Skip to main content

Ulasan Resensi buku “Sajak dari Bumi Melayu” Karya Eka Damayanti (FAMili Jogja)

Kali ini FAM mengulas hasil resensi buku “Sajak dari Bumi Melayu” yang ditulis oleh Eka Damayanti, FAMili Jogja. Eka begitu lugas menjelaskan gambaran buku yang ia resensi. Ia menjelaskan bagian-bagian menarik dari buku tersebut, termasuk prediksi apa yang dirasakan sang penulis buku melalui kalimat yang dibuatnya.

Secara keseluruhan resensi yang ditulis Eka bagus. Meski begitu, FAM tetap memberikan beberapa catatan untuk penyempurnaan dan agar ke depan bisa menjadi pedoman ketika menulis kembali. Di antaranya penulis diharapkan melakukan editing terlebih dahulu terhadap karya yang dibuat agar tidak terjadi kesalahan yang tidak perlu. Ada beberapa kata yang kurang tepat penulisannya seperti ‘kegelisaannya’ yang seharusnya ditulis ‘kegelisahannya’. Lalu ada penulisan kata ‘yang’  yang disingkat menjadi ‘yg’. Ada juga penulisan kata ‘di’ yang digabung padahal seharusnya penulisannya dipisah karena diikuti kata tempat.

Hal yang kurang lainnya adalah Eka belum mengulas tentang kekurangan buku yang ia resensi. Dalam penulisan resensi, akan lebih baik jika dijelaskan kelebihan dan kekurangan buku yang diresensi, sehingga berimbang.

Sekali lagi, secara keseluruhan tulisan ini bagus. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin meningkat. Semangat berkarya..

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT TULISAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Resensi Buku: Sajak dari Bumi Melayu: Sajak yang Tak Akan Pernah Layu

Judul: Sajak dari Bumi Melayu: Kumpulan Puisi Kembara Sastra
Penulis: Mardhiyan Novita M.Z
Penerbit: Fadli Zon Library
Cetakan: Pertama, 2012
ISBN: 978-602-99458-3-6
Tebal: xvii + 70 halaman

Siapa yang tak mengenal sajak? Apalagi sajak mampu menjadi catatan perjalanan, bukti perenungan, manifestasi kehidupan, ekspresi jiwa penulisnya. Namun, apa jadinya jika sajak yang terlahir adalah sajak yang lahir dari Bumi Melayu di era globalisasi ini? Tentu, dimanapun tempatnya karya akan tetap bisa tercipta, karena karya lahir dengan murni dan tulus dari guratan hati sang empunya. Menyitir ungkapan Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Seiring dengan budaya instan yang kini digandrungi oleh masyarakat, tidak banyak orang yang membudayakan menulis dalam kesehariannya. Meskipun terdapat berbagai media yang memfasilitasi kemudahan untuk menulis namun tampaknya sebagian masyarakat belum banyak yang mampu menggunakannya secara optimal. Berbagai isu aktual diwartakan oleh media tak lain melalui tulisan. Berbagai pergerakan dimulai dengan adanya tulisan. Bahkan sejarah tercipta dari tulisan. Sebagaimana ungkapan Pram (Pramoedya Ananta Toer) bahwa menulis adalah bekerja, bekerja untuk keabadian. Kumpulan puisi Sajak dari Bumi Melayu (SBM) ini merupakan sebuah hasil kerja Mardhiyan Novita M.Z selama ia menjalani aktivitas Kembara Sastra di negeri jiran yang diselenggarakan oleh Dr. Siti Zainon Ismail (penyair terkemuka Malaysia, guru besar sastra) dan Galeri Melora, Malaysia.

Penulis belia ini dengan piawai mengguratkan kata-kata dengan meramu asa dan logika, serta secara unik ia menampakkan keluasan cakrawala pandangnya terhadap wawasan Nusantara serta keeratan persahabatan dua negara yang akhir-akhir ini diterpa berbagai kasus klaim budaya. Namun, masih dengan semangat mudanya, Dhiyan (sapaan akrab penulis) tak lepas dari rasa ‘galau’ yang menderanya. Hal ini tampak dari sajaknya yang berjudul Endon (Kosa Kata Lucu), kelucuan yang ia tuliskan merupakan kenyataan ironis yang seharusnya segera ditanggapi serius oleh para sastrawan senior (sejarawan maupun pihak terkait) agar tidak lagi menimbulkan kebingungan bagi generasi selanjutnya. Di sisi lain penulis menunjukkan identitasnya yang masih kuat dan tak terjejas dalam sajak Aku Gadis Melayu. Kenangan serta kerinduan penulis tentang Melaka pun tertuang dalam sajak Sajak Rindu untuk Melaka.  

Sajak-sajak yang tersaji dalam SBM bukan hanya sekedar rangkaian kata, lebih dari itu penulis (yang juga novelis Penyair Merah Putih) ini telah mengemasnya dengan penuh dialektika ‘khas’ seorang pemudi Indonesia yang penuh semangat dan kritis terhadap apa saja yang ia temui. Besarnya cinta terhadap nusa dan bangsa ia iringi dengan cintanya terhadap agama dan budaya serta penghargaannya terhadap negeri jiran, Malaysia. Sajak Minangkabau di Balik Amerika (MBA) merupakan cermin kegelisannya terhadap realitas yang kini marak memenuhi ruang publik remaja negeri ini. Hal ini tampak dari 3 bait terakhir sajak MBA berikut.

Bermula, mengganti muadzin dengan biduan
Baju kurung pun tergantikan pakaian tanggung
Songkok dan kerudung terbang diterpa topan
Mushala diroboh, lalu dibangun pentas hiburan malam
Lantunan ayat Qur’an tereliminasi dendang haram

Dimana para gadis minang berselendang?
Mungkinkah ikut karaoke raih gelar biduan?
Ranah minangku cikutan
Beratap pili malu-malu
Sepuluh meter dari tempatku termangu,
Tampaklah para wanita menari bugi-bugi...

Amboi,
Bertambah bilau bijanaku...

(Novita M.Z, 2012: 12-13)
Secara sistematis, kumpulan puisi ini tersaji dalam dua bagian. Bagian pertama yaitu Syair Merah Putih yang terdiri atas 5 puisi yg terangkai di Indonesia, dan bagian kedua yaitu Sajak Kembara merupakan 35 puisi yang terangkai di Malaysia. Keempat puluh puisi ini tersaji secara sistematis dengan gaya ekletis. Kehadiran Sajak dari Bumi Melayu ini semakin memperkaya khazanah kesusasteraan Indonesia dengan latar Tanah Melayu masa kini. Bertambah lagi penyair muda Indonesia, penyair perempuan muda Indonesia yang kiprahnya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi kini dan nanti. Inilah euforia seorang penyair muda yang dengan lincah dan ‘comel’ mengguratkan pengembaraannya dalam literasi sarat arti dan penuh estetika yang dipetik langsung dari Bumi Melayu. Berkaryalah selalu penyair muda Indonesia, penyair perempuan muda Indonesia. Sajak dari bumi Melayu tak kan pernah layu. Maju terus kesusasteraan Indonesia

Resensiator: Eka Damayanti
Mahasiswa Ilmu Budaya UGM, IDFAM1073M

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...