Cerpen ini mengisahkan tokoh perempuan
berusia 23 tahun bernama Rei. Rei sedang kuliah di Universitas College London
(UCL). Mamanya sangat mencemaskan jodoh Rei, sebab wanita Aceh di lingkungannya
di usia 23 tahun rata-rata sudah memiliki dua anak.
Sang mama berusaha menjodohkan Rei, namun Rei
menolak, dengan alasan sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, tidak perlu
dijodohkan. Di akhir cerita, Rei dilamar Rendi sahabatnya sendiri dan kedua
orangtua Rei langsung menyetujui. Bersamaan dengan lamaran Rendi, Rei lulus
dari UCL.
Setelah Tim FAM Indonesia membaca cerpen ini,
ada beberapa catatan untuk perbaikan penulis pada karya-karya berikutnya.
Pertama, pemilihan judul. Disarankan penulis membuat judul yang tidak ‘pasaran’
dan sedikit bisa mengundang rasa penasaran.
Kedua, teknik bercerita masih lemah. Cara
penulis memaparkan cerita terkesan datar, tidak menguras emosi pembaca dan
tanpa konflik yang berarti. Meskipun yang diangkat sebuah tema kegelisahan
seorang wanita dewasa yang belum juga menemukan jodohnya, namun cara
penyampaian yang datar, membuat cerita kurang hidup. Antara konflik dan tidak,
tidak ada bedanya. Seolah-olah si tokoh memiliki ekspresi dan respon yang sama
dari awal sampai akhir.
Di sini penting sekali peran penulis
mengeksplorasi cerita dengan memberikan penekanan-penekanan berbeda pada setiap
kejadian yang dialami. Antara bahagia dan sedih, harus bisa dibedakan. Hingga
pembaca ikut hanyut dalam setiap perasaan atau kejadian yang dialami tokoh.
Satu paragraf contoh dari Tim FAM: “Dua puluh tiga tahun? Ini angka yang aku
takutkan sejak dulu. Bukan takut menginjak angka ini, namun aku takut jodohku
belum jua menyapa di usia sedewasa ini. Benar saja, hingga di penghujung usia
23 tahun, tak seorang pun lelaki yang benar-benar serius mengajakku bersanding
di pelaminan. Puih! Para lelaki itu hanya merayu, menggoda, basa-basi dan cari
perhatian. Mempermainkan perasaan perempuan, tanpa kejelasan! Aku lelah. Aku
ingin Tuhan menghadirkan jodoh yang tepat buatku dan tulus menyayangi.”
Ketiga, kesalahan EYD terdapat di setiap
paragraf. Penulis harus lebih teliti mencermati tanda baca di setiap akhir
kalimat. Hampir semua akhir kalimat, tanpa disertai tanda baca alias kosong.
Begitu pun pada akhir dialog yang tidak memakai tanda baca. Atau penulisan nama
orang yang tidak menggunakan huruf kapital pada huruf awal.
Terlepas dari koreksi di atas, upaya penulis
patut mendapat apresiasi. Melalui cerpennya penulis berusaha menunjukkan sisi
lain tentang perasaan wanita 23 tahun yang belum juga bertemu jodoh.
Tim FAM menyarankan agar penulis terus
mengasah kemampuan menulisnya dengan membaca cerpen-cerpen yang sudah terbit di
media massa, latihan mengolah tema dan membiasakan menulis. Semoga cerpen
selanjutnya bisa lebih baik lagi. Selamat menulis!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
PANGERAN KU
Oleh: Cut Ayu Mauidhah (IDFAM4045M)
Deringan hand phone ku dengan lagu sakitnya
tuh di sini oleh cita-citata terus berbunyi. Ku kira siapa yang terus call,
ternyata “my mom”. Ku raih hand phone yang terletak di atas kasur.
“Assalamu’alaikum ma..” jawab ku yang jauh dari kota kelahiranku yaitu aceh.
Ohh..my god ! aku sangat merindukan kota itu.
“Wa’alaikum salam nak.. Rei, kamu di mana?”
“Rei di kos ma, biasalah kos ku kan di
bandung” seraya bercanda terhadap ibu ku
“Kamu ini tidak pernah berubahnya, kamu kapan
pulang ke sini? Bukannya kamu sudah wisuda Rei,,jadi apalagi yang kamu kerjakan
di sana Rei?”
“Iyaa sih ma. Mama sabar ya? Rei..kangen sama
mama dan keluarga bukan Rei enggak kangen ma, tapi Rei belum bisa pulang.
Insyaallah Rei juga bakalan pulang kok ! tapi Rei enggak tau kapan waktunya,
mama sabar yaa?”
“Iya Rei..mama sabar tapi mama maunya kamu tu
jangan lama kali di sana, lihat tuh sepupu kamu yang seumuran dengan kamu saja
sudah pada mau nikah padahal mereka belum selesai kuliah loh Rei” kata ibu ku
yang ingin anaknya ini cepat-cepat nikah selesai kuliyah
“Adduuhh..mama.., mama jangan bahas itu dong
?? Rei pusing kalo bahas itu, biarlah sepupu Rei itu nikah duluan. Lagian Rei
juga belum ada jodoh kalau ada kan pastinya Rei juga yang duluan nikah daripada
sepupu Rei itu” jawab ku dengan nada lemas disaat membahas tentang pernikahan
“Ya udah kalau enggak,, biar mama dan ayah
yang cariin jodoh buat kamu, gimana?”
“Engak..engak..engak ma. Rei enggak mau kalau
mama dan ayah cariin jodoh, ini bukan zamannya Siti Nurbaya yang pakai
jodoh-jodohan segala. Pokoknya Rei enggak mau ada perjodohan” kata Rei dengan
menepuk jidatnya
Pembicaraan aku dengan ibu terputus dengan
tiba-tiba, yaahhh..apalagi kalau bukan jaringan. Di saat berpikir tentang
pernikahan, kadang terlintas dalam pikiran ku kenapa jodoh ku belum datang
juga, sedangkan sepupu ku pada yang sudah nikah dan malah ada yang mau nikah.
Di Aceh kalau sudah seumuran aku tu umur 23 tahun sudah punya anak dua atau
bahkan lebih. “Walaahhh...apaan sih Rei mikir nikah. Segala sesuatu itu sudah
ada yang ngatur, termasuk jodoh. Sekarang fokus s2” gumam ku dalam hati. Iya..
s2 dan s2 sekarang fokus bagaimana agar bisa lolos s2. Dengan menyemangati diri
sendiri aku langsung merebahkan diri ku di atas kasur yang empuk yang tak
serapa ini.
Di pagi hari 05.15 wib..
Massage,
“Rei, aku ingin jujur dengan mu. Sudah lama
kita berteman, apakah kamu tidak pernah merasakan apa-apa selama 8 tahun persahabatan
kita ini. Namun secara pribadi dari mulai menjadi temanmu, lalu sahabat
akhirnya dari persahabatan itu aku mulai terbawa perasaan, aku menyayangi mu
Rei atau bahkan aku lebih dan lebih menyayangimu. Aku ingin menjadi pelindung
buat kamu. Terserah kamu ingin berpikir apa tentang aku, aku tidak perlu
jawaban kamu bila kamu tidak bisa menjawabnya. Aku hanya ingin mengungkapkan
saja perasaan yang sudah lama kupendam”
Selesai solat subuh aku tidak menyangka kalau
aku akan membaca SMS dari Rendi sahabat ku sendiri. Ya Allah..Rendi apakah ini
benar, seakan aku tidak percaya dengan ini semua. Rendi mencintai ku. Di saat
ingin membalas pesan dari Rendi, tetapi tangan ini terhenti untuk tidak
membalasnya. Aku ingin Rendi mengungkapnya secara langsung kalau ia benar-benar
mencintaiku. Tapi kalau itu benar apa yang harus ku jawab. Aku yang masih di
atas sajadah lemah memikirkan ini semua. Dan kadang aku tersenyum sendiri,
seakan hati ku sangat berbunga-bunga kalau sahabat ku sendiri menyayangiku.
Di Universitas Pandjajaran Bandung...
Aku berjalan kaki dari kos menuju kampus
sekitaran 17 menit untuk menempuh perjalanan ku ini, aku sudah terbiasa dengan
berjalan kaki. Yahh..anggap saja sebagai peganti olahraga biar sehat. Heheh.
Kalau sudah selesai kuliyah, terasa bosan rasanya kalau tidak ada kegiatan
apa-apa. Namun bukan berarti aku tidak ada kegiatan apa-apa ya, aku ke kampus
dan rela tidak pulang-pulang ke kampung halaman ku itu karena ingin menyambung
pendidikan ku ke jenjang S2. Jadi sekarang ini aku lagi mengurus berkas S2 ke
Universitas College London (UCL) dengan jurusan Ilmu Komunikasi, do’ain ya..
semoga aja impian ini tercapai untuk ke London. Heheh...
“Hei..Rei,,”
“Wahh..Rendi, emmm..gimana berkas-berkas
untuk lanjut S2 nya sudah beres?” kataku dengan rasa-rasa yang berbeda ketika
berjumpa dengannya dari hari-hari sebelumnya. Kenapa tidak ?? ketika ia
mengungkapkan perasaannya, perbedaan saat bejumpa sekarang ini sangat terasa.
“Belum sih Rei, gimana dengan kamu? Kamu
sudah beres semuanya?” nampak perbedaan di wajahnya saat ia berbicara
“Aku sih belum juga, tinggal satu berkas lagi
ni” kataku dengan tersenyum
“Ohh yaa.. entar, kita apply sama-sama ya
berkasnya? Itu sih kalau kamu mau..”
“Iya..iya,, aku mau kok”
“Oke, entar kita jumpa lagi. Aku ngurusin ini
dulu”
“SIPP” jawab ku singkat dan padat
“akhirnya ia pergi juga...fuuffhhh....” gumam
ku seraya menarik nafas. Rendi pernah bilang sama aku kalau ia ingin
melanjutkan studinya ke Jerman. Kami sama-sama orang Aceh, aku merasa nyaman di
dekatnya. Apalagi aku sudah mengenalnya sejak sekolah dasar dulu. Ia selalu
membantu ku di saat aku memerlukannya.
Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku
Baru saja aku keluar dari gerbang kampus,
hand phone ku berdering. Ku ambil ponsel di dalam tas, ternyata Rendi menelpon
ku. “ada apa ia menelpon ku” kata ku dalam hati.
“Haloo Ren..”
“Haloo Rei, kamu di mana? Kamu sudah pulang?”
“Iya Ren, aku belum pulang ni. Masih di
kampus, mau pulang ke kos”
“Rei, jangan pulang dulu dong !! ada yang
ingin ku bicarakan tentang sesuatu penting dengan kamu. Kita duduk di Kafe Arar
Gallery aja yuk,, sambil nyantai..”
Rendi ngajak aku jumpa di Kafe, saat itu juga
perasaan ku sudah tidak karuan lagi. Ketika itu aku ling-lung menerima
ajakannya atau tidak. Tapi sebenarnya aku ingin menerima ajakannya itu.
“Iya Ren, aku mau.., ini kamu di mana
sekarang?”
“Aku masih di kampus. Bagaimana kalau kita
pergi sama-sama saja ke Kafe itu?”
“Oke. Boleh juga, aku nunggu di luar gerbang
ya?”
“Iya Rei” jawab Rendi dan lalu menutup
teleponnya
Kafe Arar Gallery...
Suasana yang nyaman dan cocok untuk
bersantai. Sejenak kami hanya terdiam tanpa ada kata-kata yang keluar dari aku
dan Rendi. Aku hanya menunduk menyantap makanan ku dengan lahap, sedangkan
Rendi sesekali menatap ku dengan tanpa disadarinya minuman yang di pesan
olehnya telah habis. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Ren, minuman mu.. cepat sangat yaa, hahah”
kata ku dengan tertawa
“Oppss, aku tidak sadar soalnya aku kehausan
Rei..” ia mengatakannya dengan rasa gugup
Aku pun memancing Rendi, apa yang ingin di
bicarakan olehnya yang dikatakan itu penting.
“Oh..iyaa Ren, kamu bilang ada sesuatu yang
penting yang kamu ingin katakan? Ayok lah.. bicarakan sekarang saja” kataku
penasaran
“Iya Rei, aku ingin bicarakan sesuatu yang
serius dengan mu. Kalau aku..aku..aku mencintai mu Rei.” Rendi terdiam tanpa
bisa berkata-kata lagi di saat ia mengungkapkan itu
“Rendi, kamu serius dengan ungkapan mu itu”
“Rei, aku serius ! apa kamu tidak percaya
dengan ku? Aku benar-benar mencintai mu Rei”
“Ren, aku juga menyukai kamu namun aku
bingung dengan perasaan aku ini”
“Bingung kenapa Rei?”
“aku bingung menyukai kamu sebagai sahabat
atau lebih dari sahabat”
“Rei, kalau kamu masih ragu dengan perasaan
kamu, apakah kamu mau mencoba untuk menjalin hubungan kita ini ke yang lebih
serius lagi. Aku ingin serius dengan kamu. Aku ingin mencapai impian aku ini
bersama kamu dan aku ingin kamu itu selalu ada di samping aku”
“Maksud kamu Ren? Kamu ingin melamar ku?”
perasaan ku yang sudah tidak menentu
“Iya Rei, aku ingin melamar kamu. Semoga kamu
bisa menerima lamaran ku ini?”
Aku tidak tau bagaimana perasaan ku
sebenarnya kepada Rendy, Apa itu sahabat ? atau mungkin lebih. Namun aku tidak
ingin kehilangan dia, aku ingin Rendy selalu ada di samping ku. Tapi apa
salahnya bila aku mencoba menerimanya di saat ini juga. O ohh..Tuhan ! apakah
Rendy adalah jodoh ku ? apakah dia adalah pangeran yang Tuhan kirimkan buat ku?
Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus ku utarakan kepadan Rendy
yang sudah menunggu jawaban ku sedari tadi.
“Ren, aku menerima lamaran mu..” jawab ku
dengan hati yang lega
“Benarkah ini Rei?” tanyak Rendy dengan muka
yang penuh kebahagian
“Iya Ren, aku serius dengan jawaban aku ini”
Malam hari..
“Ma,, Rendy melamar Reina, bagaimana dengan
mama dan ayah?”
“Bagaimana apanya Rei? Mama dan ayah sangat
setuju. Alhamdulillah semoga jodoh mu adalah Rendy”
“Iya ma”
“Jadi kapan Rendy akan melamar mu ke rumah?”
“Rendy katakan dia ingin bertunangan dulu
dengan ku di Aceh dalam tahun ini juga agar kami pun bisa melanjutkan
pendidikan bersama-sama”
“Iya Rei, mama sangat bahagia akhirnya kamu
menemukan jodoh mu”
Lama berbicara dengan mama lewat telepon
seluler membahas tentang Rendy. Semoga saja Rendy adalah lelaki yang terbaik
buat ku. Di tahun ini Rendy hanya ingin bertunang dulu dengan ku, karena aku
pun tidak ingin cepat-cepat menikah. Aku masih ingin melanjutkan pendidikan
setelah itu barulah aku memikirkan pernikahan. Alhamdulillah, Rendy mengerti
maksud ku itu.
Hari demi hari ku lewati di kota Bandung ini,
tidak sangka pengumuman S2 di Inggris telah umumkan. Alhamdulillah..perjuangan
ku tidak sia-sia, aku lulus di UCL dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Begitu juga
dengan Rendy, dia lulus di Universitas yang dia inginkan di Jerman.
“Rei, alhamdulillah kita telah lulus di
Universitas yang di inginkan. “
“Iya sayang..” jawab ku dengan tersenyum
memanggil Rendy dengan sebutan sayang
“Baru kali ini kamu memanggil ku sayang Rei,
“ kata Rendy lewat ponselnya
“Memang tidak boleh bila aku memanggil kamu
begitu” dengan tawa ku yang tertahan
“Boleh, semoga kamu bisa menjaga diri kamu
baik-baik di sana. Begitu juga dengan aku”
“Iya Ren”
Di tahun ini adalah tahun yang sangat
membahagiakan bagi aku. Aku lulus di UCL dan aku mendapatkan Rendy yang selalu
baik buat aku. Terimakasih Tuhan atas kebahagian ini. “Rendy, semoga kamu
benar-benar pangeran dalam hidup ku dan do’a ku akan selalu menyertai mu” kata
ku dalam hati.

Comments
Post a Comment