Skip to main content

Menulis Sambil Berdakwah

Oleh Denni Meilizon

Prolog

Pernahkah kita mendengar ujar yang begini: "Saya, kalau menulis puisi itu hanya butuh waktu sepersekian menit saja, sudah bisa saya selesaikan satu puisi, malah dalam satu hari bisa saya ciptakan 3 sampai 5 puisi". Bagaimanakah tanggapan FAMili sekiranya ada mendengar hal seperti itu?

Sekilas kita akan memuji yang bersangkutan dengan rasa kagum, karena begitu piawainya dia merangkai kata, pandainya menerjemahkan intuisi lewat imajinasi yang cerah, begitu bukan? Ya, begitulah sering yang terjadi. Keaktifan seseorang dalam menghasilkan karya sebuah puisi sampai mencapai 5 buah puisi perhari menjadi salah satu kriteria kita memuji kehebatan kepenyairannya. Saya pun juga begitu, setidaknya sampai malam ini di mana menjadi malam yang begitu berharga bagi saya, karena terlibat diskusi yang menarik dengan salah seorang penikmat sastra dan budaya Sumatera Barat yang juga berprofesi seorang pendidik, Bapak Faisal Zaini Dahlan yang juga salah seorang pemberi endorsement dalam buku puisi terbaru saya, “Siluet Tarian Indang”. Beliau mengalirkan secercah ilmu kepada saya tentang bagaimana seninya menikmati seni (istilah ini sebenarnya berasal dari Andrea Hirata dalam novel Tetralogi Laskar Pelangi-nya). Setidaknya, sampai saat diskusi terjadi, saya adalah termasuk orang yang mengagumi kepiawaian seseorang yang bisa menciptakan 3 (tiga) sampai 5 (lima) puisi tadi.

Kualitas Bukan Kuantitas

Puisi, merupakan sebuah karya tulis yang ekseklusif. Kenapa demikian? Karena tidak semua orang mengerti puisi. Puisi yang ditulis seorang penyair merupakan limpahan daya cipta hasil perenungan dari sebuah visi, intuisi atau visual di mana kemudian akan memberikan kepuasaan tersendiri bagi seorang penyair bila sudah menumpahkannya menurut caranya sendiri. Maka jadilah dua buah kata seperti "Uh" itu bisa jadi puisi, atau rangkaian tanda baca yang dituliskan dengan teknik tertentu itu juga bisa jadi sebuah puisi, di mana dengan menuliskan itu seorang penyair sudah merasakan kepuasaan hasil cipta karsanya. Namun, pernah jugakah FAMili mendengar ungkapan bahwa seonggok kotoran yang diletakkan di atas sebuah batu oleh seorang seniman besar dan ternama belumlah bisa disebut sebagai karya seni? Nah! Di sinilah kita bicara kualitas. Siapakah yang menilai sebuah puisi itu berkualitas? Tentu saja jawabannya adalah pembaca puisi itu sendiri dan bagaimana seorang penyair benar-benar konsisten dengan apa yang ditulisnya. Kualitas pribadi penyair juga semestinya berperan serta dalam menjadikan tulisannya berkualitas. Maksud kualitas pribadi di sini tiada lain ialah konsisten tadi. Misalnya, bila seorang penyair menulis puisi yang mengajak orang-orang untuk salat, maka semestinya dia adalah orang yang memang rajin salat, atau bila mempuisikan tentang sedekah maka penyair semestinya adalah memang orang yang rajin bersedekah, begitulah kira-kira gambarannya. Boleh-boleh saja, seorang penyair menelurkan banyak karya puisi dalam sekian jam, namun semestinya pula dia dituntut untuk konsisten dengan apa yang disampaikannya. Jadi, apalah gunanya produktif menulis bila kemudian apa yang kita tulis itu tidak pula kita lakukan serta kita khianati sendiri? Bukankah memang dalam agama Islam disebutkan bahwa bila kita tak sesuai dengan kata dan perbuatan maka kita sudah digolongkan kepada orang-orang munafik?

Dakwah bil Qalam

Intinya adalah menulis untuk menyampaikan kebenaran walaupun pahit. Atau berlomba-lomba menulis dalam kebaikan, sesuai dengan Motto serta visi misi FAM Indonesia. Sebagai anggota FAM Indonesia, kita berkewajiban mengejawantahkan amanat dari FAM Indonesia itu, bahwa kita bukan hanya sekadar berlomba-lomba menulis saja, tapi juga berlomba-lomba menulis untuk menyampaikan kebenaran Islam ke seantero dunia. Setidaknya kita mendakwahi diri sendiri dan keluarga kita lewat karya tulis kita. Bukankah sebuah tulisan yang berkualitas itu adalah tulisan yang memang bisa dipertanggungjawabkan, memiliki latar belakang ataupun ide yang kita peroleh dalam kehidupan dimana sesungguhnya kita bisa saja mendapatkan aneka pembelajaran di situ?

Banyak penyair ataupun penulis menjadi pongah dengan hasil cipta karya karsanya. Yang semestinya justeru seorang penyair ataupun penulis harusnya menjadi lebih tawadhu' dan makin menunduk ibarat bulir padi karena dia dianugerahi Allah dengan intuisi, imajinasi dan daya pikir yang luas untuk merekam kehidupan, di mana ayat-ayatNya bertebaran untuk menjadi pelajaran dan ibroh. Ketika sebagian orang tak memiliki rasa yang sensitif, sebagaimana rasanya seorang penyair ataupun penulis dalam menangkap hal itu.

Epilog

Diskusi saya dengan Pak Faisal Zaini Dahlan membuka pemahaman baru bagi saya untuk lebih meningkatkan kualitas diri dalam menulis. Nasihat beliau sama dengan amanat yang disajikan oleh FAM Indonesia. Menulis, menulis, dan menulis itu perlu untuk mengasah kemampuan diri, dan yang paling penting adalah menghasilkan tulisan yang berkualitas bagi diri sendiri dan orang lain. Bukan hanya mengejar kuantitas kosong dan tak bernilai pahala.

FAMili, mari berdakwah bil qalam.

Pinggiran kota, menjelang tengah malam
2013


*) Denni Meilizon, FAM906U, Padang, Sumatera Barat

Comments

  1. selamat sore mas denni...setelah saya membaca tulisannya mas...alhamdulillah saya mendapat penerangan dan arahan yg blm pernah saya tahu dan dapatkan..

    kalo ada waktu...saya mohon pencerahan dari mas denni...ke warung saya..
    #terima kasih :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...