Skip to main content

Ayo, Bangkitkan Kreativitas Menulismu!

NET
Nah, ketika menulis sudah menjadi pilihanmu, otomatis setiap waktu kamu akan mencari hal-hal baru yang lebih menantang. “What? Apakah berkutat dengan tulisan yang apa adanya kurang asyik, gitu?” Bukan begitu, Bro. Ini demi sensasi rasa baru dalam tulisan. Daripada curiga dulu, yuk kita simak penjelasannya ya. 

Begini, sejak zaman dahulu kala hingga zaman generasi kamu sekarang ini, sudah banyak tulisan yang lahir—tak terhitung jumlahnya. Kamu bisa bayangkan, dari ribuan—bahkan jutaan—karya itu, beragam tema sudah ditulis. Andai  kamu mampu buat datanya dan kamu urutkan dari karya-karya para penulis terdahulu, yakin deh kamu akan geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, hampir semua tema sudah ditulis dan tak ada celah lagi bagi kamu untuk menemukan tema baru. So, bisa-bisa kamu mundur jadi penulis!

Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu. Meskipun tema-tema yang sudah ditulis itu beragam, tapi garis besarnya sama; tentang kebenaran, kasih sayang, cinta, impian, keadilan, masa depan, kemiskinan, kemanusiaan dan seputar  hidup dan kehidupan manusia. Intinya, penggarapan tema hanya berkutat di situ-situ saja. 

Tapi, mengapa di setiap zaman ada saja tulisan yang ‘laku’—bahkan laris? Justru, di sinilah yang membuat penasaran. Mengapa bisa demikian? Apa pembaca tidak bosan baca tema yang diulang-ulang? Yup, jawabannya; ada sentuhan kreativitas!

Ya, kreativitas adalah sesuatu yang mutlak dimiliki seorang penulis. Otomatis, hal ini menantang penulis untuk banyak membaca, membuka kamus, mendengarkan orang bicara dan mengasah tulisan tak kenal lelah. Sebab, kreativitas adalah pencarian, perburuan dan perjuangan dalam berkarya. 

Berkat kreativitas itulah, penggarapan tema yang sudah umum akan mendapat sentuhan berbeda, khas dan unik. Sesuatu banget! Hingga (bisa jadi) pembaca ‘terhipnotis’, terhanyut atau terinspirasi. Padahal tulisan yang kamu suguhkan, temanya biasa-biasa saja dan sudah banyak digarap orang (misal; tema meraih impian). 

Sudah banyak penulis pendahulumu yang nulis seperti itu. Yang bukunya laris dengan tema tersebut pun, tak kurang-kurang. Tapi kenapa tulisanmu disukai? Bahkan pembaca seolah menemukan bacaan baru yang belum pernah digarap siapapun? Sekali lagi jawabannya; berkat sentuhan kreativitas!

Analoginya begini deh. Kamu tahu kulinernya orang Sunda? Orang Sunda itu kreatif memberi nama-nama makanan (terutama makanan ringan). Bukan mentang-mentang saya orang Sunda ya (he he). Kreatif gimana? Coba kalau kamu berkesempatan jalan-jalan ke Tanah Pasundan, di sana kamu akan menemukan banyak sekali nama-nama makanan yang unik. Contohnya: cireng, cilok, cimol, comro, comet, colenak, sukro, misro, gehu, batagor, basreng, BCA de el el. 

“Wow, apa itu? Orang Sunda makan comet?!” pekikmu keheranan. Eit, bacanya jangan ‘komet’ tapi ‘comet’(kalau komet benda luar angkasa dong. Tidak seektrim itu kalee he he). 

“Tapi BCA juga dimakan?” tanyamu, belum menyerah. 

Nah, kamu penasaran kan? Asal kamu tahu, meskipun nama makanan itu beragam tetapi bahan dasarnya kebanyakan sama. Makanan yang bersuku kata ‘ci’, itu artinya terbuat dari ‘aci (bahasa Sunda)’. Aci adalah tepung singkong.  

Cilok adalah aci dicolok. Yaitu makanan yang terbuat dari tepung singkong, dikukus, ditusuk pakai bambu/lidi, lalu dicelupkan dalam sambal bumbu kacang.

Cireng adalah aci digoreng. Yaitu makanan yang terbuat dari tepung singkong yang digoreng. 

Cimol adalah aci dikemol. Yaitu makanan yang terbuat dari tepung singkong yang digoreng, diberi cabe bubuk kering atau sambal, dan cara makannya dikemol (dikulum). 

Nah... bahannya sama, bukan? Sama-sama terbuat dari tepung singkong. Yang membedakan adalah cara mengolah dan memberi nama. Itu artinya, ada sentuhan kreativitas. Hingga tepung singkong yang awalnya biasa saja, menjadi luar biasa dan unik. 

Coba kalau nama makanan ringan tersebut tidak variatif, pasti tidak menarik. Tidak unik. Tidak menimbulkan rasa penasaran untuk mencicipi dan terkesan biasa-biasa saja. 

