![]() |
| NET |
2. Cari alamat email korannya. (Kalau tidak dicari tidak mungkin email redaksi jatuh dari langit ke kamarmu).
3. Patuhi panjang-pendek naskahmu. (Pendek sekali pasti tidak dimuat, panjang sekali apalagi).
4. Kalau naskah sudah matang, kirim segera, jangan ditunda-tunda. (Menunda sebagian dari sifat kemalasan).
5. Buat lagi naskah baru, jangan menunggu naskah sebelumnya terbit. (Menunggu naskah terbit dulu baru nulis yang baru, kalau tidak terbit bagaimana? Nyengir).
6. Pantau korannya, jangan cuek-bebek. (Kalau tidak dipantau siapa yang mau ngasih tahu? Mending ada koran yang memberi tahu di email, tapi 90% koran sibuk dan tanpa ada pemberitahuan).
7. Jangan fokus kirim ke satu koran, kirim sebanyak-banyaknya ke koran-koran lain. (Tahu tidak, setiap bulan email redaktur menerima 100-200 naskah, dan semua disortir. Kalau layak, terbit. Tidak layak, masuk tong sampah).
8. Bertemanlah dengan penulis yang sering mengirim naskah ke koran-koran itu, berdiskusilah. (Sebaik-baik teman adalah yang mau menunjukkan jalan, memberi tahu kelemahan dan kekurangan karyamu, bukan sekadar memuji setinggi langit hingga membuatmu lupa bahwa kakimu menginjak bumi).
9. Terakhir, berdoalah setiap hari. (Semoga Tuhan membukakan pintu hati redaktur untuk mau berbaik hati menerima naskahmu) smile emotikon
Salam aktif, salam literasi!
FAM INDONESIA
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment