Skip to main content

Hilangnya Kedamaian

Judul: Sepucuk Surat Beku di Jendela
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Terbit: Februari 2015
Tebal: 152 halaman; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-335-008-7
Peresensi: Deski Ramanda

Buku kumpulan cerpen ini adalah bentuk sumbangsih penulis terhadap generasi muda. Kisah yang terdapat di dalamnya banyak bercerita tentang realita kehidupan generasi muda. Betapa banyak pemuda yang terlena oleh kecanggihan ilmu dan teknologi. Mereka lebih tertarik dengan dunia maya yang akhirnya membawa mereka ke lembah kehancuran. Seperti halnya facebook penyebab kehancuran sebagian orang.

Salah satu kisah dalam buku ini tentang seorang gadis yang dipermainkan oleh lelaki kenalannya lewat facebook. Lelaki tersebut adalah Bayu. Gadis yang bernama Nirna tidak pernah bertemu dengan Bayu sekalipun. Namun, karena kebodohan Nirna dia mau saja diperas oleh Bayu yang selalu dijanjikannya dengan sesuatu yang menarik hati Nirna. Seiring berjalannya waktu, lelaki yang bernama Bayu meninggalkan Nina begitu saja. Tentu saja hati Nirna terluka.

Sebagai seorang kakak, Yanto tidak terima atas perlakuan Bayu pada adiknya. Akhirnya dia juga membalas perlakuan Bayu dengan hal yang sama. Cara yang dilakukan Yanto adalah dengan menyamar sebagai seorang perempuan. Dia memperlakukan Bayu persis seperti apa yang dilakukan Bayu pada adiknya. Yaitu mempermainkan Bayu dengan menjanjikan sesuatu yang menarik hati Bayu. Dan akhirnya uang Nirna dapat terkembalikan. Ternyata cara yang dilakukan oleh Yanto tidaklah ampuh untuk mengobati hati adiknya. Justru membuat Nirrna marah pada kakaknya. Nirna menganggap kakaknya sama kejamnya dengan Bayu. (hal. 23).

Lain lagi ceritanya dengan gadis desa yang lugu. Seorang gadis yang hobi bernyanyi dan bersenandung di mana saja. Karena hobinya itu belum tersalurkan dengan baik maka ia bergabung dengan grup musik sesuai saran orang di sekitarnya. Setelah mengikuti latihan beberapa kali, kemampuan dalam bernyanyi gadis tersebut sudah mulai ada peningkatan. Sekarang ia sudah bisa manggung. Awalnya ia masih manggung dengan busananya seperti sediakala. Namun, semakin hari penggemarnya semakin banyak. Maka Liz seorang penyanyi senior di grup tersebut menyarankan untuk mengganti busana dengan busana yang tren saat ini. Dia pun mengikuti saran Liz. Ternyata apa yang terjadi? Akhirnya Liz menyuruh gadis tersebut untuk menghibur penonton kelas khusus dengan manggung tanpa busana. Nauzhubillah. Untung saja iman masih ada di dadanya sehingga ia meninggalkan pekerjaan tersebut karena bertentangan dengan nuraninya. (hal. 49).

Dalam kehidupan para remaja banyak kita temukan kasus di antara mereka yang terjatuh ke lembah kehancuran. Semua itu berawal dari teknologi yang semakin hari semakin maju dan canggih. Jangan salahkan teknologi yang semakin berkembang tapi kitalah penyebabnya. Banyak hal positif  yang dapat kita ambil dari teknologi seperti facebook jika kita pandai  menggunakannya.

Buku ini tak hanya berkisah seputar kehidupan para remaja. Masalah yang akhir-akhir ini muncul akibat pergolakan politik juga ada di dalamnya. Di antara masalah tersebut ialah menepisnya kerukunan akibat demokrasi. Kedamaian mulai diketepikan karena mengagung-agungkan kelompok tertentu. Hanya gara-gara dalam menentukan pilihan perceraian kerap terjadi. Kerukunan antar bertetangga mulai renggang. Semuanya karena terlalu fanatik terhadap pilihan masing-masing. Hanya kita saja yang benar sedangkan yang  lainnya salah menurut pandangan kita.

Persepsi yang seperti adalah persepsi yang salah. Boleh saja kita menentukan pilihan masing-masing. Tapi jangan pernah menyalahkan pilihan orang lain. Setiap orang punya hak dalam menentukan pilihannya. Satu hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih calon pemimpin ialah sikap yang selektif. Belum tentu pilihan itu baik. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam memilih calon pemimpin. Kasus ini semakin bertambah saja setiap perhelatan demokrasi digelar.

Penulis buku ini berusaha untuk memecahkan masalah yang seperti ini. Dengan cara menuangkan idenya ke dalam bentuk cerita. Agar pembaca bisa mengambil hikmahnya. Sangat disayangkan jika kerukunan hilang akibat demokrasi. Padahal tujuan demokrasi tersebut bukanlah itu. Justru dengan adanya demokrasi kerukunan semakin meningkat.  

Kisah-kisah di dalam buku ini cukup membangun dan mendidik sehingga buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja terutama para remaja. Dengan membaca buku ini akan membuat pembaca terbuai oleh permainan estetika, tetapi banyak-banyak pesan-pesan yang mengandung hikmah di setiap ceritanya. (*)

Diterbitkan di Harian Singgalang edisi Minggu, 3 Mei 2015


Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...