Variatif dan unik itulah yang membuat menarik. Comro (oncom di jero), comet (oncom saemet), colenak (dicocol enak), sukro (suuk di jero), misro (amis di jero), gehu (toge tahu), batagor (bakso tahu goreng), basreng (bakso digoreng), BCA (bakso ceker ayam). Keren, bukan? Padahal bahan dasarnya sama. 

Begitu pun  dalam menulis. Tema yang digarap bisa saja sama, sudah umum, sudah ribuan kali ditulis orang--tapi berkat sentuhan kreativitasmu dalam mengolah dan memberi judul—tema tersebut menjadi unik dan menarik. So, bangkitkan kreativitas menulismu!

“Lalu, bagaimana caranya memantik kreativitas menulis?”

Oke, ada tips-tips sederhana yang bisa kamu pakai.

Pertama, coba tulis cerita bergaya sinetron (drama TV). Kalau kamu lihat sinetron di televisi, sering ditemui beberapa adegan, makanan atau gambaran lokasi yang tampak nyata di depan mata (bahkan tak sedikit yang dilebih-lebihkan). Nah, kamu pindahkan gambaran nyata tersebut dalam ceritamu. 

Contoh: Baru sekarang aku menerima makanan selezat ini. Bayangkan, teksturnya lembut dan licin. Ada serutan cokelat di atasnya, dipermanis buah cherry yang merah menyala. Ah, corong dari kue crape kering begitu elegan menopang di bawahnya. Benar-benar ice cream yang yummy dan menggoda. Sontak, aku setengah berlari untuk mencoba lagi dan lagi. Aku ketagihan!

Kedua, coba deh sisipkan dialek dalam tulisanmu. Kamu orang mana? Sunda, Minang, Papua, Madura, Jakarta atau lainnya? Pasti kamu punya daerah asal. Nah, dialek adalah ungkapan-ungkapan khusus yang bersifat lokal atau kedaerahan. Sesekali buat saja ceritamu dengan tokoh-tokoh yang berasal dari daerah tertentu. Lalu tokoh-tokoh tersebut berdialog dengan dialeknya. 

Contoh: 
“Euleuh...euleuh itu si Akang, makin lebar saja senyumnya,” ujar Nyi Rasti sambil menatap sosok lelaki di hadapannya. 

“Yaelah Neng, dompet gue udah tebel. Rimba Jakarta emang bikin gue kaya, meski status gue pemulung sampah doang,” jawab Darta bangga sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya. 

“Bah, macam mana pula kau ini? Dompet tebal dipamer-pamer. Memangnya Rasti mata duitan, Bung!” Bentak Bang Nurman sambil melotot ke arah Darta. 

Nah, kamu juga bisa menyisipkan dialek dalam ceritamu agar cerita lebih hidup dan karakter tokoh lebih menonjol. 

Ketiga, coba deh sesekali gunakan kata seru. Penambahan kata seru dalam tulisanmu, benar-benar membuat seru. Tanda seru tidak harus ditulis di akhir dialog saja lho, tetapi kamu juga bisa menambahkan tanda seru dalam kalimat langsung. 

Contoh: 
Alamak! Pesona kota ini benar-benar memukau. Lihat, di tengah kota itu ada monumen bunga ber-cat ungu dengan lampu hias yang menjuntai ke bawah. Jika malam tiba, lampu-lampu itu bercahaya penuh warna. Wow! Makin cantik saja kota ini. Luar biasa!

Nah, sentuhan tanda seru dalam ceritamu membuat pembaca makin semangat untuk membacanya hingga titik terakhir. Seru, bukan? Tapi ingat, jangan semua paragraf kamu bubuhi tanda seru. Bisa-bisa ceritamu tidak jelas juntrungnya, dan membuat tegang sepanjang membaca. Tidak menarik lagi, tidak menjadi kejutan dan sangat berlebihan. So, aturlah porsinya sebaik mungkin. 

Keempat, gunakan padanan kata. Agar tulisanmu tidak membosankan akibat kata yang diulang-ulang, jangan lupa buka kamus dan cari padanan kata (sinonim). Kamu akan menemukan banyak kata pengganti yang bisa dijadikan bekal tambahan dalam tulisanmu. Terkesan lebih kreatif dan tidak membosankan, meskipun secara makna (pengertian) sebenarnya sama. 

Contoh kata ‘pendiam’. Sesekali bisa kamu ganti dengan kata ‘anteng’, ‘kalem’, ‘rileks’, atau ‘tenang.’ So, kamu pasti bisa!

Oke guys, itu hanya sekadar tips saja. Kamu bisa mengorek dan memburu tips-tips kreatif lainnya yang lebih hebat dan dahsyat. Satu hal yang perlu kamu ingat; sebanyak apa pun tips kreatif yang kamu miliki, kalau tidak praktik menulis, tidak akan berarti apa-apa. Hanya teori yang mampir sejenak, setelah itu menguap lagi. Jadi kuncinya, kreativitas menulis ditemukan setelah kamu rajin menulis. 

So, menulislah! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...