Peresensi: Miss Carol
Judul: Senyum Gadis Bell’s Palsy
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2015
Jumlah Halaman: 304 halaman
Harga: Rp. 50.000,-
Sumber: https://natacarol13.wordpress.com/2016/03/14/pejuang-bells-palsy-bertahanlah/
Judul: Senyum Gadis Bell’s Palsy
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2015
Jumlah Halaman: 304 halaman
Harga: Rp. 50.000,-
Hari-hari Delima begitu sempurna
dengan wajah cantik, deretan pria yang naksir dan memiliki banyak teman.
Hubungan dengan Bagas terasa manis hampir tak ada hambatan. Walaupun
seringkali, kegemaran Delima yang menyukai buku dan membaca selalu menjadi alasan
pertengkaran dengan Bagas yang tak menyukai buku.
Berbeda dengan Fariz, kakak Delima
dan keluarga satu-satunya yang dimiliki gadis itu sejak meninggalnya orangtua
mereka. Laki-laki ini sangat berpegang teguh dengan agama dan batasan antara
mahram jelas menjadi alasan untuk resah saat Bagas sering mengajak Delima
jalan-jalan sore ke pinggir sungai atau ke toko buku sekalipun. Sampai adik
semata wayang marah karena nasihatnya, Fariz tetap menyayangi Delima sepenuh
hati. Kali ini laki-laki 25 tahun itu berhenti untuk menuntut Delima soal
aturan-aturan agama yang mereka yakini. Tidak ada agama yang dituntut, Tuhan
juga tak meminta untuk dipilih tapi memberi pilihan untuk kaum di jalan yang
benar.
Sebagai permintaan maaf pada
Delima, Fariz mengajak Delima jalan-jalan sore ke mana pun yang Delima mau.
Permasalahan dimulai saat Delima melihat pria yang ia cintai bermesraan dengan
gadis lain di sungai tempat istimewa mereka. Fariz yang tak menyadarinya hanya
mengikuti permintaan Delima untuk pulang. Esok harinya lebih parah, Delima
dengan mudah memaafkan Bagas dengan alasan cinta, lupa luka pengkhianatan.
Semua kembali berjalan normal,
hingga Delima merasakan sakit di telinga, wajahnya tidak simetris, mata yang
bulat dan indah kini tak lagi seimbang. Seperti sesuatu yang menariknya. Fariz
yang resah segera pergi ke apotik, sedangkan Bi Ratni percaya ini penyakit
kiriman dan menyarankan mereka pergi ke orang pintar. Fariz jelas menolak, mana
bisa memberikan kepercayaan sembuh pada orang yang menyekutukan Tuhan.
Raihanah, teman Fariz yang tanpa
sengaja bertemu di apotik, menyarankan Delima di bawa ke dokter. Untuk kali
ini, vonis dokter membawa duka lara. Delima terkena penyakit Bell’s Palsy yang tak ada obatnya.
Ditambah Bagas yang memilih pergi dan mempermalukan dirinya depan teman kampus.
Seorang pria asing yang tak dikenalnya berusaha melindunginya.
Di tengah keputusaan pengobatan
mampukah Delima bertahan? Bagaimana kisah cinta Bagas dan Delima? Siapakah
orang asing yang rela membantunya?
Berdasarkan kisah nyata yang berada
di tengah-tengah kehidupan patut di acung jempol, ide yang jarang dikembangkan
penulis lain. Bahasa yang digunakan santun dan cocok untuk remaja. Motivasi
yang digunakan terkesan tak menggurui. Walaupun, mengusung tema remaja tak
melulu membahas cinta terselip pesan moral pada hubungan adik kakak. Tapi,
sayangnya beberapa kejadian di bab akhir seperti dipaksakan dan terburu-buru.
Penggambaran suasana seperti jalan cerita sinetron zaman sekarang yang mudah
ditebak pembaca.
Dengan harga sesuai kantong remaja,
buku ini cocok untuk yang sedang mencari motivasi, pengembangan diri sampai
mengalami demam panggung. Semua dikemas apik dengan cover yang menarik.
Sumber: https://natacarol13.wordpress.com/2016/03/14/pejuang-bells-palsy-bertahanlah/

Comments
Post a Comment