Skip to main content

Aceh, Puisi dan Pariwisata

Oleh Muhammad Subhan
Penulis & Pegiat FAM Indonesia

MELIHAT panorama Banda Aceh dari udara mungkin tidak ada yang mengira jika bencana besar gempa bumi dan tsunami pernah melanda kota itu. Semakin rendah pesawat turun mendekati Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, semakin memukau mata memandang keindahan alam Aceh. 

Lihatlah, nun, bukit-bukit berselimut hutan perawan. Pantai landai yang mengombakkan air laut, disambut nyiur dan bakau. Tambak-tambak nelayan, berpetak-petak, memendarkan cahaya matahari yang jatuh di permukaan airnya. Sawah-sawah tersusun rapi, menguning dan menghijau, membentang luas hingga ke kaki-kaki bukit. Sungai-sungai panjang dan meliuk-liuk bagai ular lapar, berujung ke muara, disambut samudera biru.

Nyaris tidak ada yang tahu jika air raya pernah berumah di Banda Aceh dan sebagian besar negeri di ujung Pulau Sumatera itu, hampir 12 tahun lalu.

***

Aceh menghelat acara sastra bertajuk Temu Penyair 8 Negara pada tanggal 15-18 Juli 2016. Sejumlah penyair, akademisi sastra, dan pegiat sastra hadir mengikuti acara itu. Negara-negara yang diundang adalah Iran, Meksiko, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Belakangan, perwakilan Iran tidak hadir sebab sebuah halangan.

Acara yang pertama kali digelar di Aceh ini digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Aceh bekerja sama dengan Lapena (Institute for Culture and Society) Aceh. Gubernur Aceh Zaini Abdullah membuka acara itu di Anjong Mon Mata sekaligus meluncurkan 27 buku puisi karya peserta yang mewakili 8 negara.

Selain diluncurkan, buku-buku itu juga dibedah dan dibazaarkan dalam sebuah seminar internasional yang dipusatkan di Gedung ACC Sultan Selim II Banda Aceh. 

Agenda lain pembacaan puisi karya penyair, city tour mengunjungi objek-objek wisata dan ziarah budaya, serta ditutup dengan malam kenangan di rumah dinas Walikota Banda Aceh.

***

Temu Penyair 8 Negara ini terbilang sukses sebab setiap acara berjalan sesuai agenda panitia. Di sela-sela kegiatan, di saat rehat, sesama penyair berkumpul saling bercengkerama, akrab, merekatkan silaturahmi, yang tentu menjadi barang berharga dalam setiap pertemuan.

Sebagai peserta yang turut diundang, saya sendiri menikmati pertemuan itu, bahkan di beberapa kedai kopi di tengah Kota Banda Aceh, saya sempatkan berdiskusi bersama teman-teman yang datang dari berbagai kota, membicarakan berbagai persoalan sastra, bahkan “mencuri” ilmu dari mereka. Diskusi-diskusi lepas ini tak kalah penting dari sekadar bertanya-jawab di ruang seminar.

Adalah tepat jika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh mengangkat Temu Penyair 8 Negara ini. Tentu bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa, melainkan ada sesuatu yang diharapkan Pemerintah Aceh. Setidaknya dari sektor pariwisata, pertemuan ini dapat memperkenalkan keindahan alam dan budaya Aceh yang lebih luas ke mancanegara—termasuk karya sastranya. 

Sebelum tsunami, Aceh dikenal sebagai daerah konflik. Pertumpahan darah terjadi. Hidup masyarakat tidak tenang. Kekacauan di mana-mana. Konflik nyaris mematikan berbagai sektor vital di Aceh.

Otomatis kondisi itu mengakibatkan Aceh menjadi destinasi yang “sepi” dari kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Setelah damai, dibutuhkan tangan-tangan kreatif yang dapat mengangkat harkat dan martabat Aceh kembali di mata dunia.

Dan, lewat puisi, melalui penyair dan karya-karyanya yang lain, harapan itu dapat ditumpangkan—meski kegiatan itu hanya salah satu cara membangun Aceh di jalan budaya. Banyak cara lain memang, tetapi penggagas yang berani mengangkat perhelatan akbar ini patut diberi apresiasi, bila perlu dipuji.

 “Kenangan” adalah salah satu amanat Sapta Pesona dalam dunia pariwisata selain Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, dan Ramah. Saya yakin, peserta Temu Penyair 8 Negara di Banda Aceh menyimpan kenangan yang indah terhadap Aceh, sepulang dari Bumi Serambi Mekah itu.

Mungkin saja, di antara mereka, baru pertama kali datang ke Aceh—atau sudah lama tidak berkunjung ke Aceh. Sepulang dari Aceh, penyair-penyair itu menulis puisi tentang Aceh, menerbitkan atau membacakannya di forum-forum pertemuan lain, di daerah masing-masing, dan secara tidak langsung puisi-puisi itu membantu Pemerintah Aceh menyampaikan “pesan damai” kepada masyarakat internasional, sekaligus sebagai “undangan”; datanglah ke Aceh. Aceh hari ini berbeda dengan Aceh belasan tahun lalu.

Puisi sebagai genre sastra berpotensi membangun sebuah peradaban. Sebab sastra itu indah; membawa pesan-pesan keindahan (Taum, 1997: 13). Selayaknya sastra dan kesusastraan menjadi media alternatif ketika sengkarut politik dan bencana melanda. Peluang ini yang dilihat Pemerintah Aceh untuk membangun Aceh masa depan yang lebih baik, lebih “indah” dan damai, sehingga Temu Penyair 8 Negara ini menjadi penting diselenggarakan oleh pemangku kebijakan di Aceh.

Tentu saja, di bawah langit tidak ada yang benar-benar sempurna. Di balik kelebihan pasti ada kekurangan. Tapi, yang kurang itu dapat ditutupi dengan banyaknya kelebihan, terutama pelayanan dan hangatnya sambutan. Seperti kata panitia, De Kemalawati, “segala kekurangan biarlah hanya milik kami panitia. Segala kelebihan dan kebaikan biarlah menjadi milik negeri ini, negeri Serambi.” 

Kerendahan hati panitia ini menjadi harapan, bahwa pertemuan akbar sastra di Aceh dapat menjadi agenda tahunan, berkolaborasi dengan agenda pariwisata, yang kelak menjadikan Aceh sebagai destinasi wisata unggulan, tidak saja di nusantara, tetapi juga di dunia. Dan, saya kira itu tidak mustahil. (*)

Sumber: Harian ‘Rakyat Sumbar’ edisi Sabtu, 23 Juli 2016

Ingin menerbitkan buku dan cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...