Siapa sih
yang ingin hidup di tengah konflik? Semua orang menginginkan hidup tenang,
nyaman dan damai. Termasuk kamu, tentunya. Konflik membuat hidup gelisah,
cemas, tidak tenang dan perasaan-perasaan lainnya yang melemahkan gairah.
Apalagi kalau konflik itu berlangsung terus-menerus. Bisa-bisa kamu stres dan
menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Entah menyepi ke gua atau ke gunung yang
tinggi, he-he.
Tapi tahukah
kamu, konflik yang kamu benci itu ternyata amat berguna. Bermacam konflik yang
timbul dalam kehidupan adalah penyumbang inspirasi dalam berkarya (menulis
cerita). Berkat konflik-konflik yang terjadi di sekitarmu, kamu diuntungkan,
mendapat ide berserak yang gratisan. Tinggal pungut, olah dan tulis. Keren,
bukan?
So, jangan
buru-buru meradang ketika kamu enggak setuju dengan aturan orangtua yang
menyita laptopmu saat menghadapi ujian. Terus kamu mencak-mencak dan mengancam
tidak akan belajar. Atau sikap yang lebih ekstrem, mogok makan berhari-hari.
Serius kamu
kuat? Emosimu pasti kuat, tapi ingat perutmu itu, Guys! Perutmu tak sekuat
emosimu, camkan, titik!
Berterimakasihlah pada konflik. Tanpa konflik, karya sastra (seperti novel atau cerpen)
tidak akan hidup; garing, hambar, datar dan tidak indah. Tanpa ada keseruan dan
puncak cerita, sebab si tokoh hidup aman, damai, sentosa. Pembaca hanya
disuguhi ketenangan dari awal hingga akhir cerita, tanpa ada ketegangan sedikit
pun.
Satu contoh
begini, ada seorang tokoh cerita yang memiliki banyak impian. Dalam perjalanan
hidupnya, satu persatu impian tercapai dengan mudah. Tanpa halangan sama sekali.
Tanpa kegagalan. Prestasi si tokoh selalu baik, berderet piala, bejibun piagam
penghargaan, bertabur sanjungan dan berlimpah materi. Semua orang menyukainya.
Dia idola untuk semua kalangan; tua-muda. Ending cerita, ia hidup bahagia
mendapat jodoh lelaki tampan yang saleh, kaya, bergelar doktor sastra dan
setiap bulan diajak pelesir ke luar negeri.
Nah,
bagaimana perasaan kamu ketika membaca cerita seperti di atas? Bahagiakah?
Rasionalkah cerita itu?
Bukankah
dalam kehidupan nyata, setiap usaha selalu ada hambatan? Impian tidak selalu
terwujud. Banyak aral melintang yang menghadang, liku-liku yang menguras
keringat dan air mata. Halangan demi halangan inilah yang akan menjadi daya
tarik dan puncak ketegangan cerita, hingga pembaca hanyut menikmati serta
timbul rasa penasaran untuk melanjutkan baca hingga titik terakhir. Itulah
pentingnya konflik!
Oke,
ternyata konflik dalam sebuah cerita itu sangat penting. Konflik adalah sesuatu
yang tidak menyenangkan, bersifat negatif. Hal yang tidak menyenangkan ini,
kita seret masuk ke dalam cerita, selipkan di salah satu bagiannya, untuk
“menyenangkan” pembaca. Caranya? Gali dulu konflik sebanyak-banyaknya. Jadikan
rangkuman dalam ingatanmu. Bukan berarti kamu harus berantem dulu dengan teman,
cekcok mulut dengan tetangga, rebutan mainan dengan adik, atau bersikap jahil
menyembunyikan pensil temanmu. Ah, itu konflik yang dibuat-buat, tidak keren
dan menurunkan nama baikmu, he...he.
Cukuplah
kamu menyelami kehidupan. Amati yang terjadi di sekitarmu. Lihat hubungan
sepasang kekasih, orangtua dan anak, kakak-adik, tetangga, teman sekolah,
sahabat dan lainnya. Termasuk, peka terhadap perasaan kamu sendiri. Pernahkan
kamu merasa minder saat melihat temanmu yang kaya raya itu ke sekolah bawa
mobil keluaran terbaru, sementara kamu jalan kaki? Pernahkah kamu merasa tak
berharga ketika cinta tulus yang kamu persembahkan untuknya dibalas dengan
penghinaan? Pernahkah kamu merasa menyesal atas tingkah polahmu pada orangtua
semasa hidupnya dulu, lalu perasaan itu tak bisa hilang dari benakmu, tapi
tidak tahu cara meredamnya? Pernahkah dan pernahkah? Tanyakah semua pada
dirimu. So, bertanyalah, Guys!
Oke Guys,
konflik itu ada dua, yaitu konflik internal dan konflik eksternal. Nah, konflik
eksternal dibagi dua lagi, yaitu konflik fisik dan konflik sosial.
Apa sih
konflik internal itu? Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati-jiwa
tokoh cerita. Artinya konflik batin yang dialami manusia dengan dirinya
sendiri. Konflik yang dibangun dalam cerpen lebih sederhana dari konflik dalam
novel. Konflik itu tidak (harus) mengakibatkan perubahan nasib pada tokohnya,
namun demikian harus tetap dikembangkan menjadi cerita yang utuh. Cerita yang
utuh dalam cerpen terdiri atas konflik, pengembangan konflik (komplikasi),
puncak konflik (klimaks), dan penyelesaiannya (resolusi).
Cara
pengembangannya? Suka-suka kamu deh! Boleh pilih salah satu teknik pengaluran.
Entah itu alur maju (progresif), alur mundur (flashback) atau alur campuran.
Lalu, apa
sih konflik eksternal? Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi pada
seorang tokoh dengan sesuatu di luar dirinya. Pertama, konflik fisik yaitu
konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan
alam. Kedua, konflik sosial yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya kontak
sosial atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia.
Langkah
mudah mengembangkan konflik begini deh, kamu susun saja semisal alur seperti:
Pertama, Eksposisi atau pengenalan. Kamu kenalkan dulu tokoh-tokoh dalam
ceritamu. Latarnya di mana dan kenalkan konflik pembuka. Kedua, Konflik. Mulailah kamu buat ketegangan
atau masalah yang dihadapi tokoh-tokoh ceritamu. Please, kamu heboh-hebohkan saja semaumu. Asal tetap rasional ya,
kecuali jika ceritamu itu tentang tokoh kartun; yang nggak mati-mati ketika
dipukul, ditembak, dibakar dan lainya yang super ekstrem.
Ketiga, Komplikasi.
Di bagian ini, kamu harus mengembangkan konflik hingga mencapai titik rumit.
Seolah-olah masalah yang dihadapi si tokoh sulit terpecahkan. Mainkan emosi
pembaca, aduk-aduk perasaannya, dengan suguhan konflik ceritamu yang
menegangkan.
Keempat, Klimaks atau puncak masalah. Nah, bagian ini adalah bagian paling seru
dalam sebuah cerita, di mana konflik sudah pada titik puncak. Titik rumit.
Titik tegang. Titik panas. Ramu bahasamu di bagian ini sebaik mungkin, sehingga
antara komplikasi dan klimaks ada bedanya. Jangan sampai klimaks ceritamu
hambar dan tidak menimbulkan efek rasa apa pun pada pembaca. Alias datar-datar
saja. Banyak tema konflik dari sebuah cerita yang spektakuler, namun gara-gara
pengolahan konflik yang kurang maksimal, hasilnya biasa saja. Tidak menimbulkan
efek tegang, apalagi panas!
Kelima, Antiklimaks. Pada bagian
ini, kamu harus menurunkan konflik menuju ketenangan. Perlahan masalah itu
menemukan solusi atau pemecahan. Ibaratnya memberikan jeda bernapas bagi tokoh
yang tertimpa konflik. Kalau pada klimaks si tokoh dibuat senista-nistanya,
hingga berdarah-darah, maka pada bagian antiklimaks si tokoh diberi jalan.
Kecemasan dan ketakutannya berkurang, orang yang dulu membencinya mulai menyapa
meskipun sapaan alakadarnya tanpa disertai senyum, peluang pekerjaan mulai
menemukan titik terang dan lain sebagainya.
Keenam, Resolusi. Nah, pada
bagian ini konflik sudah reda, tuntas, tidak muncul konflik baru. Jangan kamu
putar lagi cerita ke bagian klimaks. Cerita tidak akan selesai, bolak-balik,
maju-mundur, nggak jelas si tokoh mau diapain dan pembaca pun jenuh. Akhiri
konflikmu dan buat cerita baru!
Oke Guys, sampai di sini dulu
bincang-bincang soal konflik. Jangan ribut, jangan rebutan, jangan
sikut-sikutan, pakai alat tulismu sendiri untuk menulis. Jika itu terjadi, kamu
berhasil menciptakan konflik di dunia nyata, tapi dalam tulisan? Mana, mana?
Selamat bertengkar, eh selamat mengolah konflik!
(Aliya
Nurlela, Novelis & Pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia)

Comments
Post a Comment