"Pesan Tanpa Kata”, itulah judul puisi yang ditulis Widiastuti (FAM1082U) yang menjadi pokok ulasan kita kali ini. Sebuah tulisan yang cukup panjang bertema cinta yang patah dan disampaikan dalam satu bait penuh dengan untaian kalimat yang panjang pula. Membaca tulisan ini kita dihadapkan kepada pilihan apakah saat ini kita sedang berpuisi, membaca prosa atau sedang membaca curhatan?
Puisi, prosa, dan kata-kata curhatan memang berbeda. Menurut laman Wikipedia, puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetikanya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetika suatu bahasa dan penggunaan pengulangan, materi dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Sesungguhnya puisi yang ditulis sahabat FAMili ini sangat bisa menjelma menjadi puisi yang lebih baik lagi. Lakukanlah pembacaan berulang kali sebelum benar-benar memfinalkan sebuah tulisan. Lakukan eksplorasi kata dan cermat dalam memilah perbendaharaan kata. Perkaya pula dengan susunan puisi berdasarkan estetika. Karena di situlah letak manisnya sebuah puisi. Pemakaian tanda baca yang berlebihan tidaklah disarankan termasuk juga penghamburan kata konjungsi yang membuat puisi ini menjadi kalimat-kalimat yang panjang.
Namun demikian, usaha penulis melahirkan sebuah puisi patut dihargai dan tentu saja ditunggu karya berikutnya.
Salam santun, salam karya !
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Pesan Tanpa Kata
Karya: Widiastuti (FAM1082U )
Aku terdiam dalam doaku
dalam rasa yang tak sanggup untuk aku pintakan
disatu sisi aku tak sanggup
bila hanya bisa melihat jejak-jejak bayanganmu dari sisi ketidakmampuanku
disisi lain aku ingin melihatmu bahagia
aku ingin berdoa untuk kebahagiaanmu tapi jujur aku tak sanggup memintanya
aku tahu hatiku tak mampu bila harus melihatmu bersusah
tapi akupun tak mampu bila doaku terucap dan seketika hanya jejakmu yang tersisa dalam pandangku
aku harus apa???
hanya bisa terdiam, terdiam, dan terdiam dalam doaku,..
aku tak sanggup berucap hanya bisa berharap yang terbaik walaupun aku tak tahu itu apa,..
aku kirimkan pesan tanpa kata pada tuhan
dan menanti jawabnya dalam putaran waktuku
diam dalam doaku dan mengekang perasaanku dalam sujudku
aku tak sanggup atas pilihan ini tapi akupun tak mampu bila harus tersenyum dalam lukamu,..
balasan doaku yang tak bertulispun tiba
dan aku tersenyum dalam tangisku
aku bahagia untukmu
sejenak aku tak dapat mngenali hatiku
aku benar-benar bahagia mlihat senyummu dan kuteteskan air mata ini untuk mengiringi langkahmu
inilah jawaban atas doaku yang bisu
inilah yang terbaik yang akan kucoba mngerti arti dari semua jawaban ini
menggenggam air pun tak baik melepaskannya dari genggamanpun tak mudah
pandangan mata bahagimu bisa ku lihat jelas dengan senyumku mengantarmu
melangkah jauh kedepan tanpaku
jangan berhenti melangkah dan tak perlu berbalik kebelakan melihatku
karena aku sangat menyayangi diriku dan aku tak akan pernah membiarkan diriku terjatuh terlalu lama
seberkas senyummu sanggup untuk menyanggaku setidaknya sampai detik ini...
[www.famindonesia.com]
Puisi, prosa, dan kata-kata curhatan memang berbeda. Menurut laman Wikipedia, puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetikanya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetika suatu bahasa dan penggunaan pengulangan, materi dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Sesungguhnya puisi yang ditulis sahabat FAMili ini sangat bisa menjelma menjadi puisi yang lebih baik lagi. Lakukanlah pembacaan berulang kali sebelum benar-benar memfinalkan sebuah tulisan. Lakukan eksplorasi kata dan cermat dalam memilah perbendaharaan kata. Perkaya pula dengan susunan puisi berdasarkan estetika. Karena di situlah letak manisnya sebuah puisi. Pemakaian tanda baca yang berlebihan tidaklah disarankan termasuk juga penghamburan kata konjungsi yang membuat puisi ini menjadi kalimat-kalimat yang panjang.
Namun demikian, usaha penulis melahirkan sebuah puisi patut dihargai dan tentu saja ditunggu karya berikutnya.
Salam santun, salam karya !
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Pesan Tanpa Kata
Karya: Widiastuti (FAM1082U )
Aku terdiam dalam doaku
dalam rasa yang tak sanggup untuk aku pintakan
disatu sisi aku tak sanggup
bila hanya bisa melihat jejak-jejak bayanganmu dari sisi ketidakmampuanku
disisi lain aku ingin melihatmu bahagia
aku ingin berdoa untuk kebahagiaanmu tapi jujur aku tak sanggup memintanya
aku tahu hatiku tak mampu bila harus melihatmu bersusah
tapi akupun tak mampu bila doaku terucap dan seketika hanya jejakmu yang tersisa dalam pandangku
aku harus apa???
hanya bisa terdiam, terdiam, dan terdiam dalam doaku,..
aku tak sanggup berucap hanya bisa berharap yang terbaik walaupun aku tak tahu itu apa,..
aku kirimkan pesan tanpa kata pada tuhan
dan menanti jawabnya dalam putaran waktuku
diam dalam doaku dan mengekang perasaanku dalam sujudku
aku tak sanggup atas pilihan ini tapi akupun tak mampu bila harus tersenyum dalam lukamu,..
balasan doaku yang tak bertulispun tiba
dan aku tersenyum dalam tangisku
aku bahagia untukmu
sejenak aku tak dapat mngenali hatiku
aku benar-benar bahagia mlihat senyummu dan kuteteskan air mata ini untuk mengiringi langkahmu
inilah jawaban atas doaku yang bisu
inilah yang terbaik yang akan kucoba mngerti arti dari semua jawaban ini
menggenggam air pun tak baik melepaskannya dari genggamanpun tak mudah
pandangan mata bahagimu bisa ku lihat jelas dengan senyumku mengantarmu
melangkah jauh kedepan tanpaku
jangan berhenti melangkah dan tak perlu berbalik kebelakan melihatku
karena aku sangat menyayangi diriku dan aku tak akan pernah membiarkan diriku terjatuh terlalu lama
seberkas senyummu sanggup untuk menyanggaku setidaknya sampai detik ini...
[www.famindonesia.com]

Comments
Post a Comment