Skip to main content

Ulasan Puisi "Kebencian Seorang Santri" Karya Fachrul Rozie Yudha Gunawan (FAMili Bekasi)

NET
Puisi ini merupakan cerminan kejujuran seorang manusia. Segudang aktivitas dan rutinitas kadang kala membuat kita benci dan ingin pergi saja sejauh mungkin ke tempat yang kita sukai. Dalam hal ini, kebencian ini dirasakan oleh seorang santri. Betapa ia benci mengerjakan semua "tugas" sebagai orang pondokan. Betapa ia bosan. Betapa ia ingin pulang saja ke rumah dan melakukan semua kesenangan tanpa atura setiap hari.

Namun menariknya, kebencian itu justru lama-lama tersingkir oleh karena sesuatu yang disebut cinta. Barangkali benar kata orang Jawa, "cinta bisa lahir karena terbiasa", maka begitulah yang terjadi pada santri kita yang satu ini. Bukankah aktivitas dan rutinitas pondokan yang selama ini ia benci tetapi tetap dijalani itu untuk kebaikannya sendiri? Juga untuk kebaikan orang-orang di sekitarnya kelak? Maka hadirlah cahaya yang membuatnya akhirnya jatuh cinta pada rutinitas berbuah kebaikan itu, sehingga kelak ia lama-lama akan benci meninggalkan pondok pesantren, entah secara lahir maupun batin.

Beberapa koreksi ada pada kata-kata berikut: "antri", "dihukumpun", dan "kemanapun", yang mestinya ditulis: "antre", "dihukum pun", dan "ke mana pun". Ada satu kesalahan ketik pada kata "benci" sehingga menjadi "bencim". Saran untuk penulis adalah agar terus berlatih. Pilihan dan tatanan diksi yang terlalu sederhana akan bisa jadi lebih tajam jika dikelola dengan terus melatih rasa. Tidak ada salahnya memang sebuah puisi ditulis dengan metode apa pun, selama itu membawa pesan baik. Namun, rasa sebuah puisi tetap penting, karena sebagaimana karya sastra lainnya, puisi juga butuh keindahan.

Terus berkarya.

Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Kebencian Seorang Santri
Oleh Fachrul Rozie Yudha Gunawan (IDFAM3381M)

sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku harus terkurung, terpisah jauh dengan keluargaku, dengan teman-teman sepermainanku
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku harus bangun lebih pagi dari biasanya
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku tidak dapat mendengar lagu kesukaanku, tidak dapat menyaksikan acara ataupun film favoritku
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku harus memiliki lebih banyak jadwal pelajaran yang harus diikuti
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku makan harus mementingkan logika ketimbang rasa
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku harus antri untuk makan, antri untuk mandi, antri untuk setoran hafalan, antri untuk wudhu, bahkan dihukumpun harus antri
sungguh aku benci!!!
benci... ketika aku harus minta izin untuk pulang ke rumah
sungguh aku benci!!!
benci...ketika aku harus selalu dipaksa mengikuti kegiatan meskipun aku lelah
sungguh aku benci!!!
bencim... ketika aku tidak bisa kemanapun yang aku mau
sungguh aku benci!!!
benci.....benar-benar benci....
ketika aku  harus meninggalkan pondokku...

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...