![]() |
| ilustrasi |
Pilihan diksi yang lugas begitu mudah dicerna, hingga kurang ditemukan kejutan atau sentakan yang menggoda sebagaimana seharusnya pembaca bisa menikmati sebuah puisi. Namun tentunya, puisi selalu bebas dibentuk seperti apa oleh pembuatnya; tidak ada aturan sebuah puisi harus begini atau begitu, sebab itu hanya akan mengekang daya cipta seorang penulis puisi. Selama puisi mampu menuangkan rasa, seitdaknya begitu, ia sudah bisa disebut "puisi".
Ada beberapa koreksi penulisan, di antaranya: "ku harapkan", "bsa", dan "inggin" yang mestinya ditulis "kuharapkan", "bisa", dan "ingin". Pesan untuk penulis adalah latih kepekaan Anda pada suasana sekitar. Gunakan daya khayal sekaligus rasa yang tinggi, sehingga menulis puisi tidak sekadar membuat gambaran dalam kepala, tetapi juga mengundang debaran tak tentu di hati, bila memang puisi itu berisi tentang derita, misalnya.
Baca juga karya-karya penyair lain. Semakin Anda banyak membaca dan berlatih, maka suatu saat puisi yang tercipta akan lebih memiliki rasa dan daya kejut. Jangan berhenti menulis.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
Terdiam
Oleh Fitri Wahyuning
(IDFAM3325U)
Aku bermimpi
Menggapai apa yang kuharapkan
Menari nari
Dalam impian itu
Namun,aku akhinya terjatuh
Dari apa yang bukan ku harapkan
Tak seorang pun menolongku
Yang ada hanya melihatku
Dari kejauhan..
Dan semakin jauh
Seperti tertinggal bus kota yang Semakin melaju
Aku terdiam namun pikiranku tak bsa diam
Aku inggin bergerak namun aku tak bisa bergerak
Seseorang tolong
Aku....
Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment