Skip to main content

Ulasan Cerpen “Sebuah Penantian” karya Joey Pengganti Wiro (Anggota FAM Wilayah Bandung)

JOEY PENGGANTI WIRO
Siang ini FAM Indonesia mengulas cerpen karya Joey Pengganti Wiro (Anggota FAM Wilayah Bandung). Judulnya “Sebuah Penantian”. Ceritanya berkisah tentang seorang pemuda berlibur ke kampungnya dan memilih aktivitas berburu untuk menghalau jenuh. Maka, iapun pergi ke hutan dengan membawa sepucuk senapan angin. Namun sepanjang perjalanan ia tak menemukan hewan buruan. Hutan benar-benar lengang.

Ketika matahari sudah meninggi, tokoh “Aku” yang bernama Joey itu (sama dengan nama penulisnya—red) menemukan sebuah kolam berair jernih. Di tepi kolam ada sebuah rumah mungil yang sangat indah bagaikan istana, lengkap dengan tamannya. Di air kolam sepasang angsa memadu kasih. Joey tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Di tengah hutan mustahil ada panorama seindah itu.

Sedang berasyik-masyuk itu, Joey mendengar ada sebuah suara menyapanya. Suara itu dari seorang gadis cantik berwajah bidadari. Di kepalanya ada sebuah mahkota. Joey terkejut. Gadis itu memandangnya lembut. Ia menyebut namanya Siti Juleha. Anehnya, Siti Juleha tahu dengan nama lengkap Joey. Maka berceritalah gadis itu bahwa ia telah lama ingin bertemu Joey. Tapi pertemuan itu tidak sekarang. Ia menyebut akan lahir pada Sabtu kliwon ketika purnama ke tiga sepuluh tahun yang akan datang. Di tengah ketakjuban, antara percaya dan tidak, gadis cantik itu meminta Joey segera pulang dan menunjukkannya jalan.

Sesampainya ia di rumah, Joey terkejut lantaran rumahnya telah ramai orang. Semua keheranan ketika Joey pulang. Keluarganya menyebut, Joey tidak pulang ke rumah selama dua hari. Keluarga panik mencari. Sementara menurut Joey sendiri, ia tak lebih setengah hari berburu ke hutan. Sungguh apa yang dia alami itu sesuatu yang ganjil.

Setelah kondisi kembali normal, Joey terus membayangkan bertemu kembali dengan Siti Juleha, gadis cantik yang ia temui di tengah hutan di dekat sebuah kolam. Maka, ketika sepuluh tahun telah berlalu, disaat malam purnama ketiga, Joey kembali pulang ke kampungnya. Hasratnya menggebu ingin mencari gadis itu di tengah hutan. Namun langkahnya terhambat oleh larangan Pak Idris, penjaga hutan yang menyebutkan kepadanya bahwa tidak ada kolam di tengah hutan, dan tidak ada seorang gadis pun yang tinggal di dalamnya. Tetapi Joey bersikeras hendak pergi. Kawan-kawan Pak Idris mengejarnya, dan tiba-tiba Joey tak sadarkan diri.

Setelah siuman Joey mendapat penjelasan bahwa ketika ia memaksa diri terus melangkah masuk ke dalam hutan, ia seperti orang tidak sadar. Menurut cerita Pak Idris, jika saja Joey terus melangkah, maka ia akan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam dan dibawahnya ada sebuah anak sungai kecil.

Cerpen ini mirip seperti cerita dongeng yang sering dimuat di majalah-majalah anak atau suplemen koran yang menyediakan ruang untuk sastra anak-anak. Tak salah memang, tetapi gaya penulisannya belum diolah dengan baik. Joey Pengganti Wiro, pengarangnya, terkesan terburu-buru, sehingga banyak sekali ditemukan kalimat mubazir dan kesalahan ketik. Konflik cerita juga belum begitu menggigit.

Mari kita simak kalimat yang sangat panjang berikut ini dari cerpen Joey:

“Lagi ngapain kang?”tiba-tiba kudengar suara orang menyapaku,ya..itu pertanyaan ditujukan padaku , aku yakin itu , karena disitu tak ada orang lain selain aku.Aku mencoba mencari sumber suara tadi , ko ngak ada orang di sini ? Padahal sangat jelas suara meskipun pelan dan halus aku dengar .”Aku disini kang , ko malah celingukan “spontan aku balikan badan karena suara datangnya dari arah belakang . Mataku terbelalak  , jantungku hampir jatuh melihat  seorang gadis cantik tepat berdiri dihadapanku . Jantungku berdebar melihat betapa anggunnya seorang gadis mengenakan gaun berwarna putih dihiasi renda-renda berwarna keemasan , dan yang membikin hatiku sedikit heran , gadis itu memakai sebuah tiara dikepala layaknya putri raja .”ee..ee..ngak ,anda siapa ? aku mencoba menjawab sambil balik bertanya pada gadis dihadanku walau dengan sedikit gugup .”Nama ku Siti Julaeha , nama mu Joey pengganti  Wiro kan? Gadis itu melanjutkan pertanyaan . aneh pikir ku,aku berpikir sambil mencoba mengingat -ngingat kalau-kalau aku pernah bertemu sebelumnya .  Entah otak ku sudah tumpul , atau memang aku belum bertemu dengan yang namanya Siti Julaeha , ya.. aku yakin , aku belum pernah kenal sama dia .”Kok anda tahu namaku kayak sudah mengenal  aku ,aku coba mencairkan suasana yang menegangkan bagiku .”Kang Joey , aku tahu sama kamu bahkan aku sudah lama memperhatikan mu , gadis itu menjelaskan .”Aku sebenarnya ingin bertemu dengan mu , tapi bukan sekarang , kang joey temui aku di tempat ini pas hari kelahiranku sabtu kliwon purnama ke tiga sepuluh tahun yang akan dating . sekarang kang joey pulang kasihan sodara-sodara akang mencari-cari akang,lewat sini kang jalannya ! Gadis itu menunjuk  sebuah jalan kecil .

Nah, coba bandingkan setelah diedit berikut ini:

“Lagi ngapain, Kang?” Tiba-tiba aku dengar suara menyapaku. Aku terkejut. Sapaan itu ditujukan kepadaku, sementara di tanah tempat aku berpijak tak ada orang lain selain aku.

Aku mencoba mencari sumber suara, tapi tidak juga bertemu. Padahal suara itu sangat jelas sekali walau pelan dan halus terdengar.

“Aku di sini, Kang. Kok malah celingukan?”

Spontan aku balikkan badan ke belakang. Mataku terbelalak. Jantungku terasa mau copot menatap seorang gadis cantik berdiri di hadapanku. Betapa anggun gadis yang mengenakan gaun berwarna putih dihiasi renda-renda keemasan itu. Dan yang membikin hatiku heran, gadis itu memakai mahkota di kepalanya. Bagaikan putri raja.

“Ti… tidak. Anda siapa?” jawabku balik bertanya dan terlihat gugup.

“Namaku Siti Juleha. Namamu Joey Pengganti Wiro, kan?”

Aneh. Gadis itu tahu namaku. Aku coba mengingat-ingat apakah aku pernah bertemu dengannya sebelum itu. Tapi rasanya tidak pernah. Ya, aku yakin tidak pernah berjumpa dengan gadis bernama Siti Juleha secantik dia.

“Anda kok tahu namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku mencoba mencairkan suasana.

“Kang Joey. Aku tahu sama kamu, bahkan aku sudah lama memerhatikanmu,” jawab gadis itu. “Aku sebenarnya ingin bertemu denganmu, tapi bukan sekarang. Kang Joey, temui aku di tempat ini, tepat ketika hari kelahiranku sabtu kliwon purnama ke tiga sepuluh tahun yang akan dating. Sekarang Kang Joey pulanglah, kasihan keluarga Akang mencari-cari. Lewat sini jalannya, Kang,” tunjuknya ke arah jalan kecil.

Alinea-alinea hasil editing di atas terlihat lebih singkat, lebih padat, dan lebih menyentuh. Pembaca juga dapat menarik napas ketika membacanya, struktur kalimatnya juga tersusun apik.

Kesimpulannya, cerpen Joey Pengganti Wiro harus benar-benar melalui tahapan editing yang matang dari penulisnya, tidak buru-buru, agar hasilnya tidak instan. Bagaimana cara melakukan editing itu? Setelah cerpen selesai ditulis, maka penulis harus membacanya berulang kali. Tidak cukup satu kali saja. Perhatikan tanda bacanya (titik, koma, tanda petik dua, tanda tanya, tanda seru, dll). Seorang penulis jangan merasa cepat puas dengan apa yang dia tulis. Bila perlu, tulisan itu, sebelum diterbitkan diperlihatkan dulu kepada penulis-penulis senior, agar mendapat masukan, kritik dan saran, sehingga ketika dilakukan revisi hasilnya memuaskan.

Satu hal yang pantas dibanggakan dari Joey Pengganti Wiro, adalah ia telah memulai menulis. Ini pekerjaan berat. Sebagai penulis pemula, kekurangan selalu ada. Dan, lewat wadah FAM ini, Joey Pengganti Wiro tentu berharap karya-karya mendapat masukan sehingga ia bisa melakukan perbaikan berarti di kemudian hari.

Selamat berkarya Mas Joey Pengganti Wiro. Jangan patah semangat, jangan merasa cepat puas, terus lakukan inovasi dalam karya-karya Anda. Agar mahir menulis cerpen, usahakan sebanyak mungkin membaca cerpen-cerpen karya orang lain yang sudah diterbitkan media. Kelak, Anda akan mendapatkan gaya menulis Anda sendiri.

Salam aishiteru buat Anda.

FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...