![]() |
| NET |
Tapi semua sudah berubah atau semua sudah terlanjur jauh dari maunya si "aku", hingga hanya lelah yang didapat. Kalau dibilang bertepuk sebelah tangan, rasa-rasanya tidak juga. Kalau dibilang ternodai orang ketiga, rasanya juga kurang pas. Maka, inilah ketidakpastian, yang rasanya jauh lebih pahit dari apa pun. Jelas sudah kenapa begitu lelahnya "aku" ini.
Saran untuk penulis, kembangkan karya-karya ke depan. Gali tema-tema yang lebih luas dengan jalan masuk yang ditempuh dengan banyak cara. Menulis rasa dalam puisi tidak harus selalu mengikuti arus. Tentang arus dengan perbanyak mencoba gaya lain, juga dengan pemilihan diksi yang menantang dan tidak umum. Pelan dan pasti, nanti Anda akan temukan gaya sendiri yang bisa jadi khas dan sulit "ditiru" orang lain, hingga istimewalah puisi yang Anda buat. Jangan lelah berpuisi dan puisi tentunya mengundang hasrat yang besar untuk belajar mengolah rasa dan pikiran. Bukan begitu?
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING
AKU LELAH...
Karya: Walrina (IDFAM3345U)
Aku lelah bertanya padamu yang hanya diam
Aku lelah bertanya padamu yang hanya membisu
Aku lelah mencari kepastian akan cintamu
Aku lelah mencari kepastian akan hatimu
Mengingatmu justru menyakitkan sanubariku
Mengingatmu justru menyesakkan dadaku
Mengingatmu justru meremukkan tubuhku
Namun tak mampu jua ku lupakanmu sepenuhnya
Walau kaulah kenangan terpahit dalam kenyataan hidupku
Namun kau pernah jadi madu dalam hari-hariku
Samboja, 26 Agustus 2011
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment