Skip to main content

Bunuh Diri Bukan Jalan Pintas

Judul: Fesbuk
Penulis: Muhammad Subhan & Aliya Nurlela
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: II, November 2014
Tebal: 119 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-17404-8-4
Resensiator: Deski Ramanda

Sejak facebook diluncurkan pertamakali pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Universitas Harvard, di tahun-tahun berikutnya wajah dunia berubah. Hampir semua orang memiliki akun facebook. Dengan facebook mereka bisa saling berhubungan dengan orang-orang yang mereka kenal, mulai dari teman semasa sekolah, tetangga, hingga teman masa kecil yang tidak pernah bertemu lagi sejak berpisah.

Dengan begitu, facebook sangat berjasa dalam kehidupan sosial. Dia menjadi jembatan penghubung untuk menjalin ukhuwah antara satu orang dengan orang lainnya. Namun, tidak sedikit pula orang yang menyalahgunakan facebook untuk kepentingan sesaat yang merugikan pertemanan. Ada yang membuat akun facebook untuk menyebar teror, fitnah, paham terlarang seperti ateisme, pornografi, provokasi, dan bermacam bentuk perbuatan negatif lainnya.

Sehingga, dengan kasus-kasus seperti itu ada orang yang berpaham bahwa menggunakan facebook adalah haram. Bagi yang berpaham demikian maklum saja mungkin mereka beralasan bahwa facebook tidaklah bermanfaat dan banyak mudharatnya. Perlu kita ketahui bahwa facebook itu ibarat pisau. Jika pisau di tangan seorang penjahat, bisa dipastikan menjadi alat untuk mendukung kejahatannya. Lain lagi jika pisau berada di tangan ibu rumah tangga, maka akan menjadi alat baginya mengerjakan tugasnya di dapur. Kesimpulannya, bila facebook berada di tangan orang yang berpikir positif maka hasilnya positif pula. Demikian juga sebaliknya.

Buku kumpulan cerpen berjudul “Fesbuk” ini memuat 12 cerpen karya Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela yang ditulis dengan gaya bahasa mereka masing-masing. Kumpulan cerita di dalamnya tidak hanya sekadar fiksi ada juga yang diambil dari kisah nyata. Walau demikian tidaklah mengurangi kelebihan buku ini. Setiap cerita di dalamnya memberikan pesan moral yang berbeda-beda.

Sebagaimana sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata oleh Muhammad Subhan yang berjudul “Tukang Cerita”. Kisah ini berawal ketika seorang penulis berhasil menerbitkan karyanya berupa novel. Penulis novel itu bernama Abdul Hakim yang sudah dikenal banyak orang. Kemasyhurannya itu membuat dirinya dijuluki Si Tukang Cerita dan banyak orang yang meminta dituliskan kisah hidupnya menjadi sebuah novel.

Dari sekian email yang masuk ke inbox pribadinya ada sebuah kisah seorang perempuan muda yang menarik hatinya. Perempuan tersebut ingin mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Sebelum jalan pintas tersebut diambil gadis itu, terlebih dahulu ia ingin kisahnya dibaca dan menjadi pelajaran oleh orang lain. Maka, mulailah perempuan tersebut menceritakan kisahnya lewat sebuah pesan email ke Abdul Hakim.

Lewat pesan email tersebut perempuan itu bercerita kepada Abdul Hakim bahwa dia adalah seorang gadis yang malang. Belum sampai dua semester mengikuti perkuliahan di Kota Padang keperawanan sudah direnggut oleh pacarnya. Kemudian dia pindah ke Pekanbaru. Di sana kehidupannya semakin hancur, karena dia menganut paham seks bebas hingga hamil. Tak lama setelah itu dia menikah. Tapi sayang, pernikahannya hanya berumur sebulan saja. Setahun berselang, dia menikah lagi. Namun, usia pernikahan itu pun tidak panjang, hanya berumur tiga bulan saja.

Setelah pindah ke Tebing Tinggi dia menikah lagi. Keadaan yang sama dengan sebelumnya, bahwa rumah tangganya hanya bertahan sebentar selama sebelas bulan. Semenjak peristiwa tersebut dia semakin terjerumus ke lembah maksiat. Dengan cobaan hidup yang silih berganti menimpa dirinya membuat perempuan tersebut ingin bunuh diri. Tapi, dia tidak sanggup melakukannya karena selalu ingat banyangan mamanya yang belum lama meninggal dunia.

Tak menunggu lama, akhirnya novel Abdul Hakim yang diangkat dari kisah nyata perempuan tersebut terbit dan ‘booming’. Suatu ketika perempuan muda itu mengucapkan terima kasih kepada Abdul Hakim yang telah menuliskan kisah hidupnya. Dia juga mengabarkan kepada Abdul Hakim bahwa hidupnya sudah lebih baik karena sudah dapat pasangan yang membimbingnya kepada jalan kebenaran. Tentunya Abdul Hakim sangat bahagia dan bangga karena telah berusaha menyelamatkan hidup seseorang dengan tulisannya. Sebelum novel itu ditulis, Abdul Hakim juga pernah memberi nasihat kepada perempuan tersebut agar tidak jadi bunuh diri jika kisahnya sudah menjadi sebuah novel. (*)

Diterbitkan di:HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 31 MEI 2015

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...