Skip to main content

Penulis Terkenal Sehari Diberi Jatah Waktu 24 Jam, Kamu Juga, Tapi Kenapa Suksesnya Beda-Beda?

NET
Dan, hari itu, kamu datang dengan wajah lesu. Murung. 

Selidik punya selidik, rupanya, kamu mengeluh karena tidak punya waktu menulis. Katamu, kamu terlalu sibuk; kerja, kuliah, ngurus rumah, dan seabrek rutinitas lainnya. Padahal, kamu ingin sekali jadi penulis sambil tetap mengerjakan kesibukanmu.

Ingat, jadi penulis bukan sekadar “ingin”, tapi harus segera kamu “praktikkan”!

Kamu lupa ya? Ketika kamu belum punya laptop, kamu bikin komitmen yang kamu tempel di dinding kamar tidurmu. Isi komitmenmu, andai kamu dapat uang beli laptop sendiri, kamu janji akan rajin menulis. Kamu akan mengirim tulisan sebanyak-banyaknya ke media massa, atau juga ke penerbit. Nyatanya, setelah laptop sudah di tanganmu—gratis pula karena hadiah ulang tahun dari ayahmu—tak satu pun tulisan kamu rampungkan. Alasan klasik, tidak punya waktu.

Begitulah, kadang, fasilitas melenakan dan membuat orang lupa pada tekadnya semula. Itu sedang terjadi pada dirimu.

Jika dirunut ke belakang, kamu mau-maunya jalan kaki ke rental komputer yang jaraknya jauh dari rumahmu hanya untuk mengetik sebuah cerpen. Cerpen itu, sebelumnya kamu tulis tangan dengan susah-payah di buku harian. Sekarang, membuka buku pun kamu enggan, apalagi memegang pena.

Salut deh untuk kesibukanmu yang seabrek itu.

Siapa sih di dunia ini yang tidak punya kesibukan? Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sebab sibuk, waktu sehari menjadi singkat dan terbatas. Kalau boleh ‘request’, setiap orang, mungkin, akan minta tambahan waktu sehari lebih dari 24 jam. Tapi itu mustahil bukan?

Sebenarnya kamu tidak perlu menyalahkan waktu, tapi salahkan dirimu sendiri yang tidak pandai menghargai waktu. Amit-amit, jangan sampai deh kamu diatur waktu, tapi kamulah yang harus mengatur waktu. 

Kamu pasti kenal mantan Presiden SBY bukan? Dulu, beliau orang nomor wahid di Indonesia yang mengurus 250 juta lebih rakyat dari Sabang sampai Papua. Kesibukannya full habis, baik urusan dalam maupun luar negeri. Waktu 24 jam tentu sangat sedikit sekali bagi beliau. Tapi, siapa sangka, SBY masih sempat-sempatnya meluangkan waktu menulis sejumlah buku. Tidak hanya itu, bahkan ia menciptakan lagu, main gitar, dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pergilah ke toko buku, kamu akan menjumpai sejumlah buku yang ditulis SBY. Kok bisa ya?

Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga sibuk. Tapi, dari kesibukannya, masih sempat menulis buku “Pemerintahan Tak Bertepi” yang menjadi rujukan kalangan birokrat. Penulis terkenal, sastrawan, budayawan, seniman yang punya usaha sampingan—tidak tok bekerja sebagai penulis—mereka juga sibuk, tapi tetap melahirkan karya yang mengagumkan. Begitu juga artis, pengusaha, militer, akademisi, masih ada juga di antara mereka yang menulis buku yang menambah kesuksesan karirnya.

Seperti halnya dirimu, mereka hanya punya jatah waktu 24 jam sehari. Tapi, kenapa suksesmu dan sukses mereka berbeda?

Tentu, dalam hidup ini, kamu jangan sering-sering melihat “ke atas”—membanding-bandingkan kesuksesan orang dengan kesuksesanmu. Sering-seringlah melihat “ke bawah”, melihat dirimu sendiri, dan selalu bertanya, “apakah aku sudah maksimal mengelola waktu untuk suksesku?” Jika belum, mulailah dari sekarang, jangan tunda-tunda lagi, hargai waktu.

Kalau dipikir-pikir, jatah usia manusia di bumi ini, rata-rata mengikuti usia Nabi Muhammad SAW, hanya 63 tahun. Jika saat ini usiamu sudah 30 tahun tapi belum juga menghasilkan karya (tulisan), kamu hanya punya sisa waktu 33 tahun lagi untuk mewujudkan karya itu. Kalau usiamu masih 20 tahun, tentu kamu masih punya jatah 43 tahun lagi. Tapi, pertanyaannya, yakinkah kamu waktu yang tersisa itu dapat kamu tempuh dengan mulus? Atau belum sampai usia 63 tahun kamu sudah ringkih dan tak dapat berbuat apa-apa lagi, atau sebelum sampai puncak usia itu kamu sudah meninggalkan dunia ini? Jika kelak usiamu lebih dari 63 tahun, bersyukurlah, kamu dapat bonus. Tapi, bonus itu menjadi sia-sia jika tidak kamu manfaatkan untuk berkarya sejak dini.

Ayo, jangan lagi menyalahkan waktu. Jangan pula menyalahkan kesibukanmu. Yang namanya sibuk tak akan ada habis-habisnya, selagi kamu hidup, dan selagi kamu masih diberi kesempatan melihat matahari terbit esok hari.

Terakhir, berapa lama kamu butuhkan waktu merampungkan sebuah cerpen? Dua jam, tiga jam, satu hari, seminggu, dua minggu, sebulan, atau setahun? (Muhammad  Subhan, Pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

  1. Kalau orang sudah bakatnya menulis, maka akan terasa enjoy dan menyenangkan.... mungkin dalam sehari orang yang kayak begitu akan lebih produktif daripada orang yang gak punya bakat menulis

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...