Skip to main content

Abdul Hadi Sang Sufi yang Gelisah

Jika ditanya siapa penyair Madura yang sajaknya selalu membuat saya tergetar, dengan cepat saya akan jawab Abdul Hadi W.M. Bukan mengecilkan arti Zhawawi Imron, namun bagi saya Abdul Hadi adalah seorang sufi.

Penyair yang menjauh dari peradaban; Abdul Hadi seperti memiliki daya magis untuk meramu kata jadi doa. lewat puluhan telaah yang ia tulis mengenai dunia sufi tanah air, ia pun membuat kita terperangah, betapa luasnya pemikiran dan pengetahuan beliau.

Perkenalan saya dengannya bermula dari buku tentang Hamzah Fansuri, penyair sufistis asal Barus, Sumatera Utara. Dalam buku itu ia beberapa kali memberikan pengantar. Karena penasaran, akhirnya saya memutuskan mencari tahu siapa dan apa karya Abdul Hadi. Seperti kelasi yang menemukan pulau setelah lama melaut, sajak-sajaknya, saya kira, adalah sebuah ekstraksi dari pergulatan seorang penyair.

Sajak-sajak yang ia susun terasa sangat dekat, mistis, juga melenakan. Seperti pelukan seorang kekasih yang telah lama tak berjumpa. Atau sesekali seperti seorang tua yang tiba-tiba nyerocos tentang hari akhir, lantas berpesan soal agama, dan terkadang juga bisa beralih rupa menjadi seorang demonstran kelelahan yang terlalu gemas dengan kondisi sosial.

Abdul Hadi adalah seorang perupa yang masih belum puas memahat satu tema dalam setiap sajaknya. Seperti yang tertuang dalam kumpulan sajak ‘Tergantung Pada Angin’. Kumpulan sajak ini pertama kali diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1977. Menjadi menarik karena sebagian kumpulan sajak yang ia tulis diterbitkan oleh DKJ. Padahal, ia adalah penyair kelahiran Madura dan banyak menulis syair tentang pantai Madura di Jawa Timur.  Dalam ‘Nina Bobo Sebuah Kursi’ Abdul Hadi bermain dengan persepsi dan ke-mahluk-an sebuah benda. Seperti berikut:

Tidurlah Kursi, tidurlah di atas ombak.
Tidurlah di samping nyenyak dan gelisah tak nampak.
Tidurlah bersama sunyi, bersama jemu yang membengkak.
Dan bersama gemetar yang memangku anak.

Dalam satu bait sederhana Abdul Hadi menceritakan sebuah keadaan yang gawat, tentang kerinduan akan suasana yang baik-baik saja. Ia bicara tentang keresahan yang kasat mata. Entah mengapa, sajak ini membuat saya membayangkan seorang diktaktor tua, seorang mantan penguasa, atau pemimpin yang jatuh. “Tidurlah kursi, tidurlah di atas ombak..” Abdul Hadi seperti sedang menasihati agar sang pemimpin berhenti untuk memiliki keinginan berkuasa.

Penyair, biasanya, selalu menggawat-gawatkan hal sederhana dan menyederhanakan hal gawat. Namun, Abdul Hadi selalu berusaha tenang, ia mahir merangkum segala yang sederhana jadi tetap sederhana namun memiliki makna yang gawat. Atau bisa jadi, hal gawat dibuat sangat gawat  dengan kata yang mudah dimengerti. Seperti dalam lanjutan sajak berikut:

Tidurlah.
Di samping kabut
derai angin dan luka yang menuliskan sajak

Saya sangat suka frasa “derai angin dan luka yang menuliskan sajak”, seperti menggambarkan suasana hati yang kelelahan. Suasana kota yang meringkuk sendiri karena dihajar hujan lebat. Seperti tanah basah seusai kemarau panjang. Semangat yang terbata-bata namun memaksa diri untuk bangkit. Ada getar tak terperi dari sebuah derai angin, yang meski sedang luka, namun ingin terus memaksa diri menulis sajak.

Belakangan saya juga mengetahui kalau Abdul Hadi juga menerjemahkan beberapa karya sufistis dan syair dari Muhammad Iqbal. Salah satunya adalah ‘Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur’. Dalam kumpulan sajak yang berjudul asli ‘Pas Chih Bayad Kard’, Abdul Hadi dengan piawai menyederhanakan sajak Iqbal yang terkenal sangat rumit. Rumit bukan dalam pemahaman susah diterjemahkan, namun susah mencari padan kata yang tepat dan sesuai dengan konteks sajak yang dimaksud.

Harry Aveling, novelis dan penerjemah sastra Indonesia asal Australia, secara khusus menyebut sajak Abdul Hadi sebagai “(sebuah) sikap hidup mati yang berpusat pada hubungan alam dan manusia,” lebih khusus, Aveling menilai sajak awal Abdul Hadi sangat terpengaruh dengan puisi liris yang dibawa Chairil Anwar dan dikembangkan Sapardi Djoko Damono. Aveling memuji sajak-sajak Abdul Hadi lembut dan banyak menggunakan statemen semu dan subtil.

Seusai era 70an, banyak sajak Abdul Hadi yang kemudian mengalami pendewasaan dengan disisipkannya humor-humor dan bentuk pemikiran sufistis. Meski sangat rajin mengkaji pemikiran sufistis, Abdul Hadi menolak dikatakan sebagai seorang Sufi. Baginya gelar itu terlalu tinggi dan mulia untuk disematkan padanya. Ia lebih memilih dikategorikan sebagai seorang manusia yang gemar belajar perihal kebijaksanaan sufi. Dalam kumpulan esainya ‘Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas’ Abdul Hadi membuka diri bahwa kajian sufi yang sempat marak pada dekade 70 dan 80an telah banyak memengaruhi tapal batas kesusastraan Indonesia. Namun sedikit sekali kajian yang membahas mengenai apa itu sufi dan tulisan yang bisa mendekatkan dunia sufi dan pembacanya.

Abdul Hadi bukanlah orang yang dengan pengetahuan seadanya lantas mengangkat diri sebagai sufi. Berbeda dengan beberapa orang yang kita kenal hari ini sebagai sufi plastik, kehidupannya jauh dari hingar-bingar media. Hal ini bisa jadi merupakan pengamalan dari sense of exile yang ia temukan pada banyak kehidupan sufi. “Sense of exile merupakan pengalaman kefakiran atau kesadaran anak dagang,” kata Abdul Hadi. [Dan]

Sumber: SERATKATA.NET

Comments

  1. Very good post! We will be linking to this particularly great post on our site.
    Keep up the good writing.

    Visit my web-site ... muscle Gaining Supplements

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...