Skip to main content

Ulasan Puisi "Tanpamu, Tanpa Cerita" Karya Khozainah Rahmah (FAMili Indramayu)

Agaknya puisi ini mengingatkan kita agar selalu menjalani hidup seperti adanya; tidak menyerah, optimis, dan terus maju ke depan. Tampak sejak bait pertama. "Sudahkah kau mati?" seolah menjadi sindiran bahwa diamnya kita pada peristiwa/takdir sejatinya membuat kita bagaikan benda mati yang tidak berguna. "Tak bertemu berani saat kau justru berdiri" tak lain ungkapan bahwa kita malah menyerah di saat seharusnya maju ke depan. Ibarat kata, belum mencoba sudah putus asa.

Begitupun di bait-bait berikutnya, makin kentara pesan yang hendak disampaikan penulis. "Berlari atau gugur tanpa bunga" sudah tentu jelas artinya bahwa lebih baik mana; berani maju lalu mati sebagai pejuang atau diam di tempat dan mati sebagai pecundang?

"Menjadi diri sendiri tanpa nama, selain 'aku'" adalah saran yang penulis sisipkan dalam puisi bahwa sebaik-baiknya kita sebagai manusia hendaknya menyadari bahwa inilah kita dan hidup kita. Kita tidak bisa menolak, apalagi menyerah. "Tangan Tuhan tak pernah salah alamat" seperti menohok ulu hati terdalam kita bahwa apa yang Tuhan tentukan kepada kita, itulah yang terbaik. Maka tetap semangat dan bersyukur adalah kunci kebahagiaan sejati.

Ada beberapa koreksi menyoal EYD. Kata "sekedar", "diantara", dan "kawan" yang benar ditulis: "sekadar", "di antara", dan "Kawan" (dengan huruf kapital karena merupakan kata panggilan untuk obyek).

Terus berkarya dan cerahkan dunia lewat puisi.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com

[BERIKUT NASKAH ULASAN TANPA EDITING]

Tanpamu Tanpa CeritaOleh Khozainah Rahmah (ID FAM3212M)
Sambil berkata aku tanpamu tanpa cerita.
Sudahkah kau mati?
Atau sekedar tertawa tajam pada mereka?
Rasanya tak bertemu berani saat kau justru berdiri.
Siapkan dirimu sebelum semua usai.
Cepatlah meniadakan saat lagu mulai terdengar.

Ingatlah !
Hidup ini tak akan menunggumu menyelesaikan malam, kawan.
Berlari atau gugur tanpa bunga.
Pilihan ada di tangan, biarlah kebijakan mendekatimu.
Sisanya jadikan aura diantara syair-syair.
    Hujan akan jadi badai saat waktu tiba.
    Pun juga aku dan kau.
Ganti pakaianmu, luruhkan semua nama diantara bahu.
Menjadikan diri sendiri tanpa nama selain “aku”.

Tangan Tuhan tak pernah salah alamat, kawan.
Senyumlah pada mereka ketika datang.
Tak lupa selipkan kata “Selamat Datang!”

Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...