![]() |
| DESRI ERNIZA |
Mendapat restu
ibu adalah harapan semua anak. Restu ibu adalah kekuatan, doa, juga harapan.
Anak-anak yang memperoleh restu ibunya tidak mudah galau. Ia akan berjalan
santai mengejar cita-citanya. Mematuhi ibu adalah tuntunan agama, agar anak
tidak dianggap durhaka. Nabi menasehati, “surga di bawah telapak kaki ibu”.
Tapi apa yang
terjadi bila anak tidak mendapat restu ibunya seperti yang dihadapi tokoh “Aku”
dalam cerpen karya Desri Erniza ini?
Tersebutlah ibu
tokoh “Aku” dulunya seorang pekerja keras, tegar, tidak pernah mengeluh, tak
kasar kepada anak-anaknya dan menunjukkan kasih sayang yang berlebih. Tetapi
semua itu tiba-tiba hilang ketika kehidupannya sudah mulai mapan terutama setelah
memiliki dua orang menantu. Setelah tokoh “Aku” bergelar sarjana muda (A.Md),
sang ibu mulai berubah sikapnya khususnya terhadap tokoh “Aku”. Sang ibu
menginginkan tokoh “Aku” bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji mapan. Sang
ibu sangat berharap diberikan uang rutin setiap bulan. Tetapi tokoh “Aku”,
anaknya itu, lebih suka jadi penulis yang belum tentu jelas penghasilannya di
mata sang ibu.
Di titik ini
terjadilah konflik antara “Aku” dan ibunya. Mari kita simak perang batin tokoh
“Aku” berikut ini:
“Aku benar-benar
tak mendapatkan lagi kasih ibu, aku adalah harapan keluarga yang harus
mempersembahkan uang untuk ibu dan keluarga di kampung. Ibu tak lagi menanyai
kemajuanku, ibu tak lagi mendorongku untuk bangkit, ibu tak lagi memberi semangat
kepadaku. Namun ibu hanya menanti uangku. Apa pekerjaan yang aku lakukan ibu
tak mau tahu, ibu menganggap pekerjaan kantoran di perusahaan swasta tersebut lebih
baik daripada aku harus terjun ke sawah untuk bertani...”
Apa perasaan
seorang anak bila sang ibu bersikap materialistis dan egois? Bila uang jelas
ada tak jadi soal. Tetapi tokoh “Aku” bertekad menjadi seorang penulis yang
belum jelas masa depannya. Inilah sumber konflik antara sang ibu dan tokoh
“Aku”. Tokoh “Aku” berusaha meyakinkan ibunya bahwa apa yang dilakukannya hari
ini kelak akan berbuah baik. Sebab banyak penulis sukses yang kaya raya dari
buku-buku yang mereka tulis. Tentu saja alasan itu tak mudah diterima sang ibu,
sehingga sang ibu mengganggap tokoh “Aku” telah melawan kepadanya.
“Sok memilih
pekerjaan juga kamu, ya sudah kalau merasa senang hidup sedemikian, lakukanlah!”
kata sang ibu marah.
Disinilah awal
mula tokoh “Aku” tidak mendapatkan restu dari ibu kandungnya. Tetapi ia tetap
berniat tidak melawan kepada sang ibu, sebab ia tahu itu sangat tidak baik. Tanpa
restu sang ibu itu, tokoh “Aku” tetap menjadi penulis dengan suka dukanya
hingga ia mendapat kesempatan mengikuti sebuah iven temu sastrawan
internasional di Padang dan banyak belajar dari semua orang.
Di sebuah situs
jejaring sosial tokoh “Aku” curhat dengan kakak angkatnya yang seorang penulis.
Disampaikanlah keluh kesahnya bahwa ia menghadapi cobaan berat dari sang ibu
yang tidak merestuinya menjadi seorang penulis. Rupanya, sang kakak angkat juga
pernah punya pengalaman yang sama, tetapi ia menjadi penulis sukses dikemudian
hari. Kakak angkatnya itu memberikan semangat kepada tokoh “Aku” agar hobi
menulisnya tidak ditinggalkan tetapi dia dianjurkan juga mencari pekerjaan
tetap dengan gaji tetap sehingga ia dapat juga menyisihkan uang untuk sang ibu.
Solusi itu sangat
membahagiakan tokoh “Aku”. Semangatnya kembali tumbuh. Apa yang dinasihati oleh
sang kakak angkat ia ikuti. Sehari-hari ia menulis apa saja, mulai dari puisi,
cerpen bahkan novel. Ia juga berusaha mencari pekerjaan tetap diluar aktivitas
menulisnya. Dia optimis dapat memberikan yang terbaik kepada sang ibu.
Ide cerita cerpen
ini sebenarnya sudah umum, tidak baru lagi. Penulis-penulis pemula seringkali
berbenturan dengan kedua orangtuanya yang tidak mudah menerima keputusan bila
anaknya memilih menjadi penulis. Jadi itu sudah biasa. Sebab, di negeri ini
profesi penulis belum menjadi profesi bergengsi layaknya profesi dokter, dosen,
polisi, atau pegawai negeri. Tetapi bukankah tidak mustahil bila menjadi
penulis sukses kelak dan memiliki karya-karya best seller malah hasilnya lebih
hebat dari profesi-profesi yang disebutkan di atas?
Memang, jadi
penulis atau tidak adalah pilihan. Desri Erniza telah menentukan pilihannya
itu, ia tetap menjadi penulis dan bertekad membahagiakan ibunya.
Selamat berkarya
Erni. Semangat Anda luar biasa. Banyak penulis pemula yang tidak mampu
membangun semangat itu dengan baik, sehingga pertama kali menulis kemudian
vakum selama-lamanya. Semoga itu tidak terjadi pada diri Anda.
Salam aishiteru!
FAM INDONESIA

Comments
Post a Comment