![]() |
| NET |
Dalam puisi ini kental perasaan gundah sekaligus "tertekan" dalam diri seorang anak. Tekanan ini bukan sesuatu yang negatif, melainkan sebaliknya, sebab lahir dari usaha dan doa orangtua yang tulus. Perasaan ini mulai terasa di batin anak sejak bait pertama. Betapa tertekan hingga terharu ia—yang akhirnya membuatnya bangkit untuk sebuah pembuktian bahwa setiap yang dilakukan orangtua untuknya tidak akan sia-sia; sekolah setinggi mungkin.
Membaca dan mencermati puisi ini, Tim FAM Indonesia menilai penulis cukup baik menggiring pengertian sebuah puisi dari tiada menuju ada. Samar-samar penulis memberi sedikit penerangan di satu-dua bagian, lalu menyusul bagian lain dan terjabarlah segala maksud di akhir bait.
Namun, sebagaimana puisi pada umumnya, tentu saja tidak menutup kemungkinan multi-tafsir. Termasuk puisi ini. Ia bisa saja hadir bukan sekadar menggambarkan hubungan erat orangtua dan anak yang tak ingin mengecewakan dalam suatu perjalanan hidup, tetapi juga antara sepasang kekasih yang saling menyemangati demi masa depan. Tidak ada petunjuk yang jelas membuat dua kemungkinan itu lahir. Namun yang jelas, kedua arah tafsir sama-sama menggambarkan "peralihan" seperti yang tertera pada judul.
Koreksi ada pada kata "merubah" yang harusnya ditulis "mengubah". Tidak ada kata kerja "merubah". Sisanya, tampaknya sudah tepat. Saran dari Tim FAM untuk penulis, terus perdalam kekuatan pena Anda. Diksi-diksi dalam puisi ini masih terasa sederhana, namun terkadang agak klise. Dengan terus menulis puisi, suatu saat ciri khas Anda akan ditemui sehingga walau dengan diksi-diksi sederhana, penataan yang pas menjadikan setiap baitnya lebih tajam. Itulah kuncinya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Kemelut Peralihan
Karya: Mafiana Annisya (ID FAM3462M)
Lantunan itu bagai memecah asa
Menggoreskan cipta, cita, dan canda
Melambung dalam angan
Menyusuri .... bahkan mempertegas sebuah makna
Rasa apa ini!
Beraninya kau mengusik bias tangisku
Menghempaskan udara dalam lara
Melukiskannya hingga lazuardi
Kau apakan ruang dalam alur itu?
Tak bisakah kalam itu berirama
Bagai atom nan hendak bersuara
atau memilih bersembunyi dalam retro memori lampaunya?
Entahlah,
Ketika pancacita tak lagi dalam ikrarnya
Sekema tabiat tak kunjung berbanding dengan bukti
Yang ada mungkin...
Hanya sebuah goresan tanpa dapat dimengerti
Namun, dalam goresan nan tak aku mengerti
Engkau berikan seberkas semangat untuk merubahnya
Kau lantunkan nada doa indah untuk melengkapinya
Menjadikanku bak senopati nan gagah berani melangkah
Memantapkan diri menuju perguruan tinggi
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment