Dalam puisi ini ada sebuah rasa cinta yang tak tergapai. Cinta dalam hal ini tentu amatlah luas daya jangkaunya dan tidak dapat dijatuhkan kepada sesuatu yang merupakan perasaan menyukai lawan jenis saja. Boleh jadi demikian, namun boleh jadi tidak. Tapi lepas dari berbagai kemungkinan itu, rasa ini nampak dari bait pertama, di mana "menangis" dan "diam" seolah menjadi sebuah bumerang bagi tokoh "aku" ketika ia memilih untuk diam.
Mungkinkah diamnya kepura-puraan? Mungkinkah cinta itu datang namun tidak sepenuhnya waktu mengizinkannya merengkuh cinta itu sekarang? Ataukah sebuah kisah lain terselip di dalamnya? Yang pasti, "rumitnya peradaban" melukiskan betapa sulit masa-masa yang dilalui.
"Angan kini terbalut senja" pada bait berikutnya, menunjukkan seolah harapan itu telah sirna, pergi, dan benar-benar menutup untuknya. Ini lantaran "buram" yang nampak bila "skestsa" tercipta dari kisah ini. Maka hanya kepada Tuhan diri berserah.
Cinta itu perlahan memberi sebuah pelajaran, bahwa segalanya akan kembali padaNya. Bukankah ketentuan itu ada di tangan Tuhan? Rasa tak nyaman sekaligus sebuah kesadaran nampak pada dua bait terakhir. Pada akhirnya, "aku" memasrahkan segala rasa itu untuk mengadu padaNya, agar cinta itu tidak sekadar indah dipandang, melainkan juga indah pada waktunya.
Penulis cukup dalam memaknai puisinya. Hanya saja ditemukan beberapa kesalahan pada segi EYD. "Pada-Mu" dan "mencintai-Mu" yang benar tertulis "padaMu" dan "mencintaiMu". Lalu "sekedar" yang benar ditulis "sekadar". Kesalahan ketik ada pada "trlihat" yang sebenarnya "terlihat", "yng" yang semestinya "yang", dan "hInakah" yang harusnya "hinakah". Penggunaan tanda tanya dan koma rangkap (lebih dari satu) baiknya dihindari, cukup satu saja. Selebihnya sudah tidak ada kesalahan.
Baik, terus berkarya dan jangan berhenti menulis.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Goresan Sketsa Dalam Doa
Nazhiera Az Zahra (IDFAM1830U)
Kadang kemunafikan itu menjelma nyata dalam gerak
Menghardik sedemikian hingga dan melumpuhkan sang damai
Kata juga tak pernah seirama itu dalam ucap bibir
Menangis pun bukan akhir dari segala daya
Dan diam hanya menambah rumit peradaban
Angan kini terbalut senja
Menghampiri hati yang gersang penuh tanya
Jika mampu diukir sebuah sketsa, mungkin buram yang tertoreh
Asa kembali hanya pada-Mu
Tertuju pada-Mu dan mengharuskan ragaku menyibaknya dalam tabir
Lantunan itu menggetarkan roma yang kian menghangat
Berderai pun malu jika trlihat
Andai esok masih milikku
Dan kebaikan menjulang seiring irama Al Ashr
Mungkin aku masih mampu berujar "Terima kasih Tuhan"
Aku mencintai-Mu,,
Terlebih ketika hujatan itu mulai tengadah dalam kata
Santunkah??? HInakah?? Atau sekedar ujian yng kosong tak bernilai
Moga mampu terbina dalam bait doa
Hanya pinta yang kecil dari makhluk yang bernyawa
Tolong beri arti indah dalam hatinya,,
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
Mungkinkah diamnya kepura-puraan? Mungkinkah cinta itu datang namun tidak sepenuhnya waktu mengizinkannya merengkuh cinta itu sekarang? Ataukah sebuah kisah lain terselip di dalamnya? Yang pasti, "rumitnya peradaban" melukiskan betapa sulit masa-masa yang dilalui.
"Angan kini terbalut senja" pada bait berikutnya, menunjukkan seolah harapan itu telah sirna, pergi, dan benar-benar menutup untuknya. Ini lantaran "buram" yang nampak bila "skestsa" tercipta dari kisah ini. Maka hanya kepada Tuhan diri berserah.
Cinta itu perlahan memberi sebuah pelajaran, bahwa segalanya akan kembali padaNya. Bukankah ketentuan itu ada di tangan Tuhan? Rasa tak nyaman sekaligus sebuah kesadaran nampak pada dua bait terakhir. Pada akhirnya, "aku" memasrahkan segala rasa itu untuk mengadu padaNya, agar cinta itu tidak sekadar indah dipandang, melainkan juga indah pada waktunya.
Penulis cukup dalam memaknai puisinya. Hanya saja ditemukan beberapa kesalahan pada segi EYD. "Pada-Mu" dan "mencintai-Mu" yang benar tertulis "padaMu" dan "mencintaiMu". Lalu "sekedar" yang benar ditulis "sekadar". Kesalahan ketik ada pada "trlihat" yang sebenarnya "terlihat", "yng" yang semestinya "yang", dan "hInakah" yang harusnya "hinakah". Penggunaan tanda tanya dan koma rangkap (lebih dari satu) baiknya dihindari, cukup satu saja. Selebihnya sudah tidak ada kesalahan.
Baik, terus berkarya dan jangan berhenti menulis.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Goresan Sketsa Dalam Doa
Nazhiera Az Zahra (IDFAM1830U)
Kadang kemunafikan itu menjelma nyata dalam gerak
Menghardik sedemikian hingga dan melumpuhkan sang damai
Kata juga tak pernah seirama itu dalam ucap bibir
Menangis pun bukan akhir dari segala daya
Dan diam hanya menambah rumit peradaban
Angan kini terbalut senja
Menghampiri hati yang gersang penuh tanya
Jika mampu diukir sebuah sketsa, mungkin buram yang tertoreh
Asa kembali hanya pada-Mu
Tertuju pada-Mu dan mengharuskan ragaku menyibaknya dalam tabir
Lantunan itu menggetarkan roma yang kian menghangat
Berderai pun malu jika trlihat
Andai esok masih milikku
Dan kebaikan menjulang seiring irama Al Ashr
Mungkin aku masih mampu berujar "Terima kasih Tuhan"
Aku mencintai-Mu,,
Terlebih ketika hujatan itu mulai tengadah dalam kata
Santunkah??? HInakah?? Atau sekedar ujian yng kosong tak bernilai
Moga mampu terbina dalam bait doa
Hanya pinta yang kecil dari makhluk yang bernyawa
Tolong beri arti indah dalam hatinya,,
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.

Comments
Post a Comment