Skip to main content

Tatkala Kontemplasi Bergelut dengan Filosofi Hidup

Judul: Sajak-Sajak Dibuang Sayang
Penulis: Muhammad Subhan
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: I, Februari 2015
Tebal: 163 Halaman
Resensiator: Eko Prasetyo*)

Para penyair selalu punya cara yang khas dalam menyampaikan keresahan dan pemikiran atas segala problematika kehidupan. Namun, bagaimana halnya bila sebuah syair atau puisi digubah oleh seorang jurnalis? Tentu yang ada di benak kita adalah gaya reportase yang kental. Benarkah demikian?

Buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang karya Muhammad Subhan ini tampaknya bisa menjelaskan pertanyaan di atas. Ya, Muhammad Subhan adalah seorang wartawan senior asal Sumatera Barat. Kendatipun banyak bersentuhan dengan dunia jurnalistik, ia justru lebih dikenal sebagai penggiat sastra dan banyak menghasilkan karya-karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi. Pernah dipercaya mengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail cukuplah menggambarkan bagaimana kiprahnya di jagat sastra Tanah Air.

Puisi-puisinya dalam buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang ini merupakan hasil pengamatan dan perenungannya—baik selama aktif sebagai jurnalis maupun aktivis literasi—dalam memotret fenomena sosial di masyarakat. Terutama kearifan lokal yang dikemas dalam bingkai diksi yang indah.

Salah satunya terlihat pada puisi berjudul “Guru”. Kultur masyarakat Minang yang begitu tinggi dalam menghormati sosok pendidik digambarkan dengan amat apik dalam puisi ini: dan/kepadamu guru/segala ilmu bermuara (hal. 133).

Rasa penghormatan yang tinggi terhadap sosok orangtua juga digambarkan dalam puisi pendek yang berjudul “Ayah”. Diksi yang menarik tergambar dalam bait pertama puisi tersebut: dia menciptakan dua sayap di punggungku/agar aku bisa terbang (hal. 135). Dalam kontur sosio masyarakat, orangtua—dalam hal ini seorang ayah—memiliki tanggung jawab dan andil dalam mendidik dan membentuk karakter di tengah keluarganya. Ketika banyak orangtua justru membebani anak dengan obsesinya seperti ikut les ini-itu, sejatinya hal tersebut melukiskan besarnya harapan terhadap sang anak. Sayangnya, harapan itu diaplikasikan dengan cara yang kurang tepat sehingga malah membuat anak tertekan. Dalam puisi “Ayah”, asa tersebut diilustrasikan sebagai pemberian bekal hidup agar si anak kelak mampu berdikari dan bermanfaat saat terjun di tengah-tengah lingkungan sosialnya. Hal itu terlukis jelas dari kalimat “dia menciptakan dua sayap di punggungku”.

Mungkin latar belakangnya sebagai jurnalis, Muhammad Subhan tidak bisa lepas dari gaya reportase dalam beberapa puisinya. Salah satunya adalah puisi yang bertajuk “Bau Hutan”. Berikut bunyi bait kedua puisi itu.

hutan masa kecil yang sekarang tak ada lagi
tanahnya telah jadi beton dan rumah bertembok tinggi

Isu terkait kerusakan hutan di Indonesia memang hangat diperbincangkan. Bahkan, banyak aktivis lingkungan dari luar negeri yang cemas akan parahnya kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia. Faktanya, banyak hutan pohon yang dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit dan permukiman penduduk. Kerisauan inilah yang menggerakkan si penyair untuk menuangkan pengamatannya dengan pas dalam puisi “Bau Hutan” tersebut.

Yang menarik, kritik pedas akan fenomena perilaku koruptif dan penjilat diterjemahkan dengan begitu lugas dalam puisi pendek berjudul “Bermuka Dua”.

sekali waktu kita perlu menjilat
apa yang sudah diludahkan zaman
sekali waktu kita perlu meludah
apa yang sudah dijilat kemunafikan

Diksi filosofis dalam puisi tersebut begitu kuat dalam memuntahkan keresahan yang sulit terbendung. Jamak diketahui bahwa pertikaian elite politik dan perilaku negatif sebagian kaum birokrat membuat kita jengah dan muak. Dalam politik malah dikenal istilah tak ada lawan abadi. Semua bisa berubah 180 derajat, yang salah satunya dipengaruhi pula oleh sikap kemunafikan. 

Sisi religiusitas sang penyair juga tergambarkan pada puisi yang berjudul Kaligrafi dan Mihrab. Dalam dua sajak itu, agaknya si penyair ingin menitipkan pesan bahwa kita tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada Sang Maha Pencipta. Keagungan-Nya melalui firman dalam ayat-ayat suci digambarkan dengan manis dalam puisi Kaligrafi. Sementara Mihrab menghamburkan kerinduan yang mendalam kepada Sang Khaliq.

Buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang ini berisi puisi-puisi Muhammad Subhan sejak 1998 hingga 2014. Dalam rentang waktu yang begitu lama, sajak-sajaknya yang pernah dimuat di berbagai media ini mencoba mengabadikan perenungan atas banyak peristiwa yang dipadukan dengan nilai-nilai filosofi hidup. Hasilnya? Indah!

*) Pengelola Griya Literasi


Diterbitkan di:
SURAT KABAR DUTA MASYARAKAT EDISI MINGGU, 22 MARET 2015

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...