Skip to main content

Ulasan Puisi “Bagaimana Kabarmu” Karya Lisnatul Hasanah

Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987: 83).

Ya, bentuk bahasa figuratif memang merupakan bagian dari sturktur fisik sebuah puisi. Hingga banyak kita temui penulis puisi menggunakan kiasan-kiasan untuk menggambarkan suatu maksud dalam puisinya, apakah mengumpamakan dengan isyarat alam, atau ke dalam bentuk-bentuk kalimat lain yang memakai gaya bahasa atau majas untuk melengkapi keindahan dan maksud sebuah puisi.

Menyelami puisi “Bagaimana Kabarmu” yang ditulis Linatul Hasanah ini, sepertinya bahasa figuratif sangat bermain di sini. Mari kita simak:

Maaf,
jika aku menyapamu terlalu siang
Ketika embun yang kau cintai
Telah pulang ke pangkuan matahari
Dan panas mendidih peluh
Mengasinkan keringat rindu bersama garam yang pekat
Dari suara-suara hati yang rapat

Bagaimana kabarmu di siang ini?
Jawabmu, aku tak ‘kan sebaik yang dulu.

Sapaan yang diberikannya ini mungkin tertuju pada seseorang yang telah cukup dikenalnya dekat namun telah lama tak bertemu dan  pada saat itu ada perubahan yang dialami oleh orang yang dimaksud tadi dan membuat suatu suasana yang berbeda dari biasanya.

Siapa embun yang dimaksud? Kita akan merasakan sebuah kesejukan ketika membaca atau mendengar sebuah kata embun. Di sinilah penulis akan terlihat matang dalam memilih kata untuk sebuah puisi bila situasi sebenarnya yang digambarkan mampu terwakili dengan bentuk-bentuk figuratif yang dicarinya.

Kontradiksi sekali antara embun dan matahari. Karena kedua hal ini tidak akan pernah bersamaan, selalu ada yang mengalah. Dengan kegagahan sinar terik matahari, embun yang tadi dirasa sejuk akan mulai sirna ditelan panasnya. Kiasan yang bagus sekali kita temukan pada alam sekitar kita, banyak yang bisa dipelajari di setiap fenomena yang ada.
Lisanul Hasanah telah cukup mampu mencari kiasan tersebut dalam puisi ini bila kita simak dan menyelami hingga baris terakhirnya.

Lalu, sejauh mana kita rasakan pesan atau maksud yang ada dalam untaian kata-kata indah ini?

Sepertinya penulis berada di pihak ketiga yang mencoba merasakan suatu kedukaan pada seseorang karena kehilangan sesuatu yang biasa dekat atau dicintainya. Ini dapat kita tangkap bila dengan lebih dalam lagi menyimak bait:

Ingin sekali aku mendekap wajahmu
Melepaskan jerat, dari bibirmu yang pucat

Embun, kekasihmu akan baik-baik saja di sana.

Sebagai orang yang dirundung duka memang akan memasuki situasi yang mungkin labil karena ada semacam ketidakpercayaan dengan apa yang dihadapi.

Memang sebagai kerabat, orang pernah dekat, selayaknya mendatangi dengan kata-kata yang menghibur sebagai bentuk kepedulian dalam persahabatan, dalam kebersamaan
Dan seorang Lisnatul Hasanah sepertinya memang seorang yang peduli dan selalu menyejukan dengan kelembutan.

Dari segi bahasa puisi ini sudah cukup bagus dan semoga dapat terus ditingkatkan.

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Bagaimana Kabarmu

Karya: Lisnatul Hasanah

Maaf,
jika aku menyapamu terlalu siang
Ketika embun yang kau cintai
Telah pulang ke pangkuan matahari
Dan panas mendidih peluh
Mengasinkan keringat rindu bersama garam yang pekat
Dari suara-suara hati yang rapat

Bagaimana kabarmu di siang ini?
Jawabmu, aku tak ‘kan sebaik yang dulu.

Sudah kutahu dari matamu
Yang memapar kabar tentangmu, di malam-malam yang beku
Saat air langit berbondong-bondong meniris gerimis
Di atap-atap hatimu yang meratap. Miris.

Ingin sekali aku mendekap wajahmu
Melepaskan jerat, dari bibirmu yang pucat

Embun, kekasihmu akan baik-baik saja di sana.

Tapi, aku hanya mampu menghela lelah lebih panjang
Dalam getir degup jantung di ujung desah nafasmu yang galau

Linatul Hasanah FAM879M, anggota FAM Jember
Lubri, Annuqayah 2012

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...