Skip to main content

Pesan Apa yang Kamu Sisipkan di Buku Fiksimu?

NET
Kamu yang suka nulis cerpen atau novel, pasti pernah galau soal cerita yang dibuat. Apakah harus berangkat dari kenyataan atau murni imajinasi? Atau cukup berkhayal, sekadar bersenang-senang sekaligus mengisi waktu luang? 

“Bukankah tulisan fiksi hanya rekaan?” tanyamu dalam bimbang. 

Benar, fiksi adalah karangan yang ditulis berdasarkan imajinasi pengarangnya. Bisa disebut rekaan semata. Penulis fiksi bebas menuliskan cerita sesuai kehendaknya dengan gaya yang bebas pula. Tidak perlu takut ada tuntutan ketika menuliskan tokoh jahat yang suka membunuh, merampok, korupsi, menjilat rakyat kecil dan lainnya. Toh, rekaan semata, tidak benar-benar terjadi. 

Apa yang kamu tulis, berada di dunia fiksi, bukan dunia nyata. Kamu penulis fiksi, bukan wartawan. Tokoh, setting, alur cerita dan konflik yang kamu buat adalah imajinasimu yang diramu sedemikian rupa. Sekali lagi, bukan reportase seorang wartawan yang menulis sesuai fakta (persis peristiwa yang terjadi). 

Walaupun terinspirasi peristiwa nyata, karya fiksi sudah diolah, dibumbui, tidak persis peristiwa aslinya dan tokoh-tokoh sudah disamarkan. Itulah bedanya. Kalau persis dengan fakta, lalu apa beda tulisanmu dengan tulisan reportase wartawan?

Oke, kamu catat dulu itu ya!

Kamu tahu kan Filsuf besar Aristoteles? Menurutnya, “berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan kekanak-kanakan.” Itu kata Aristoteles, lho. Pernyataannya cukup keras, namun menohok kesadaran. Kalau dipikir-pikir benar juga. Berkarya hanya sekadar untuk kesenangan diri sendiri adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada manfaat dan karya itu pun akan ditulis serampangan, tanpa rambu-rambu. Alias mengabaikan etika. 

Coba deh kamu bayangkan, kalau karanganmu murni berasal dari imajinasi semata—tanpa diramu dan mengabaikan norma-norma yang berlaku—bisa-bisa imajinasi liarmu itu sulit dikendalikan dan menimbulkan kontroversi. 

“Ow, bisa sejauh itu ya dampaknya?”

Ya, tentu. Itulah pentingnya visi, tujuan, landasan, cara pandang, de-el-el bagi seorang penulis. Meskipun yang ditulis adalah karya fiksi tapi landasannya dunia fakta. Fiksi tidak sekadar mengagungkan estetika, tapi juga etika. 

Kamu pernah baca novel “Siti Nurbaya”? Itu lho yang ditulis pengarang prosa zaman Balai Pustaka. Cerita dalam novel ini benar-benar menghanyutkan. Seolah-olah nyata dan tokoh-tokoh itu seolah pernah hidup pada zamannya. Kepiawaian pengarang dalam meramu cerita, sangat luar biasa. Bahkan, menyertakan tanggal, bulan dan tahun pada bagian cerita nisan Siti Nurbaya dan Samsul Bahri. 

Pengarang berusaha mendekatkan cerita seakrab mungkin dengan pembaca atau memberikan sugesti. Ada landasan jelas, serta sarat dengan nilai-nilai moral. Nyata-nyata tidak sekadar tulisan untuk bersenang-senang atau mengisi waktu luang. 

So, kamu juga bisa! 

Sah-sah saja kamu nulis karya fiksi yang tanpa pesan apa pun, alias hanya berekspresi lewat tulisan. Sah saja, tak ada yang melarang. Toh, itu pilihanmu. Tapi, jika kamu ingin jadi penulis yang serius, kamu harus punya tujuan; untuk apa cerita itu dibuat? Pesan positif apa yang terkandung di dalamnya? 

Seperti halnya karya sastra, seimajinatif apa pun, posisi pengarangnya pasti memiliki pijakan. Sebab, karya sastra tidak berangkat dari kekosongan tapi berangkat dari fakta, analisis dan pergulatan pemikiran. Itu artinya diperlukan wawasan. Wawasan didapat, salah satunya dari membaca. Berkat membaca itulah, karya fiksimu akan lebih berbobot. 

Nah, jadi meskipun cerpen dan novel yang kamu tulis termasuk karya fiksi, tapi harus tampak sungguhan. Bukan sekadar imajinasi kosong yang dilebih-lebihkan, sekadar mengikut selera pasar, atau hiburan semata. Tapi, ada pesan positif yang bernilai manfaat. 

Pesan positif apa? Itu terserah kamu. Pandai-pandai kamu saja memasukkan pesan positif tersebut dalam cerita yang sedang kamu tulis. So, dengan begitu isi tulisanmu akan lebih ciamik. Percaya deh! (Aliya Nurlela, Pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...