dari identitas bangsa.

Bercermin pada masa kini, setiap perbedaan selalu ditindak dengan kekerasan oleh oknum masyarakat ataupun oknum pemerintah yang keseluruhannya tidak mendidik seperti batasan dalam beragama serta toleransi atntar etnik. Nasionalime juga bukan berrarti menutup hak Asing di Indonesia. Nasionalisme adalah benteng untuk menjaga nilai kebangsaan dengan tetap membuka ruang pasrtisipasi asing sebesar besarnya tanpa mengambil posisi sebagai kontra dalam bersatu. Selama kepentingan asing tidak berlawanan dengan Asing, tentunya kebebasan diberikan sebagai bagian dari toleranransi antar bangsa.

Jika nilai kepancasilaan di hidupkan kembali, tentu Indonesia yang dikenal sejak kemerdekaan akan lebih Berjaya dengan nilai dan identitas dasarnya. Bukan hal mudah mengembalikan Garuda dalam “sangkarnya”. “Produk asing” yang dianggap lama bertahan di system pemerintahan Indonesia dan membuat bangsa Indonesia tidur pulas, pasti akan merasa tergangu dengan perubahan yang terjadi. Kesadaran yang harus ditumbuhkan adalah merasa menjadi bagian dari Indonesia yang merupakan Negara yang sangat toleransi dan pancasilais dengan tenggangrasa yang amat besarserta  UUD 1945 dan pancasila sebagai dasar. Tak ada yang menyangka bahwa perbedaa ras, etnik, agama dan lainnya dimasa lalu bisa dipersatukan oleh Presiden Pertama Indonesia. Kini Tugas Presiden baru adalah mempertahankannya dan mengembalikan Negera ke Pancasila sebagai dasar dengan mendukung keputusan DPR. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah dalam pemerintahan saat ini dengan putusan DPR yang dirasa tepat meskipun menuai pro dan kontra haruslah dihargai dan dicerdasi demi Indonesia yang makmur dan adil. Jika Garuda kembali kesangkarnya, pasti Indonesia akan kembali besar dengan mengambil bagian dari tida Negara besar di Asia.

*) Penulis adalah Seniman, dan Wakil Sekretaris Jendral PBHMI Bidang Otonomi Daerah dan Ketahanan Nasional 2013-2015

Sumber ilustrasi: anneahira.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...