![]() |
| Singgalang, Minggu (23/8) |
Judul: Dewi
Ganesha
Penulis: Suryadi
(Bintang Rina)
Penerbit: FAM
Publishing
Kategori: Buku
Cerpen
ISBN: 978-602-335-032-2
Terbit: April
2015
Tebal: 272
hal; 14 x 20 cm
Membaca
sekilas judul buku cerpen ini, pembaca akan menduga kisah di dalamnya
mengandung mistik dan kepercayaan tertentu. Di dalam agama Hindu, Dewa Ganesha
adalah dewa yang populer, di samping Dewa-dewa Trimurti, yakni Brahma (dewa
pencipta alam semesta), Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), dan Siwa (dewa
perusak alam semesta). Ganesha adalah dewa berkepala gajah, yang dianggap dewa
setengah manusia, setengah Dewa. Ganesha juga dikenal sebagai dewa ilmu
pengetahuan. Dalam penulisan buku “Dewi Ganesha” bisa jadi penulis terinspirasi
dari sejarah Dewa Ganesha yang populer di kalangan masyarakat Hindu, atau murni
imajinasi belaka.
“Dewi
Ganesha” adalah salah satu cerpen yang ada di dalam buku ini. Ceritanya di
awali tentang seorang kusir andong yang membawa Darmadi dan istrinya, Suciati. Ia bercerita sejarah desa Semar Ngantuk.
Menurutnya, 60 tahun lalu telah terjadi kematian massal akibat menghirup udara
yang mengandung gas beracun. Gas itu tidak bisa dideteksi karena tidak
berwarna, tidak berbau, dan tidak ada rasanya, sehingga dengan mudahnya terbawa
angin ke mana-mana. Gas itu lebih berat dari udara dan konon kalau “mengalir”
ke suatu daerah, perilakunya persis
seperti air yang menggenangi kampung.
Bahaya yang
lebih mengerikan terjadi bila tiba-tiba angin bertiup agak kencang. Pada saat
itulah gas beracun tadi beterbangan ke segala arah, persis seperti debu yang
beterbangan tertiup angin.
Namun,
mendengar cerita itu Suciati emosi dan begitu andong tiba di jalanan menuju
desa Semar Ngantuk, tiba-tiba Suciati berlari ke arah desa yang terkenal
berbahaya. Hal itu membuat Darmadi dan kusir andong kaget. Hingga Darmadi pergi
menyusul istrinya. Benar saja, saat udara di desa itu terhirup, Darmadi merasa
ngantuk dan tertidur. Darmadi berusaha mengusir kantuknya, namun berbagai
upayanya gagal. Dalam kondisi setengah bangun, setengah tidur itulah Darmadi
mendengar dan melihat pemandangan aneh yang tidak masuk akal. Darmadi melihat
serombongan orang melintas tergesa-gesa di depannya. Beberapa orang
menganggukkan kepala kepadanya dan dibalasnya. Tetapi tawa dan sapaan mereka
dingin dan mati. Tak lama kemudian ada lagi rombongan lain. Beberapa orang juga
menyapa dirinya, tapi suasananya tak berbeda dengan yang tadi.
Dari Mbah
Kerto kenalan barunya di desa itu, didapatlah cerita, kalau orang-orang tadi
sedang terburu-buru berangkat ke Lembah Merapi untuk mengikuti upacara
menyambut kepulangan sekaligus penobatan Dewi Ganesha. Darmadi penasaran, dan
beringsut menuju Lembah Merapi. Kata Mbah Kerto, “Menurut kepercayaan di sini,
setiap 60 tahun sekali akan datang Dewi Ganesha yang baru, menggantikan Dewi lama
yang telah manunggal dengan Sang Hyang Widi.” Darmadi makin penasaran dan ingin
tahu seperti apa penobatan Dewi Ganesha yang baru. Namun, betapa terkejutnya
Darmadi ketika dilihatnya, mula-mula sang calon dewi dibaringkan, kedua
tangannya terlipat di dadanya. Setelah terbujur rapi, maka sang calon akan
ditutup dengan semacam sarcopago atau keranda yang di sebelah atasnya berbentuk
kepala Ganesha.
Bersamaan
dengan minggirnya keenam Lurah, terdengarlah suara gamelan dengan gending lagu megatruh
(lagu kematian). Suaranya sangat mendayu-dayu. Di sela-sela suara gending tadi
terdengar mantra-mantra yang yang
dibacakan dengan suasana mistik. Hasil yang diharapkan adalah kepatuhan yang
fanatik terhadap Dewi Ganesha yang baru.
Setelah
upacara selesai, sarcopago dibuka lagi. Entah bagaimana caranya tahu-tahu sang
Dewi sudah bangkit dan berdiri anggun berwibawa dengan pakaian yang sama sekali
lain dengan tadi. Busana Dewi Ganesha saat itu, menurut penuturan Mbah Kerto,
sama dengan busana Roro Jonggrang. Hanya di leher sang Dewi dan di kedua
lengannya ada kalung untaian bunga edelweiss, lambang bunga abadi. Darmadi
kaget melihat calon Dewi Ganesha yang baru ternyata istrinya, Suciati. Ia
berusaha keras merebut kembali istrinya, agar tidak menjadi Dewi Ganesha.
Cerpen ini
cukup rumit dipahami, perlu dibaca berulang-ulang dengan pikiran yang fokus.
Bagian yang cukup rumit dan kurang rasional yaitu pada bagian tokoh Suciati
yang tiba-tiba menjadi calon Dewi Ganesha. Apalagi di ujung cerita, ditutup
dengan ending halusinasi Darmadi. Namun demikian penulis telah berhasil
menggiring pembaca untuk merasa penasaran dengan memberikan kejutan di awal
cerita. Tidak hanya itu, penulis memiliki imajinasi yang patut diacungi jempol.
Daya imajinasinya kuat, deskripsi tempat mendukung dan gaya bercerita memiliki
cirikhas. Tokoh-tokoh utama (dominan laki-laki) dalam buku ini memiliki
karakter khas; berjiwa santai, hingga memberi kesan penulislah yang menjadi
tokoh utama.
Cerpen-cerpen
lainnya menarik juga untuk dibaca. Sebagian besar cerpennya terinspirasi dari
pengalaman hidup penulis yang beraktivitas di KUD, termasuk persoalan-persoalan
dalam rumah tangga. Suryadi (Bintang Rina) patut mendapat apresiasi telah
berhasil melahirkan karya di usia 72 tahun. Dia semangat dan produktif menulis,
sekaligus menunjukkan pada generasi muda bahwa usia hanyalah angka.
*)Aliya
Nurlela, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
Diterbitkan
di:
HARIAN
SINGGALANG EDISI MINGGU, 23 AGUSTUS 2015

Comments
Post a Comment