PRESS RELEASE
Sabtu, 28 April 2012
PARE, KEDIRI – Dua penulis muda Indonesia Aliya Nurlela
(Malang) dan Muhammad Subhan (Padangpanjang) berkolaborasi menerbitkan antologi
cerpen karya mereka berjudul “Fesbuk” (LeutikaPrio, Maret 2012). Terbitnya buku
cerpen ini bermula dari persahabatan mereka lewat jejaring sosial bernama
facebook.
“Ada kesamaan cara pandang antara saya dan Bang Han (sapaan
Muhammad Subhan—red) terutama dalam cita-cita bersama membangun gerakan membaca
buku dan menulis karangan di kalangan generasi muda. Buku yang kami terbitkan
ini sebagai langkah memulai gerakan itu,” ujar Aliya Nurlela, Sekjen Forum
Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang berkantor pusat di Pare, Kediri, Jawa Timur,
Sabtu (28/4/2012).
Bermula dari silaturahim lewat facebook itu lalu sepakatlah
mereka mendirikan FAM Indonesia dan mengundang banyak calon-calon penulis
Indonesia berusia muda yang tertarik ikut menggerakkan wadah kepenulisan ini.
Maka, Aliya Nurlela dan Muhammad Subhan berupaya membesarkan FAM Indonesia
dengan niat menjadi wadah yang dapat mengkader calon-calon penulis berkarakter
dan produktif menulis.
![]() |
| COVER KUMCER "FESBUK" |
Aliya Nurlela dan Muhammad Subhan memiliki gaya sendiri
dalam menulis cerita pendeknya. Aliya Nurlela asli Ciamis yang kini berdomisili
di Malang adalah penulis buku nonfiksi. Salah satu bukunya berjudul “100% Insya
Allah Sembuh” telah beredar luas di toko-toko buku di Tanah Air. Aliya dalam
tulisannya selalu mengangkat kisah nyata tentang dirinya, lingkungannya, serta
apa yang disaksikan dan apa yang menjadi keyakinan hidupnya.
Sedangkan Muhammad Subhan yang berdarah Aceh-Minang
berdomisili di Padangpanjang Sumatera Barat, adalah seorang jurnalis sekaligus
novelis. Novelnya yang telah terbit dan beredar berjudul “Rinai Kabut
Singgalang”. Muhammad Subhan dalam tulisannya punya ciri khas mendeskripsikan
lokasi cerita (seting) secara mendetail. Gaya bahasanya santun dan terkesan
romantis serta banyak mengandung pesan-pesan agama.
Buku cerpen ini memuat cerita pendek yang membawa
pesan-pesan moral untuk pembacanya. Enam cerpen karya Aliya Nurlela (Judul: “Suatu
Hari di Masjid Rumah Sakit”, “Puncak Gunung Lawu”, “Bau Aneh”, “Rinai di Matamu
Aliya”, “Fesbuk”, dan “Bell’s Palsy”. Sementara dua cerpen karya Muhammad
Subhan (“Tukang Cerita”, dan “Cerita tentang Senja di Pantai Padang”. Hebatnya
lagi kumcer ini disertai serangkaian kata-kata bijak dua penulis di akhir
bukunya. (REL)

Comments
Post a Comment