Skip to main content

Perhatikan Kerapian Naskahmu!

NET
Kamu sudah cukup produktif menulis. Bagus. Tapi satu hal yang belum kamu lakukan dan kurang menjadi perhatian, yaitu kerapian naskahmu. 

Kamu masih “belum sadar” pentingnya menjaga kerapian naskah seperti halnya kamu menjaga kebersihan rumah. Sebagus apa pun rumahmu, semahal apa pun harganya, jika isinya berantakan, kotor, bau, orang enggan masuk, ataupun berpikir ulang membelinya jika kamu hendak menjual rumah itu.

Kebersihan sebagian dari iman, kata agama. Begitupun, kerapian naskah sebagian dari kesuksesanmu sebagai penulis.

Apa artinya jika tulisan bagus tapi cara mengetiknya kurang bagus, asal-asalan, sembarangan saja memilih jenis huruf (font), sesuka hati mengatur ukuran kertas atau ‘seenak perut’ membuat margin dan spasi. Akibatnya, naskahmu bukannya rapi tapi malah menyebalkan redaktur yang membaca naskahmu. Alih-alih akan diterbitkan, naskahmu malah ditolak mentah-mentah walaupun kamu mengklaim itu adalah tulisan terbaikmu.

Bagi seorang penulis, memerhatikan kerapian naskah adalah perkara penting. Dengan kerapian naskah itu, kamu bakal dapat mencuri hati redaktur media massa maupun penerbit. Kalau redaktur sudah jatuh cinta padamu, eh, maksudnya tertarik pada naskahmu karena tulisannya rapi dan isinya bagus, sesering apa pun kamu kirim, maka sesering itu pula kamu akan mendapat kesempatan naskahmu terbit.

Tidak percaya? Coba saja memulainya, dan ciptakan kerapian naskahmu. 

Soal kerapian, coba bayangkan, seandainya kamu masuk kantor, memakai dasi dan jas rapi, rambut rapi berminyak, aroma parfum di bajumu menyeruak lembut, senyummu mengembang, jalanmu dan cara berbicaramu berwibawa, pasti akan menarik perhatian orang-orang di sekitar bukan? Sudah pasti. Sebab kamu menciptakan aura positif, dan dampaknya akan positif pula bagi orang-orang berinteraksi dengan dirimu.

Nah, begitu pula menulis. Kamu jangan asal nulis, tapi mulailah sadar untuk menjaga kerapian naskahmu. Dan itu sangat mudah sekali.

Caranya, ketik naskahmu menggunakan komputer—dan ini sudah pasti, sebab jika kamu mengetik di mesin tik tidak zamannya lagi. Di komputer, pakailah program microsoft word yang programnya umum, misal microsoft word 2007. Jika kamu pakai versi 2010 atau 2013, tidak semua orang memakai versi itu, mungkin. Biasanya, kalau kamu pakai program yang lebih tinggi, akibatnya ketika naskahmu dibuka di komputer yang program microsoft word-nya di bawah dari itu, susunan teks huruf akan berserak, atau tidak bisa terbaca. Kalau itu terjadi, kamu akan mengalami kerugian. Otomatis naskahmu ditolak, dan kamu menunggu-nunggu tanpa kepastian, seperti pungguk merindukan bulan.

Setelah kamu memakai program pengetikan yang tepat, aturlah naskahmu menggunakan ukuran kertas A4. Jangan pakai ukuran kertas lain, Legal misalnya. Sebab, ukuran kertas A4 merupakan pengetikan naskah yang umum di media massa maupun penerbit. Ukuran kertas A4 terlihat lebih elegan, ramping dan menarik dipandang mata.

Setelah itu, pilihlah huruf yang akan kamu gunakan di saat pengetikan naskah. Jenis huruf standar adalah Times New Roman. Ukuran huruf 12. Jangan menggunakan jenis huruf lain selain Times New Roman, ataupun membesarkan huruf dan mengecilkan huruf lebih dan kurang dari ukuran 12. Khusus untuk judul naskah kamu boleh menambah ukuran huruf, misal 14 atau 16.  Tergantung pilihanmu. Tapi jangan dilakukan untuk teks isi naskah, cukup ukuran 12 saja.

Kemudian, aturlah jarak spasinya. Media maupun penerbit umumnya meminta teks naskah diatur menjadi satu setengah spasi atau dua spasi. 

Apa gunanya spasi itu? Bagi yang tidak tahu mereka mengira spasi hanya sekadar teknis pengaturan jarak teks tulisan saja. Tapi, di samping itu, spasi adalah ruang untuk redaktur/editor melakukan koreksi. Seandainya naskahmu nanti dicetak (print) oleh pihak redaktur/editor, mereka akan membubuhkan hasil corat-coret koreksi di antara sisi ruang kosong spasi teks naskahmu. Coretan itu menggunakan pena, dan naskahmu akan berlumuran tinta pena. Umumnya redaktur/editor memakai pena bertinta merah. Itulah fungsi spasi sebenarnya.

Selanjutnya, kamu harus mengatur margin kertas yang kamu gunakan. Standar umum margin untuk naskah tulisan di media massa maupun penerbit adalah 4 (kiri), 3 (atas), 3 (kanan), dan 3 (bawah). Pengaturan margin ini akan menambah kerapian naskahmu. Setelah itu, di setiap halaman tentu jangan lupa kamu bubuhkan nomor halaman. Apa gunanya? Seandainya nanti naskahmu dicetak (print), lalu tumpukan naskahmu tersenggol jatuh, berserakan di lantai, tentu akan sangat repot menyusun kembali naskahmu itu jika tanpa memiliki nomor halaman. Kalau sudah dibubuhi nomor halaman, tinggal menyusun urutan nomor halaman seusai nomornya. Akan lebih mudah dan cepat bukan?

Terakhir, jangan lupa di bawah judul kamu bubuhkan namamu sebagai penulis. Kamu bisa menggunakan nama asli maupun nama samaran. Tapi dianjurkan menggunakan nama asli, bukan samaran (di bagian tulisan lain akan dibahas soal penggunaan nama samaran—pen.). Di bawah namamu bisa langsung kamu bubuhkan identitas dirimu. Misal: “Fulan, penulis adalah mahasiswa kampus X, menulis cerpen, dan memenangkan sejumlah kompetisi kepenulisan, berdomisili di Jakarta.” Identitasmu ini penting agar redaktur tahu siapa sih dirimu? Identitas lebih lengkap bisa kamu bubuhkan di lembar terakhir naskah. Jika perlu lampirkan juga fotomu yang keren sehingga menambah kekerenan naskahmu. Jika redaktur baik hati, identitas maupun fotomu akan mejeng di koran keesokan hari atau pekan depan.

Jadi, perhatikanlah kerapian naskahmu, karena rapi-tidaknya naskahmu adalah mencerminkan dirimu. (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

  1. Good. Postingan ini sangat membantu saya. Terimakasih FAM Indonesia..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...