![]() |
| sumber: indahnyaimanku.wordpress.com |
Hanya saja agak terasa ganjil pada baris pertama yang berbunyi: "ketika kewajiban menjadi kebutuhan". Kewajiban tentu cenderung mengarah pada suatu kebaikan, misalnya "wajib bekerja", "wajib salat", "wajib menghormati kedua orangtua", dsb. Lalu, ketika itu menjadi sebuah "kebutuhan", bukankah justru lebih baik?
Mungkin ada situasi lain sehingga kebaikan dari kewajiban itu menjadi sangat buruk sesudah berubah jadi kebutuhan. Atau dari awal memang tidak ada kebaikan dari kewajiban itu, seperti misalnya, kita diwajibkan kerja paksa tanpa upah, atau diwajibkan membayar upeti pada raja yang lalim.
Dari segi EYD, tidak ada kesalahan eja. Hanya dari penyajian dan pilihan diksi yang kurang.
Saran dari Tim FAM agar penulis terus berlatih dan hendaknya tidak ragu untuk bermain kata. Tidak memakai diksi "berwarna" tidak masalah, pun bila memang menginginkan diksi "warna-warni" juga tidak soal. Semakin sering bermain kata dalam puisi, maka rasa yang ada dalam puisi akan semakin terasa. Teruslah berkreasi dan jangan ragu mencipta gaya puisi Anda di kemudian hari.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[Berikut Asli Puisi Penulis Tanpa Editing dari Tim FAM Indonesia]
SESAL
Fachrul Rozie Yudha Gunawan (IDFAM3381M)
Ketika kewajiban menjadi kebutuhan
Ketika pertemuan menjadi perpisahan
Ketika persahabatan menjadi permusuhan
Ketika kehormatan menjadi kehinaan
Ketika hidup tak lagi berarti
Ketika cinta tak lagi indah
Ketika mimpi tak lagi berharap
Ketika semuanya telah pergi
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment