![]() |
| RILA MUSPITA |
Puisi RILA MUSPITA, calon anggota FAM wilayah kota Padang,
Sumatera Barat (dicopy dari tulisan asli tanpa editing):
“Aku pun Mengharap Ridho-Nya”
(Padang, 28 September 2011)
Sesampai pada saat perjumpaan yang berujung duka
Sesal tertinggal bila asrat tak disampaikan
Mengalun indah pada bait-bait kebisuan
Menggema dalam jiwa yang terus berguman
Hilang dalam sepi, beri aku waktu
Menjauh dalam kelam, izinkan aku menunggu
Mentari itu muncul pasti akan tenggelam
Rembulan itu utuh perlahan akan menyinsing
Hujan ini deras taklama akan reda
Seketika juga semua akan kembali pada batas waktu
Tak ada yang sanggup berdiam tanpa ada jawaban
Seolah berkicau dalam sanubari yang tertimpa
Ketika kebekuan mulai menyusup relung-relung hati yang
terkatup
Kebisuan seolah menjadi jawaban atas persinggahan ini
Aku akan beri seutas harapan disetiap helaan
Menjawab semua dengan isyarat yang pasti
Tiada duka saat itu,
Tiada derita seketika itu,
Hingga semua jawaban itu akan bergeming
“Aku pun mengharap Ridho-Nya”
ULASAN PUISI:
Pagi ini FAM Indonesia mendapat kiriman puisi dari calon
anggota yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Judul puisi itu, “Aku pun
Mengharap Ridho-Nya”. Puisi yang indah, menggambarkan kerinduan si penyair pada
Tuhan-Nya, mengharap bimbingan agar tidak salah langkah.
Kita simak baris berikut ini:
Hilang dalam sepi,
beri aku waktu
Menjauh dalam kelam,
izinkan aku menunggu
Dalam kehidupan ini, seorang manusia selalu berharap agar
diberikan waktu agar dapat berbuat yang terbaik, meski apa yang diharapkan
tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Begitulah hidup, harus terus dijalani.
Hanya manusia yang optimis saja yang selalu menyulam harap, berdoa, dan
berusaha.
Aku akan beri seutas
harapan disetiap helaan
Menjawab semua dengan
isyarat yang pasti
Kalimat “…disetiap
helaan”, pada baris pertama di atas, mungkin maksudnya “helaan napas”. Di
setiap helaan napas, yang entah berjuta kali berapa tarikan napas yang terhirup
dan terhembus setiap hari dari hidung dan mulut manusia, kita selalu berharap
semoga detik-detik waktu itu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, tentu juga
bernilai amal ibadah.
Rila berbakat menulis puisi. Tetapi Rila harus lebih memerhatikan
editing diksinya lagi sebagaimana terlihat dalam kata-kata berikut:
…asrat, seharusnya ditulis “hasrat”
…berguman, seharusnya ditulis “bergumam”, dan;
…menyinsing, seharusnya ditulis “menyingsing.
Rila, teruskan berkarya. Satu hari bisa menulis satu puisi
pendek saja, setahun Rila sudah mengumpulkan 365 judul puisi. Siap dibukukan!
Salam aishiteru
FAM INDONESIA

Comments
Post a Comment