Skip to main content

Dari EYD menjadi PUEBI


By: Gendhuk Gandhes
   
Salam jumpa sahabat FAM di seluruh Indonesia maupun di luar tanah air. Di sini saya akan sedikit mengingatkan tentang PUEBI. Tentu kita semua sudah tahu jika Ejaan Yang Disempurnakan atau biasa disebut EYD diberlakukan di negara kita sejak tahun 1972. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 no.0196/U/1075 sebagai pengganti Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik.Seperti saat ini, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan juga seni memungkinkan bangsa kita bertemu dengan budaya bangsa lain dan bahasa dari negara lain.
 
Jika dalam hal kebudayaan kita yang beragam diperlukan rasa cinta tanah air yang demikian besar terutama para generasi mudanya. Kukuh, kuat dan bersatu dalam menjaga dan melestarikan  budaya bangsa Indonesia agar tidak diambil atau diklaim bangsa lain.
   
Tidak berbeda dalam hal penggunaan bahasa. Era globalisasi memungkinkan kita berada di banyak tempat tanpa bergeser dari tempat duduk. Saat sekarang jarak sudah tidak menjadi masalah berarti. Misalnya jika kita menimba ilmu di suatu kota yang berbeda dengan Kota di mana orangtua tinggal, kita hanya perlu mengangkat gawai untuk saling melepas rindu sementara. Pertemuan dengan bangsa lain yang berbahasa lain pun sekarang sudah sangat mungkin terjadi. Semakin lama dan luas pergaulan akan membawa dampak pada perkembangan bahasa Indonesia dalam kancah percaturan dunia.
 
Penggunaan bahasa Indonesia akan menjadi bervariatif, artinya ada beberapa ucapan yang akan diselingi dengan bahasa asing. Pastinya dengan melihat siapa yang kita ajak berbincang. Tidak kita pungkiri penggunaan bahasa asing dalam pergaulan sudah menjadi camilan sehari-hari. Kadang-kadang menyelipkan kata asing maupun bahasa asing dalam sebuah percakapan ditujukan untuk mempermudah menyampaikan maksud pada golongan tertentu atau bahkan untuk memperhalus tentang suatu maksud agar tidak menyinggung keadaan tertentu. Ada juga yang menakar penggunaan bahasa atau istilah asing sebagai sebuah gengsi. Sudah kekinian jika dalam percakapan menyelipkan bahasa asing.
 
Namun, lepas dari semua masalah alasan yang dipakai dalam pemakaian bahasa asing memang tidak bisa dielakkan saat ini penggunaannya sudah semakin sering dan meluas. Semakin bertambahnya penggunaan bahasa asing dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan telah menggugah pihak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia untuk menyerap kata-kata asing tersebut.

Seperti pernah dikatakan oleh Bapak Prof. Dr. Gufran Ali I, M, S, selaku  Kepala Pusat Pembinaan Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Indonesia, bahwa bahasa Indonesia sebagai piranti penting pemersatu masyarakat Indonesia perlu dilakukan penyegaran.
 
Langkah ini dirasa perlu sebagai penambah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Untuk itu diperlukan bimbingan yang baik dan benar agar tidak merusak tata bahasa yang sudah ada. Sudah dilangsir oleh kemendikbud.go.id bahwa perkembangan perbendaharaan kata memerlukan sebuah buku pedoman sebagai rujukan dan acuan bagi berbagai penggunaan bahasa Indonesia terutama bahasa tulisan.
 
Dampak kemajuan yang begitu pesat, terutama dalam hal penyampaian pesan atau informasi menjadikan bahasa Indonesia sangat dibutuhkan dalam berbagai kesempatan. Beberapa unsur serapan pun segera dimasukkan di dalam kaidah berbahasa. Banyaknya protes dari masyarakat tentang Ejaan yang Disempurnakan yang masih perlu disempurnakan lagi, maka dirilislah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau disingkat PUEBI.
 
Tepatnya pada tanggal 30 November 2015, Permendiknas 46/2009 tentang Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku karena diganti oleh Permendikbud 50/2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Yang mana hak cipta PUEBI dimiliki oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI. Jadi secara yuridis ejaan yang kini diakui negara adalah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).
 
Diharapkan penertiban berbahasa tersebut dapat mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang sah.
 
Perubahan EYD menjadi PUEBI tidak mengubah seluruh isi dari EYD. Tiga perbedaan yang mendasar antara lain :

1. Penambahan Huruf Diftong
ai, au, ao      ---> di dalam EYD
ei, ai, ,au, ao ---> di dalam EBI
misal dalam kalimat : geiser dan survei

2. Penggunaan Huruf Kapital
Di dalam EYD : tidak diatur huruf kapital digunakan untuk menulis unsur julukan.
                           Huruf kapital hanya pada nama orang bukan nama julukan.
Di dalam EBI : huruf kapital digunakan pada unsur nama orang termasuk julukan.

3. Penggunaan Huruf Tebal.
EYD : menulis judul buku, bab dan semacamnya, mengkhususkan huruf dan nulis lema.
EBI : hanya menulis judul, bab dan semacamnya (sub bab).

Demikian sedikit pengingat tentang penggantian EYD menjadi PUEBI. Semoga kita dapat bersama-sama semakin menertibkan penggunaan EBI yang baik dan benar dalam bahasa lisan maupun tulisan.

Sumber :
- blog.unnes.ac.id
- badanbahasa.kemdikbud.go.id
- puebi.readthedocs.io
- ivanlanin.github.io

*Gendhuk Gandhes adalah nama pena dari Ratna Dewi lahir 18 november di Kota Batang, Jawa Tengah. Setelah beberapa kali pindah kota dari tahun 2005 sampai tahun 2016 karena urusan pekerjaan, lulusan universitas 17 Agustus Semarang ini sekarang berdomisili di Kota Sidoarjo. Salah satu tulisannya berjudul Yayuk (www.storial.co/book/Yayuk) pada tanggal 2 agustus 2017 terpilih  menjadi salah satu tulisan terbaik dalam kompetisi Short Story Competition. Saat ini tercatat sebagai anggota FAM Indonesia dengan mengantongi nomor IDFAM 4830U

Sumber foto: m3.22slides.com/robertgillphotography

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...