![]() |
| Serambi Indonesia, Minggu, 31 Juli 2016 |
Terbit di Harian ‘Serambi Indonesia’ (Aceh) Edisi Minggu, 31 Juli 2016
TAMBORA
tambora muntah darah malam hari
moyang kami bercerita; ketika bulan luruh
dibalut debu. api memercik kembang di langit
orang-orang mengungsi ke dompu
semenanjung sanggar yang sangar
sisa lahar menjadi peta buta
kami ingat letusan tambora dari jauh
seperti tembakan meriam bajak laut
menggelegar api halilintar
nyawa bertaruh di kejaran batu
dan muntahan lahar
tubuh-tubuh memfosil di kota itu
dikutuk ibu malinkundang
tapi berabad setelah waktu yang rumit
tambora menjadi tanah subur
anak-anak leluhur memanen uang
di gembur tanahnya
asa yang hilang
terjemput sudah.
2016
SINABUNG
bertahun-tahun lamanya kami menabung harap
membujukmu agar tidak merajuk
sebab tangismu yang pecah
telah menjadi airmata kami
apakah kami berdosa
telah berladang di punggungmu?
kami ingin dekat padamu, sedekat-lekat debu
yang mencumbu; daun kol, cabai, seledri,
kentang dan bawang, yang kami tanam dan panen
setiap waktu dan musim
tapi mengapa,
kedekatan itu tak kausambut mesra?
2016
LEMBAH ANAI
; setelah bloodmoon
orang-orang menyulam cemas di lembah anai
gemuruh air membawa lumpur. berumah di jalan
membelah rimba dan lurah. tadi malam bulan berdarah
orang-orang menyulam cemas di lembah anai
hujan badai. air terjun menjadi bah
tak ada kata di rel kereta api yang mati
kecuali lelah dan pasrah.
2015
Biodata:
MUHAMMAD SUBHAN. Menulis novel, cerpen, esai dan sedikit puisi. Bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Buku puisinya “Sajak-Sajak Dibuang Sayang” (2015). Tinggal di pinggir Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com.
Ingin menerbitkan buku dan cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment