Delapan Puluh Tujuh Tahun Pramoedya Ananta Toer 6 Feb
1925-2012
Menoleh Sejenak Kepenulisan Pramoedya Ananta Toer
Oleh: Arbi Syafri Tanjung
Jasad dan raganya telah menyatu dengan tanah dan bumi tempat
dia bersuara, berjuang dan bertahan, sekaligus negara tumpah darah yang selalu
dia percikan cinta padanya, yaitu Indonesia. Lima tahun lalu, Minggu 30 April
2006 ketika sebagian anak kecil dikota besar dan pelosok mengisi waktu liburnya
dengan mempelototi program kartun Doraemon atau kartun lainnya. Jam dinding
menunjukkan pukul 08.55 WIB, ruang bathin orang sekelilingnya terusik dan
terhenyak. Mungkin juga ruang bathin Indonesia, karena pagi itu Pramoedya
Ananta Toer yang lebih sering disapa Pram, sastrawan Tierra Humana atau
sastrawan Bumi Manusia menghembuskan nafas terakhirnya, pergi meninggalkan Bumi
Manusia yang dia huni.
Jumlah bilangan angka mengisi hidup telah sampai pada titik
didih delapan puluh satu tahun. Tubuh kurus yang biasa menghabiskan tiga
bungkus rokok Djarum Super dalam sehari itu, dikerumuni ratusan pelayat yang
ingin melepaskannya keperistirahatan terakhir. Mereka memenuhi rumah dan
pekarangan Pram di Jalan MultiKarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Setelah
dishalatkan, dia dibawa ke TPU Karet Bivak dengan ambulans. Saat jenazahnya di
kebumikan, terdengar lagu Internationale dan Darah Juang yang dinyanyikan
sebagian pelayat.
Lagu yang dilantunkan secara spontan oleh sebagian pelayat
pemakaman Pram, bisa saja menggiring saya atau anda pada satu simbol atau
ideologi tertentu. Terlepas ikut tergiring atau tidaknya kita pada lagu khas
kaum tertindas itu, satu yang utama sepantasnya kita munculkan bahwa Pram
adalah simbol manusia produktif. Produktif bertahan pada sesuatu yang dia
yakini, terlebih lagi produktif untuk melahirkan tulisan.
Menulis sama dengan mencatatkan hidup. Pram telah catatkan
hidupnya, Pram telah catatkan tempatnya, Pram juga telah catatkan
manusia-manusia lengkap dengan segala peristiwa yang dialaminya dan saling
beriringan mengisi bumi yang sama dengannya. Baik itu sukunya, rasnya,
agamanya, apalagi nasib untung-malang yang tak pernah mau dan bisa mereka
pisahkan dari diri mereka.
Pram yang lahir pada 6 Februari 1925, dimasa teknologi
komunikasi baca dan tulis belum secanggih era facebook hari ini, pernah
mengakui rutinitas catat dan tulis mulai dia lakonkan sejak duduk di kelas 4
Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1935. Tulisan-tulisan semasa SD, satu di
antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, tapi ditolak.
Ayah Pram seorang pendidik sekaligus aktivis pergerakan
telah mempengaruhi habit-nya memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan manusia yang
ingin capai peradaban tertinggi pada kemanusiaan itu sendiri. Pram besar dan
dibesarkan oleh buku-buku bacaan koleksi pribadi ayahnya. Beliau belajar
membesarkan jiwa dan rohani pribadinya dengan baca-tulis. Dua kegiatan yang
kelak meletakkan beliau sebagai seorang yang berdiri di puncak dunia sastra
Indonesia.
Tulisan-tulisan yang ditelurkan,adalah hasil dari kerja
juang pikiran dan perasaan serta keadaan yang apa adanya. Tulisannya bergerak
dan bergulir berbagai tempat, dimana keadilan dan kebenaran tetaplah harga
mutlak, harus didapatkan. Di kota besar, disana Pram dibaca dan disana Pram
dibahas. Di gedung tinggi kantor tempat bekerja atau di halte penantian bus
kota hendak pergi atau kembali dari rutinitas harian hidup urban. Tulisannya
menggelinding ke desa-desa yang dipenuhi manusia yang dekat dengan bau
pupuk-lumuran lumpur ditangkai cangkul-dihijau daunnya tanaman padi-sayuran
serta ditambah bumbu-bumbu kepelikan lain seperti lilitan hutang, kelaparan
atau kematian yang terkadang datang walau tanpa undangan.
Mengapa Pram memulai menulis?
Hasil wawancara yang dibukukan Andre Vltchek dan Rossie
Indira lewat "Aku Terbakar Amarah Sendirian: Pramoedya Ananta Toer dalam
Perbincangan Dengan Andre Vltchek dan Rossie Indira (2005)" terjawab
pertanyaan di atas, Pram menyatakan: "Saya mulai menulis di tahun 1947,
karena pada saat itu saya harus membiayai adik-adik saya. Pada saat itu saya
menulis seperti orang gila untuk mendapatkan uang. Saya tidak bisa kerja yang
lain selain menulis. Bisa dikatakan, saya menulis untuk makan. Dari sejak awal
kelihatannya pembaca menyukai tulisan-tulisan saya, jadi, ya, saya
teruskan" (hal:75).
Proses pun dimulai, kemudian mengalir terus tanpa satupun
dapat menghambatnya. Jeruji besi yang kokoh, kerja paksa dalam tahanan atau
sanksi hukum yang tak jelas ujung pangkalnya, bagi Pram bukanlah jadi
lubang-lubang yang menjerambabkan untuk tidak menulis. Sebaliknya dari
lubang-lubang itu semua terungkap, jiwa dan rohani seseorang bebas, meski tubuh
pemiliknya dikungkung di dalam kotak penjara.
Karya fenomenalnya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia-Anak
Semua Bangsa-Jejak Langkah-dan Rumah Kaca) dihasilkannya di pembuangan
pedalaman Pulau Buru. Ketika dia tiba untuk pertama kalinya, merupakan pulau
yang lebih pantas disebut pulau tak bertuan. Sejak tahun 1947 itu pula
bersemburan tulisan-tulisan Pram hingga tahun 2000. Proses menulis yang sering
dia sebut sebagai tugas pribadi, tugas sosial dan tugas nasional itu terhenti,
sejak tahun 2000 saat stroke menghampirinya. Saat itu dia berhenti menulis.
Pram memang telah pergi tinggalkan Bumi Manusia, yang penuh
dengan anak semua bangsa yang menelusuri jejak langkah hidup Indonesia dan
dunia untuk dapat dipotret dan disaksikan dalam sebuah rumah kaca. Kekuatan
semangat, karakter tokoh-tokoh fiktif ciptaannya serta keakuratan data
dokumentasi yang selalu terasa dalam hampir seluruh tulisan racikannya, terus
mengalir ke urat nadi lalu menusuk ruang bathin orang yang membacanya.
Mereka yang membacanya menjadi lebih sadar dari sebelumnya.
Sadar bagaimana bahasa mereka, bagaimana negara mereka, bagaimana kepedulian
kemanusiaan mereka, dan bagaimana nasib orang kebanyakan yang telah mengisi
lintasan panjang ruas jalan sejarah Indonesia. Pram dengan karya artikel,
puisi, cerpen maupun novel telah mengantarkannya untuk disejajarkan dengan
sastrawan dunia sekaliber Gunter Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Satre
(Perancis), Multatuli (Belanda), Jhon Steinbeck (Amerika Serikat), Rabindranath
Tagore (India), Gao Xinjian (China), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), maupun Jose
Saramago (Portugis).
Panitia Peringatan Seribu Malam Kepergian Pram pada 1-7
Februari 2009 menuliskan, hingga tahun itu buku-buku Pram sudah diterjemahkan
dalam 42 bahasa, bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda. Bukunya menjadi bacaan
wajib bagi siswa sekolah. Sebagai bahan penguat dari yang penulis sebutkan
sebelumnya, seingat penulis tulisan Taufik Ismail dengan tajuk "Membanding
Pengajaran Sastra dan Mengarang dari Negara-Negara lain (Kasus SMP dan SMA
College Melayu Kuala Lumpur, Perak, Malaysia, 1974-1980)" menjelaskan
kepada pembacanya, walaupun Pram saat itu sedang menjalani hukuman di Pulau
Buru hingga tahun 1979, pikiran dan tulisannya tetap mengalir, menyeberangi
selat Malaka yakni Malaysia. Kenapa bisa? Sebab lewat tulisan Taufik Ismail ini
kita dapatkan keterangan, di Malaysia pada tahun 1974 hingga 1980, buku
Pram"Kelurga Gerilya" satu dari enam bacaan wajib dituntaskan siswa
SMP dan SMA di Malaysia.
Sekarang, aliran semangat dan kekuatan tulisan Pram terus
diproduksi ulang. Lentera Dipantara, satu penerbit yang di nakhodai anak
sulungnya Astuti Ananta Toer dengan giat dan nyinyir menerbitkan ulang
tulisan-tulisan Pram. Hampir keseluruhan buku-buku Pram pernah terbit dan
hilang dari peredaran dimasa lalunya dapat dinikmati secara kaffah (bulat dan
utuh) oleh siapa saja. Kalau boleh meminjam ungkapan Happy Salma,
artis-pengaggum Pram sekaligus ikut sumbangkan tulisan dalam bunga rampai 1000
Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (Lentera Dipantara, Jakarta 2009). Katanya
untuk mengenang kepergian Pram "Patah Tak Tumbuh Lagi dan Hilang Belum
Berganti".
Ungkapan ini seakan menawarkan tanya pada diri, kitakah
orangnya yang akan tumbuh, setelah Pram patah dijemput Ilahi? Bisa pula
bermakna, kitakah orang yang ditemukan sebagai pengganti, setelah bumi kehilangan
Pram?
Saat ini, sungguh kaya kita dengan jumlah sastrawan. Sebut
saja nama Taufik Ismail, Arswendo Atmowiloto, Pipiet Senja-Taufik Rahzein,
Gunawan Muhammad, Wisran Hadi, Rosihan Anwar. Nama-nama yang lebih lama
setingkat, berprosesnya menulis-berkarya, bila dibandingkan dengan nama lainnya
seperti Habiburahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia,
Golagong, Kurnia Effendi, Andre Aksana, Dewi Utami, Ahmadun Yosi Erfanda, masih
banyak lagi nama lainnya.
Saya bukan sastrawan apalagi pengkritik sastra. Keduanya
jauh dari diri saya. Lewat tulisan sederhana ini izinkan saya pakai sepotong
hak saya untuk berujar lewat kata-kata tentang ke-mengaliran Pram di ranah
sastra Indonesia. Banyak sisi yang dialirkan Pram. Pram alirkan keperdulian
atas apa yang dirasakan oleh kita sebagai rakyat, yang selayaknya menerima
perlakuan beradab dari negara dan penguasanya. Pram alirkan kenyataan, juga
alirkan hidup dan Pram terus alirkan Indonesia serta mengalirkan data-fakta
yang digali dari bacaan berharga.
Pram pergi, tetapi kita belum lupa dan mudah-mudahan tak
pernah lupa bagaimana perlakuan yang didapatkan saudara kita yang harus pasrah
pada lumpur Lapindo-Sidoarjo. Lumpur menenggelamkan nasib mereka ke dalam perut
bumi sedalam-dalamnya. Nasib mereka tak menentu seperti kata, yang berlalu
hilang ketika dikeluarkan dari lisan dibawa angin usil. Siapa sastrawan yang
mau menuliskan tentang mereka? Berapa banyak jumlah sastrawan, yang tumbuh
menggantikan Pram dan siapa pula menemukan sesuatu yang hilang?
Semoga sastrawan-sastrawan merupakan kekayaan peradaban
kita, mau dan sempat untuk semprotkan pikiran dan rasanya, mengangkat apa saja
yang mereka alami serta yang mereka cita-citakan, yaitu kelayakan untuk hidup.
Hidup layak sebagai hak manusia yang menumpang di bumi ini. Disini, ditulisan
ini, tak ada maksud untuk mengkultuskan atau memuji berlebihan akan kepenulisan
Pram. Jikapun terjadi itu hanyalah dosa emosional saya saja.
Harapannya, agar tulisan-tulisan sastrawan itu dapat menjadi
jembatan pertemuan antara yang dirasa dan yang dicita-citakan. Tulisan-tulisan
dan karya Pram dapatlah diambil sebagai satu dari ribuan contoh kepedulian itu.
Sebagai sastrawan, makhluk ini akan abadi sampai jauh, lewat pikran-pikiran
yang telah dia tuliskan.
Enam tahun Pram telah terbang jauh kealam abadi. Tulisannya
pun tak kalah abadinya mengalir abadi di Bumi Manusia yang telah ia tinggalkan.
Do’a kami untukmu Pram.
Penulis; Penikmat Sastra dan Sejarah asal Medan, tinggal di
Bukittinggi.
ULASAN FAM INDONESIA:
Ini untuk pertama kalinya FAM Indonesia menerima kiriman
tulisan berbentuk esai dari seorang calon anggota FAM Indonesia dari kota Jam
Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat. Esai itu berjudul “Delapan Puluh Tujuh
Tahun Pramoedya Ananta Toer 6 Feb 1925-2012: Menoleh Sejenak Kepenulisan
Pramoedya Ananta Toer”.
Esai ini kami anggap menarik karena mengulas tentang sosok
Pram yang fenomenal, sastrawan Indonesia dengan segala macam pro-kontra yang diberikan
khalayak pembaca Indonesia kepadanya. Pram yang sangat produktif melahirkan
banyak karya sastra, dan ia pun disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan kelas
dunia.
Arbi Syafri Tanjung membuka esainya di paragraf pertama dengan
kalimat menarik bergaya “feature”. Kita simak berikut ini:
Jasad dan raganya
telah menyatu dengan tanah dan bumi tempat dia bersuara, berjuang dan bertahan,
sekaligus negara tumpah darah yang selalu dia percikan cinta padanya, yaitu
Indonesia. Lima tahun lalu, Minggu 30 April 2006 ketika sebagian anak kecil dikota
besar dan pelosok mengisi waktu liburnya dengan mempelototi program kartun
Doraemon atau kartun lainnya. Jam dinding menunjukkan pukul 08.55 WIB, ruang
bathin orang sekelilingnya terusik dan terhenyak. Mungkin juga ruang bathin
Indonesia, karena pagi itu Pramoedya Ananta Toer yang lebih sering disapa Pram,
sastrawan Tierra Humana atau sastrawan Bumi Manusia menghembuskan nafas
terakhirnya, pergi meninggalkan Bumi Manusia yang dia huni.
Banyak pengertian apa itu Feature. Tetapi secara umum Feature
adalah cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu
situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberi informasi
dan sekaligus menghibur khalayak media massa. Secara sederhana, feature adalah cerita atau karangan khas
yang berpijak pada fakta dan data yang di peroleh melalui proses jurnalistik.
Di paragraf-paragraf berikutnya, esai Arbi Syafri Tanjung
mengalir dan banyak menimbulkan sentuhan-sentuhan tentang keteladanan sosok
Pram. Misalnya seperti kutipan berikut yang bercerita tentang semangat Pram
menulis:
Menulis sama dengan
mencatatkan hidup. Pram telah catatkan hidupnya, Pram telah catatkan tempatnya,
Pram juga telah catatkan manusia-manusia lengkap dengan segala peristiwa yang
dialaminya dan saling beriringan mengisi bumi yang sama dengannya. Baik itu
sukunya, rasnya, agamanya, apalagi nasib untung-malang yang tak pernah mau dan
bisa mereka pisahkan dari diri mereka. (alinea ke-4)
Ya, menulis sama dengan mencatatkan hidup. Apa yang terjadi
di dalam kehidupan kita, sebenarnya adalah sumber-sumber ide yang sangat luar
biasa; modal terdekat untuk berkarya. Bagi penulis pemula, sebelum menuliskan
tentang diri orang lain, dianjurkan untuk bercermin pada diri sendiri, apa yang
bisa dituliskan dari perjalanan hidup kita selama ini. Pram sudah membuktikan
itu. Apa yang dialami Pram, baik sejak awal mula ia menulis hingga diasingkan
di Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol) lalu dapat menghirup udara bebas
kembali, ia tuliskan menjadi cerita-cerita indah dalam novel-novelnya yang
telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia itu.
Pram sendiri telah menulis sejak dini. Seperti dikatakan Arbi
Syafri Tanjung dalam alinea ke-5 esainya berikut ini:
…rutinitas catat dan
tulis mulai dia lakonkan sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) pada tahun
1935. Tulisan-tulisan semasa SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada
penerbit Tan Koen Swie, Kediri, tapi ditolak…
Penulis-penulis hebat hari ini yang besar dengan
karya-karyanya, mereka bukanlah produk karbitan, instan, tetapi semua yang
mereka dapatkan telah melalui proses panjang yang berliku. Itulah yang dialami
Pram, sehingga ketika ia pergi, Indonesia, bahkan dunia, merasa kehilangan
dirinya.
Esai tentang Pram yang ditulis Arbi Syafri Tanjung ini
menjadi rujukan bagi penulis-penulis pemula tentang sosok tokoh sastrawan
Indonesia yang dicatat sejarah sepanjang masa meski jasadnya telah berkalang
tanah. Pram telah memahatkan namanya dengan tinta emas di kanvas peradaban
dunia bahwa dengan menulis hidup seseorang akan lebih berarti walaupun ia telah
mati.
Esai ini sangat baik sekali gaya penulisannya. Mengalir.
Menyentuh. Walau ada beberapa diksi yang mungkin salah ketik oleh penulisnya.
Misalnya beberapa kata di bawah ini.
…dikota, seharusnya ditulis “di kota”
…keperistirahatan, seharusnya ditulis ke peristirahatan
…hutang, seharusnya utang
…Dengan, seharusnya “dengan” (huruf d kecil, karena kata
penghubung)
…Taufik Ismail, seharusnya “Taufiq Ismail” (dengan huruf q)
…pengaggum, seharusnya “pengagum”
…kealam, seharusnya “ke alam”
FAM Indonesia menyimpulkan bahwa Arbi Syafri Tanjung adalah
penulis muda berbakat Indonesia hari ini. Kelak ia akan dapat menjadi seorang esais
atau kritikus sastra ketika Indonesia hari ini telah kehilangan sosok kritikus
HB Jassin, Paus Sastra Indonesia. Dan, tentu semua itu tidak mustahil bila Arbi
Syafri Tanjung terus belajar, membaca sebanyak mungkin buku sastra, dan selalu
meluangkan waktu untuk tetap menulis.
Sukses buat Arbi Syafri Tanjung.
Salam aishiteru.
FAM INDONESIA
Bentuk segera cabang FAM Indonesia di kotamu. Add facebook FAM Indonesia: "AISHITERU MENULIS". Ikuti diskusi kepenulisan bersama Tim FAM Indonesia di Grup FB "FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA". Bergabung menjadi anggota Hubungi Sekjen FAM Aliya Nurlela, Hp: 0812 5982 1511.
ReplyDelete